7

Guru Patut Belajar Dari Seekor Kupu-kupu (+4)

Muhammad Qoimussadad November 5, 2013

Suatu hari seorang anak laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong, eh ternyata di dalamnya ada kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong. Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian si anak laki-laki tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah. Akhirnya si anak laki-laki tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa segera keluar dr sana. Alangkah senang dan leganya si anak laki laki tersebut.Tetapi apa yang terjadi? Si kupu-kupu memang bisa keluar dari sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa sebabnya?

Ternyata bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap.

Itulah potret singkat tentang pembentukan karakter, akan terasa jelas dengan memahami contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali orangtua dan guru lupa akan hal ini. Bisa saja mereka tidak mau repot, atau kasihan pada anak. Kadangkala Good Intention atau niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandulkan kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru menjadi kuat dan berkarakter.

Karakter tidak dapat dibentuk dengan cara mudah dan murah. Dengan mengalami ujian dan penderitaan jiwa karakter dikuatkan, visi dijernihkan, dan sukses diraih ~ Helen Keller

 

diambil dari: http://www.pendidikankarakter.com

Comments (7)

  1. Artikel yang luar biasa pak Qoim. Super sekali. Saya sependapat dengan bapak. Memang guru patut belajar dari seekor kupu-kupu. Mari kita berikan kesempatan kepada anak-anak didik kita untuk berfikir, berkreativitas, berkarya dan berjuang sesuai dengan kemampuannya masing-masing untuk menjadi anak manusia yang cerdas, berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur.

    Salam hormat saya kepada pak Qoim.

  2. Terimakasih Pak Sukani, kalau kita amati sistem pendidikan kita berbeda jauh dengan yang ada di negara maju, di sana sangat menghargai daya berfikir anak. Orangtua juga patut mengerti hal itu, kalau di sini kan terkesan ada target dan orangtua masih merasa malu kalau anaknya tidak naik kelas. coba kita renungkan bersama!

  3. Iya benar pak Qoim. Menurut saya “Target” itu penting sehingga dapat menjadi motivasi tersendiri dan jelas kemana arah yang akan dicapai / tujuannya. Dalam manajemen itu penting, termasuk dalam hal membentuk karakter anak. Yang jadi permasalahannya adalah prosesnya pak yang sering tidak diperhatikan dan lebih mendahulukan jalan pintas. he..he..he..

  4. Terimakasih Pak Rochimuddin atas kunjungan dan komentarnya. Realitanya masih banyak sekolah yang menerima siswa melalui tes dan sebagainya meskipun di beberapa tempat termasuk kota tempat tinggal saya adalah sebagai pilot project sekolah inklusi, sekolah umum yang juga menampung anak-anak berkebutuhan khusus, filosofinya adalah “seperti beras yang menjadi putih karena bercampur (gesekan) antara butir padi satu dengan lainnya”

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar