2

“Guru memang harusnya begitu, bro” (0)

AfanZulkarnain February 17, 2021

Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 2018.

Saat itu aku adalah seorang guru di sebuah SMP swasta. Sekolah tempatku mengajar amat terkenal dengan kedisiplinannya. Ada banyak tata tertib yang harus dipatuhi siswa. Salah satunya adalah aturan tentang rambut. Siswa laki-laki tak boleh memiliki rambut yang panjang, harus rapi, dan tidak boleh diwarna. Karena hal itulah yang membuatku harus memberi contoh yang baik. Aku sangat berupaya menjaga agar rambutku selalu rapi. Bila agak panjang sedikit saja, aku langsung ke salon untuk memangkasnya.

Selain menjadi guru, aku juga berprofesi sebagai penyiar. Pekerjaan itulah yang membuat namaku cukup terkenal. Aku kerap diundang kemana-mana untuk dimintai tolong menjadi pembawa acara. Dari acara gathering suatu perusahaan hingga festival band. Tentu aku akan mengambil pekerjaan di luar jam mengajar.

Suatu ketika aku menerima sebuah pesan di facebook. Seorang teman yang bekerja di sebuah event organizer. Ia menawariku menjadi host sebuah acara di sebuah tempat hiburan.

“aku rasa dirimu tepat jadi host acara ini, bro. Makanya aku hubungi kamu”

Begitu katanya sembari menyebutkan sebuah nominal yang menggiurkan sebagai honornya. Honor yang luar biasa dibanding dengan penghasilanku sebagai guru.

jujur, waktu itu, penghasilan utamaku bukan dari menjadi guru, melainkan dari profesi sebagai penyiar dan pembawa acara. Terlebih statusku sebagai guru honorer yang perhitungan gajinya berdasarkan berapa jam aku mengajar. Tapi aku tak kebertana mengenai hal itu, aku menjadi guru karena ingin memanfaatkan ilmu yang aku dapat dari kuliah. Daripada menguap begitu saja.

Temanku tadi mengajakku untuk bertemu membicarakan konsep acara. Di sebuah food court kami berbincang. Diawali dengan saling menceritakan pengalaman kerja hingga perihal asmara. Setelah beberapa menit berbasa-basi, ia pun menjelaskan project acara yang akan diadakan oleh event organizernya.

“Ini acara bakal seru, bro. Ada DJ yang khusus kita undang dari Jakarta,” begitu katanya sambil menyebutkan nama seorang Disk Jockey perempuan. “Dia mantap, bro. Sexy.”

“Terus, kita juga undang band dari kota sebelah. Konsep lightingnya juga bakal wah. ” Temanku terus bercerita. Aku mendengarkan dengan seksama. Ia juga menjelaskan rundown acara.

Hingga akhirnya ia mengeluarkan dompet dengan menyodoriku sejumlah uang. “Ini buat uang muka, bro. Sisanya nanti setelah acara.”

Aku memandang beberapa lembar uang seratus ribuan di hadapanku. Aku sempa tergiur. Apalagi keuanganku saat itu tengah menipis.

“O,ya bro.” dia melanjutkan. Kali ini dengan ekspresi yang serius. “Tapi penyelenggara minta rambut MCnya harus diwarna, karena kita kerja sama dengan produk cat rambut.”

Mataku terbelalak. Beberapa kali aku menelan ludah. Aku berada dalam kondisi dilematis. Di sisi lain aku ingin menjadi host acara tersebut. Acara ini sangat prestisius. Honornya juga menggiurkan. Tapi di sisi lain, aku harus mengecat rambutku. Aku bisa membayangkan rambutku akan seperti apa. Padahal sehari setelah acara tersebut aku harus mengajar. Tentu rambutku tak bisa kembali normal dalam waktu semalam.

Aku tak bisa membayangkan respon siswaku nanti ketika melihat rambut gurunya berwarna warni.

“Gurunya saja boleh ngecat rambut, apalagi muridnya?” mungkin itu kata mereka.

Aku juga tak bisa membayangkan apabila ada wali murid yang tahu kalau aku memandu acara seperti itu dengan penampilan yang tak mencerminkan seorang guru. Mungkin mereka akan berkata, “Guru kok gitu…”

Aku menghela napas panjang. Mencoba berpikir sebijak mungkin. Aku tak bisa mengorbankan reputasiku sebagai seorang guru hanya demi uang. Aku memahami satu hal, guru bukan hanya bertugas mengajar materi pelajaran, tapi juga memberikan teladan.

“Bro, maaf. Sepertinya aku tak bisa.”

Raut muka temanku burubah masam. Ia bertanya alasanku. Aku pun menjelaskan sejujur-jujurnya. Aku mengaku bahwa aku telah menjadi guru. Ada hal yang tak bisa aku lakukan seperti dulu.

Beruntung, temanku sangat memahami kondisiku. Ada hal yang ia ucapkan dan sampai sekarang masih terngiang di ingatanku, “Guru ya memang harus begitu,bro.”

Kami pun larut dalam berbagai perbincangan hingga larut malam.

Begitulah, aku tak jadi menerima tawaran host acara tersebut. Namun Allah Maha Pemberi Rezeki, beberapa hari kemudian aku mendapat tawaran menjadi MC sebuah acara yang masih ada kaitannya dengan profesiku sebagai seorang guru. Honornya memang tak sebanyak acara yang ditawarkan temanku, tapi aku merasa senang dan nyaman dengan job itu.

Yang pasti tak sampai mengubah warna rambutku hehehe…

Comments (2)

  1. Jadi guru memang begitu, bro. Beban psikis segudang berbanding terbalik dengan pendapatan. Apalagi guru honor. Kostum bersih licin tapi kantong tipis. Namun yakinlah Allah yang memilih orang yg bisa mengemban amanah berat membentuk manusia seutuhnya. Pemerintah mungkin tak mau memilih honorer untuk jadi guru seutuhnya ( pns ) namun siswa siswi yg kalian didik jadi saksi bahwa kalian akan tetap guru SE U TUH nya dalam hati mereka.
    Semangat Bro!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar