0

Guru yang Menuntun Motornya (0)

AfanZulkarnain February 21, 2021

Seorang guru menuntun motor vario putih karena ban depannya bocor, dengan sisa tenaga setelah seharian mengajar dan melatih ekstra teater di sekolah. Keringat deras cukup membasahi seragam olahraga barunya. Sesekali ia berhenti sambil mengusap peluh. Tak lupa ia teguk air mineral dari botol plastik yang ia beli dari sebuah warung. Haus dan lelah bercampur menjadi satu. Sekujur tubuhnya telah pegal. Entah sudah berapa jarak yang ia tempuh untuk menuntun motornya itu.

Beruntung cuaca siang itu cukup sejuk. Matahari cukup mengerti kondisi guru tersebut. Ia sedikit bersembunyi di balik awan. Menyembunyikan sinarnya yang cukup terik.

Beberapa kali, sang guru istirahat di bawah rimbunan pohon kismis. Di bawahnya, lima orang anak perempuan tengah asyik bermain masak-masakan. Ada yang tengah mengiris rerumputan dengan pisau plastik, ada yang menggoreng sesuatu di atas tungku yang dibuat dari susunan batu-bata. Wajan penggorengannya sungguh mungil, jug a terbuat dari plastik. Sementara yang lain berperan sebagai pembeli. Sang guru mencuri dengar sambil sedikit melengkungkan senyuman. Sungguh asyik mereka bermain peran. Pemandangan yang sedikit menghiburnya yang tengah kelelahan.

Sesekali ia melirik jam pada ponselnya sembari berfikir bagaimana ia bisa tiba di tempat selanjutnya tepat waktu. Tak lupa ia terus berharap agar segera menemukan bengkel yang dapat menambal bannya.

Pada sebuah jalan, ia melewati kerumunan pemuda yang tengah bersenda gurau. Tiba-tiba, satu di antara mereka menyapa.

“Mas…”

Guru tersebut menoleh dan mencoba mengingat sosok pemuda tersebut.

“Masih ingat dengan saya?” Pemuda itu menyebutkan satu nama.

Sang guru lantas mengingat, bahwa pemuda itu adalah murid lesnya dulu empat tahun yang lalu. Si pemuda rupanya menerka apa yang dialami gurunya. Setelah berpamitan dengan teman-temannya, ia mengambil alih stang dan menuntun motor milik guru tersebut. Meski sempat ditolak secara halus, pemuda tersebut tetap bersikukuh. Ia mendorong motor sambil bercerita tentang berbagai pengalamannya menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi.

Mereka juga berdiskusi tentang berbagai rumus kalkulus yang ternyata ada dalam mata kuliah si pemuda. Tak lupa bernostalgia bahwa mereka pernah belajar bersama di lantai dua rumah si pemuda. Sesekali perbincangan itu diwarnai canda tawa.

Hingga akhirnya mereka berhenti di sebuah bengkel. Si pemuda mencium tangan sang guru seraya berpamitan. Ia lalu berlari kembali menuju tempat dimana ia berkumpul dengan teman-temannya.

Sang guru mencoba menghentikan seraya menjanjikan akan mengantar jika motornya selesai diperbaiki. Namun si pemuda dengan halus menolak. Ia terus berlari. Sang guru hanya bisa melihat punggung pemuda itu. Makin menjauh. Menjauh. Hingga menghilang di ujung persimpangan jalan.

Sebuah do’a pun terlantun untuk sang pemuda agar senantiasa diberikan kemudahan dalam segala urusannya.

***

Guru tersebut adalah diriku, kawan. Peristiwa ini berlangsung sekitar tahun 2018 silam. Alhamdulillah, lewat instagram aku tahu kondisi pemuda itu sekarang. Ia menjadi seorang polisi. Profesi yang ia cita-citakan sejak lama. Sukses terus untukmu, Naufal.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar