6

Guru yang Berperan sebagai Guru (0)

AfanZulkarnain January 5, 2021

Tulisan ke-6 Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

25 November 2018. Tidak akan aku lupa hari itu. Semua memori tentang peristiwa yang terjadi sangat terekam jelas diingatanku.

Saat itu aku masih mengajar di sebuah SMP Katolik di Kabupaten Banyuwangi. Setiap tahun selalu diadakan peringatan hari guru di sana. Kegiatannya selalu berubah-ubah. Tahun itu, ada upacara yang petugasnya adalah bapak ibu guru dilanjutkan penampilan anak-anak dalam sebuah pentas seni.

Salah satu penampil adalah ekstrakurikuler yang aku latih, teater. Kami menampilkan dua naskah. Yang pertama berupa operet dan yang kedua berupa pertunjukkan minikata. Keduanya ditampilkan secara berurutan.

Sebulan sebelum hari-H, aku ajak mereka berdiskusi mengenai pertunjukkan ini. Seorang siswa mengajukan ide cerita yang luar biasa, mengenai seorang siswa yang meraih kesuksesan setelah mendapat motivasi dari guru. Namun ada juga yang mengusulkan ide lain. Tentang guru yang menjembatani siswa-siswinya meraih impian. Sempat terjadi perdebatan. Akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan kedua konsep tersebut.

Kami akan menampilkan dua pertunjukkan secara berurutan.

Prisca, siswi kelas IX memberi masukan, agar seluruh penampil berasal dari kelas VII dan VIII. Menurutnya, teater perlu regenerasi. Aku setuju dengan masukannya. Kami pun melakukan casting dan memutuskan semua anggota teater kelas VII dan VIII diikutkan.

Setelah naskah jadi, kami pun melakukan rekaman. Aku menyadari bahwa siswaku belum bisa tampil secara langsung di atas panggung. Vokal mereka belum terasah. Ingin menggunakan alat pengeras suara, namun peralatan kami terbatas. Lip sinc pun menjadi pilihan.

Kami melakukan proses record di sekolah. Menggunakan aplikasi perekam suara pada smartphone. Hasil rekaman tersebut aku bawa ke studio siaran. Alhamdulillah, lama di dunia broadcast membuatku sedikit mahir dalan editing dan mixing audio. Aku beri bumbu-bumbu musik agar rekaman terlihat menarik. Membutuhkan waktu 4 jam untuk menyelesaikannya.

Pada pertemuan ekstra teater berikutnya, aku mengajak anak-anak untuk sama-sama mendengarkan hasil rekaman itu sembari membaca naskah pertunjukkan. Tak lupa aku juga memberikan arahan gaya kepada mereka. Setelah itu, kami pun mulai berlatih. Membutuhkan kesabaran ekstra dalam melatih anak-anak SMP. Tapi aku bangga dan senang, karena mereka sangat antusias untuk memberikan penampilan yang terbaik.

Dua hari menjelang pertunjukkan, salah satu pemeran utama, Bryan, mengajukan izin tidak dapat mengikuti latihan karena akan fokus menghadapi olimpiade bahasa inggris yang akan diselenggarakan sehari setelah pertunjukkan. Bryan ini adalah siswa yang aku ceritakan pada artikel sebelumnya, kawan.

Bryan sempat curhat bahwa ia kesulitan mengatur konsentrasi antara teater ataukah ikut lomba meski ia mengaku sangat suka keduanya. Aku juga sempat konsultasi dengan pembina olimpiade bahasa inggris dan akhirnya aku memutuskan untuk mengizinkan Bryan fokus pada lomba. menurutku, lomba lebih urgent karena membawa nama baik sekolah dalam kompetisi.

Dalam pertunjukkan ini, Bryan berperan sebagai guru. Aku sempat memilih beberapa anak untuk menggantikannya, tapi tak ada yang cocok. Menurutku, Bryan adalah salah satu anak teater yang memiliki karakter kuat. Tak tergantikan. Selain itu, aku juga berpikir, sangat tidak masuk akal bila meminta siswa lain menggantikan posisi Bryan di waktu yang amat mepet. Aku sempat pusing mengenai hal itu.

Semalam sebelum pertunjukkan, muncul ide gila. Bagaimana kalau aku saja yang menggantikan Bryan?

Bukankah sangat menarik, di peringatan hari guru, ada seorang guru yang turut bergabung di pertunjukkan seni?

Lewat grup WA aku menyampikan hal itu kepada anak-anak. Mereka sangat setuju dengan ideku. Aku pun melakukan langkah cepat dengan mengganti semua suara Bryan dengan suaraku.

Begitulah, di peringatan hari guru, aku berperan sebagai seorang guru. Entahlah, ada perasaan senang dan haru saat turut bermain peran dengan mereka.

Teruntuk mereka yang sekarang sudah menginjak bangku SMA, terima kasih telah memberi warna pada perjalananku sebagai seorang guru.

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar