18

Guru Pembunuh? Adaaaaaa………..! (+4)

Botaksakti January 30, 2014

Hujan turun begitu deras. Sulit rasanya menghitung jumlah butiran yang berjatuhan. Sesekali, langit begitu terang oleh kilatan cahaya kebesaran.

“Salamualaikumm………!”, terdengar suara kecil dari depan rumah.

Bergegas saya membukakan pintu. Memang, setiap magrib tiba, tiba pula saatnya pintu rumah kami tertutup rapat. Itu memang kebiasaan yang diturunkan oleh orang tua saya sejak dulu.

“Hah……datang juga, Van? Hujan-hujan begini?”

Ternyata Ivan yang datang. Anak laki-laki kelas 4 SD itu sudah berdiri di depan pintu sambil memeluk tas sekolahnya. Payungnya tergeletak di teras rumah.

Anak ini memang luar biasa. Paling tidak semangatnya, selalu menyala-nyala. Bahkan ketika Timnas sepakbola kita menderita kekalahan beruntun, ia dengan semangat selalu memakai jersey Timnas. paling tidak, itu yang terjadi setiap ia datang ke rumah untuk belajar maupun ketika saya tak sengaja bertemu dengannya di jalan.

“Loh, kok ada yang salah?”. tanya saya. Itu terjadi ketika saya memebuka-buka LKS yang dibawanya, “Bukankah ini sudah kita pelajari kemarin?”

“Iya, sih!”, jawab Ivan .

“Lah, ini kenapa isinya seperti ini? Bukankah kemarin itu kamu sendiri yang menemukan jawabannya?”

“Ya, bukan begitu. Saya sih ingat jawabannya. Hanya, kalau saya isi seperti kemarin, nanti betul semua!”

“Memang kenapa kalau betul semua?”

“Pak Gurunya nanti tahu kalau ini sudah dikerjakan lebih dulu!”

“Lah, memang yang benar itu harus dipelajari lebih dulu. Dengan begitu, ketika nanti dipelajari dikelas, kamu sudah bisa lebih paham!”

“Tapi nanti dikira nyontek sama Pak Guru!”

Hemmm……saya tercenung. Kok begitu, ya? Apakah sedemikian mudahnya seorang guru menuduh muridnya menyontek hanya karena jawaban si anak betul semua?

Logika pendek saya, semestinya guru senang bila muridnya mempelajari lebih dulu sebuah materi sebelum sang guru menyampaikannya. Dengan begitu, ketika guru menyampaikan itu di kelas, maka akan lebih banyak ruang dan waktu untuk memperdalam sebuah materi. Paling tidak, guru bisa berharap siswa akan lebih bisa merespon penjelasan guru.

Ketika murid mempelajari lebih dulu sebuah materi, dan ternyata memiliki pemahaman yang agak berbeda dengan gurunya, bukankan ini sebuah peluang untuk mengajarkan mereka berdiskusi? Dan bukankah ini sebenarnya yang diharapkan dalam pendidikan? Atau jangan-jangan……entahlah……….saya kok tiba-tiba merinding. Barangkali benar, guru pembunuh memang ada. Pembunuh ‘kecintaan belajar!

Comments (18)

  1. tapi benar saja, saya pernah bertanya sama murid les saya, kenapa tidak boleh ditulis bukunya (pada saat materinya belum diajarkan). Ia menjawab sangat mudahnya, takut dimarahi guru, “tidak boleh belajar mendahului teman”. Kalau memang ia mampu kenapa tidak boleh mendahului?

  2. Hujan turun begitu deras. Sulit rasanya menghitung jumlah butiran yang berjatuhan.
    **************************
    rumus DEBIT kayaknya pas buat masalah ini

    ****************
    hafalan-hafalan ….. siswa dilarang menghafal dulu sebelum guru memerintah …. LKS dilarang mengerjakan dulu sebelum guru memerintah. KENAPA?
    karena guru ingin siswa mengerjakan di kelas, sehingga guru tinggal duduk (ngelamun, tidur, merokok, ngerasaNi, dll) sambil nunggu 2 jampel siswa mengerjakan tugas heeeeeeeee …….
    mudah2an tidak ada yang seperti ini di negeri yang namanya INDONESIA RAYA

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar