6

Guru, nasibmu kini. (+3)

Agus Firman April 25, 2012

Dalam seminar pendidikan bertajuk ”Menggugat Praksis Pendidikan, Bagaimana?” tanggal 23 April lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Moh. Nuh, seperti dilansir KOMPAS (http://edukasi.kompas.com/read/2012/04/24/0356001/Perbaikan.Kompetensi.Guru.Jadi.Prioritas) mengatakan, bahwa untuk meningkatkan kualitas guru, salah satunya adalah dengan meningkatkan kesejahteraan guru. Sayangnya berita tersebut tidak menyebutkan bagaimana rencana pemerintah untuk melaksanakan hal tersebut, karena yang kemudian menjadi bahasan adalah perbaikan dalam pola perekrutan, pendidikan, dan pelatihan guru.

Namun, niat baik tersebut setidaknya menjadi sebuah harapan baru bagi para pendidik, terutama para GTT (Guru Tidak Tetap) yang mengandalkan gajinya dari alokasi dana BOS. Tentu saja ini adalah harapan besar, bagaimana tidak, melihat kondisi kesejahteraan guru yang memperihatinkan saat ini. Tidak perlu naif dengan mengatakan bahwa guru saat ini orientasinya uang, tak lagi pantas disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Dengan besarnya tanggung jawab yang mereka pegang, nasib guru di negeri ini seolah jarang sekali menjadi perhatian. Padahal di pundak mereka, tersimpan jutaan impian dari anak anak bangsa penerus pembangunan negeri ini. Yah, meski tak jarang juga kita mendapati beberapa oknum guru yang berlaku tak pantas bahkan amoral, seperti yang hangat diberitakan sekarang sekarang ini. Padahal, guru yang berbakti dengan sepenuh hati, jumlahnya jauh lebih banyak, namun mereka jarang sekali menjadi sorotan, entah karena dianggap hal yang biasa, tak layak diberitakan, atau karena mata kita lebih terbiasa menikmati hal negatif.

Pandangan masyarakat pada sosok guru saat ini memang sudah berbeda dengan waktu dulu, di mana dulu guru lebih dihormati dan diakui. Namun, terlepas semua itu, guru tetaplah sosok yang patut mendapat perhatian, terutama dalam kesejahteraannya. Seperti disampaikan di atas, bahwa guru di negeri ini kurang mendapat perhatian. Kita tak perlu jauh jauh membandingkan, pada tahun 2010, seperti dilansir KOMPAS, pada (http://edukasi.kompas.com/read/2010/04/28/11503066/Uh..Gaji.Guru.Mula.di.Malaysia.Rp.5.Juta)
di Malaysia, guru Mula (guru muda lulusan D3) mendapat gaji sekitar 1.745 RM atau sekitar Rp. 4.941.222,33 per bulan, sementara di negeri ini, masih ada guru lulusan S1 yang harus cukup dengan gaji Rp. 150.000 per bulan.

Naiknya anggaran dana Bantuan Operasional Sekolah pada tahun ini rupanya tidak banyak berpengaruh pada kesejahteraan mereka. Terlebih dengan adanya aturan dalam penggunaan dan BOS yang menyebutkan bahwa sekolah tidak boleh menggunakan dana BOS lebih dari 20% untuk belanja pegawai (membayar honor pegawai non PNS). Kebijakan yang sungguh tidak bijak. Pemerintah mungkin lalai untuk melihat kondisi sekolah sekolah yang berada di pedalaman, di mana gurunya di dominasi oleh guru non-PNS.

Memprihatinkan memang, saat pemerintah mengharapkan mutu pendidikan terus meningkat, melalui berbagai program, termasuk Ujian Nasional yang tengah diselenggarakan saat ini, di sisi lain objek yang dijadikan tumpuannya harus hidup dalam ketidakpastian. Harapan saya, semoga mereka diberi kekuatan untuk tetap menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan baik. Aamiin.
 

Comments (6)

  1. Fakta guru di Indonesia:
    1. ada sembilan status guru
    2. ada diskriminasi atas status itu(yang boleh sertifikasi hanya PNS dan GTY)
    3. belum ada pemetaan tenaga kependidikan(Kompas,5/3/2012)

    Nah, inilah, betapa tidak jelasnya kerja birokrat kita!:D Salam!

  2. @agusfirman:
    1. PNS
    2.PNS Kementrian Agama
    3. PNS diperbantukan
    4.Guru Bantu
    5. Guru Honorer Daerah
    6. Guru Tidak Tetap
    7. guru Tetap Yayasan
    8.Honor di Sekolah Negeri
    9. SM3T( Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal)Kompas/5/3/2012)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar