5

Guru Matematika Abad 21 Juga Jadi Santri (+5)

Zahratun Nisa May 14, 2015

aaa

Aku ingin menceritakan pengalaman yang baru seumur jagung menjadi guru. Ya, sebagai guru honorer. Awal tahun 2013 aku sudah wisuda sebagai sarjana Matematika. Bingung antara kembali ke kota atau mengabdi ke desa. Aku ingin bertahan di kota, menikmati fasilitas jangkauan internet dan toko buku. Tapi ibuku tetap meminta untuk pulang kembali ke desa. Aku bisa bayangkan jika kembali ke desa, aku tidak dapat berbuat banyak. Mimpiku jadi guru sekaligus menjadi penulis akan kandas di tengah jalan. Di sisi lain, aku mencintai ibu dan juga ingin berbakti setelah sekian lama pergi merantau ke kota Banjarmasin.

Berbagai pertimbangan telah dilakukan, akhirnya aku memilih pulang kembali ke desa. Dengan kenyataan yang akan aku hadapi, tidak meminta uang lagi kepada orangtua. Dimana aku bisa memenuhi kebutuhan aku sendiri sedangkan gaji menjadi guru honorer tidaklah seberapa. Keegoisan begitu melonjak di dalam dada.

Bulan berganti bulan. Aku tidak mengajar dimanapun. Sekolah-sekolah di dekat rumah atau di kecamatan sudah tidak menerima guru honorer. Hingga pada suatu hari, guru aku sewaktu Madrasah Tsanawiyah menawarkan pekerjaan menjadi guru Matematika di sebuah pesantren, pesantren tempat suami beliau bekerja. Kedengarannya menyenangkan. Tapi mengingat tempatnya begitu jauh dan 1 jam lebih dari rumah ke pesantren, aku masih menimbang-nimbang. Aku sudah berjanji untuk tidak meminta uang kepada orangtua. Berangkat dari rumah berarti juga memerlukan uang bensin. Uangnya darimana jika tidak dari orangtua. Limbung sudah aku memikirkan. Lagi-lagi guru aku juga mengabarkan bahwa aku boleh menginap di pesantren dan disediakan kamar khusus pengajar.

Mungkin ini cara Tuhan menjawab do’a yang pernah aku lupakan. Sedikit kembali ke masa lalu. Setamat sekolah dasar, aku ingin sekali menimba ilmu di pesantren. Aku betul-betul iri sekaligus senang melihat santriwati yang berbaju sopan dan berkerudung lebar. Wajah mereka teduh dan menyenangkan. Tapi sayang, sampai setamat Madrasah Aliyah keinginan itu tidak pernah terwujud. Ibu meminta aku membantu kesibukan beliau berjualan dan menjaga adik-adik aku yang masih kecil. Sampai menginjak kuliah pun aku masih suka menulis dan coret-coret di kertas, “Ya Allah, Ijinkan Aku Jadi Santri”.

Almadan

Guru menjadi “santri”. Itu mungkin gambaran yang tepat untuk diriku. Tepatnya awal Mei, ayah mengantar ke Pesantren Al-Madaniyah untuk menjadi seorang guru. Aku merasakan atmosfer menjadi seorang santri yang diantar oleh ayahnya. Kondisi pesantren yang berada di daerah pegunungan terasa sejuk dan menenangkan.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di pesantren, sejak itulah sebuah pengabdian dan pengorbana menjadi guru dimulai. Pesantren yang tak pernah aku datangi. Pesantren yang tak pernah tersirat di hati dan pikiran. Berdamai dengan takdir adalah sebuah cara untuk menggapai bahagia lebih cepat. Kebahagiaan yang tak berbentuk uang dan popularitas.

***

Malam pertama di pesantren. Selepas Isya adalah jadwal makan dan belajar. Saat jadwal makan. Ada santri yang bertugas untuk datang dan mengantarkan makanan untuk para ustadz/ustadzah. Aku terpana sendiri menyaksikan lauk malam itu. Sepiring nasi dan…selemar tipis telor dadar, kalau santri bilang setipis kertas, dan sedikit tumisan kacang. Aku mencoba makan dan menikmati. Seperti yang Rasulullah ajarkan. Makan sederhana dan berhenti sebelum kenyang. Inilah cara mendidik perut manusia, dengan sedikit makanan dan rasa syukur.

Pemandangan unik yang pertama kali aku lihat. Sehabis Isya, bertepatan dengan musim ujian pondok. Santriwati duduk di lapangan beralaskan tikar dan satu lilin kecil. Mereka belajar bersama dengan penuh keheningan dan sesekali bercanda. Bagiku itu pemandangan yang menarik. Aku berpikir mungkin ketika aku dulu jadi santri. Aku juga akan begitu.

Tapi walaupun aku tidak ikut seperti kegiatan santri. Aku masih senang bisa turut sholat berjamaah tepat waktu.

1959634_753889717964092_1781503141_n

Sewaktu kuliah di keguruan, aku sudah belajar berbagai macam cara dan metode menyenangkan dalam mengajar Matematika. Aku pikir sudah waktunya untuk mengembangkan segala metode itu pesantren. Ternyata, jauh dari apa yang aku hayalkan. Santri tidak begitu “menyukai” Matematika.

Santri-santri begitu fasih berbicara bahasa Inggris dan Arab. Hebat dalam hafalan quran dan lainnya. Ketika giliran Matematika disodorkan, mereka tidak terlalu antusias. Pimpinan pondok sudah mewasiatkan untuk mengajar santri secara perlahan. Tidak perlu mengejar target “besar” seperti siswa di sekolah umum. Yang terpenting adalah ajarkan agar mereka bisa dan menyenangi Matematika.

Di pesantren ini juga punya juruan bahasa dan IPA. Jadi, Matematika tetap perlu diajarkan agar santri mudah mengikuti ujian nasional. Kendala sebenarnya adalah pesantren kekurangan guru umum. Hanya ada satu guru Matematika dan itupun tidak cukup untuk mengajar santri dari kelas MTS dan MA. Pimpinan pondok sudah beberapa kali meminta ke guru-guru PNS di sekolah lain agar juga mau membagi waktunya untuk mengajar di pesantren di siang atau sore hari.

***

Saat saya bingung diserbu pertanyaan, “apa gunanya belajar Matematika”. Kalau secara logika sederhana tentulah bermanfaat. Begitu banyak bidang yang berkaitan dengan penggunaan Matematika. Yang sudah kuliah dan paham kegunaannya tentu tidak akan bertanya lebih luas. Memberikan pemahaman kepada santri yang notabenenya mencari “pahala” adalah bukan hal yang mudah. Pernah santri saya bertanya, “ustadzah, jika saya menjadi penjual ikan di pasar, perlukah saya mempelajari integral yang begitu rumit ini untuk berjualan?”.

Saya betul-betul terkejut dengan pertanyaan-pertanyaan cerdas tersebut. Saya hanya menjawab, “mungkin integral tidak kamu gunakan integral itu untuk menjual ikan, tapi jika kamu mau melewati belajar integral ini sampai selesai, mungkin integral akan membawamu mejadi pemilik pasar ikan”.

Dan yang kadang menyakitkan dan membuat aku juga berpikir ketika aku belajar matematika bertahun-tahun, “ustadzah, belajar Matematika apakah mendapat pahala?” Rasanya palu godam sedang memukul kepalaku. Aku dahulu tidak pernah bertanya kepada diri sendiri apakah menjadi guru matematika mendapat pahala.

Mengajar Matematika di sekolah umum, tidak akan aku temukan pertanyakan hal-hal demikian. Tapi di pesantren, santri membuatku membuka sendiri wawasan dan kecerdasan.

Di sudut kamar, aku pernah menangis. Jika aku terus-menerus mengajar Matematika, pahalakah yang juga aku dapat. Mengajar bukan lagi berpikir apakah mendapat gaji tapi sebuah pahala. Pertanyaan buruk itu tidak harus memenuhi lama rongga hatiku. Akhirnya aku sadar, para pendahulu, dan tokoh ilmuwan muslim pun belajar Matematika, seperti Ibnu Al-Khawarizmi.

Aku tidak lagi bersedih. Aku merasa diluaran sana banyak orang yang tidak mau mengajar Matematika, tapi aku diutus Tuhan untuk mengajar. Aku hanya berharap lelah mengajarku menjadi ibadah dan menjadi jalan menuju surga.

***

Setelah bangkit dari pikiran apakah Matematika mempunyai pahala. Aku mengevaluasi, apa sebenarnya yang membuat orang tidak ingin belajar. Kuncinya adalah semangat dan rasa senang. Jawaban itu kudapatkan saat melihat pertunjukkan seni santri di malam minggu. Ada banyak kelihaian dan keahlian yang mereka tampilkan. Aku sadar, kecerdasan begitu banyak ragamnya dan mereka melakukan atas dasar rasa senang. Mengapa aku harus memaksakan kecerdasan akademis kepada santri dengan cara yang tidak menyenangkan. Akhirnya untuk mensiasatinya aku harus memberikan semangat dua kali lipat untuk santri agar mereka senang belajar Matematika.

Khusus untuk santri kelas 3 Madrasah Aliyah, jika di sekolah umum mereka di private pada semester 2, maka aku mengajar mereka selama setahun penuh. Aku mencoba menutupi ketertinggalan mereka. Selama setahun penuh, dimulai jam 9 sampai jam 11 malam, selama 3 malam, aku mengajar santri Matematika. Akhirnya, santri menjadi senang. Selepas Isya, jika aku datang terlambat sedikit saja ke ruang kelas, mereka akan mengutus seseorang untuk menjemputku ke kamar.

Benar saja, semangat adalah nyala yang akan membawa seseorang kepada kesuksesan. Aku lebih banyak memompa semangat santri untuk melihat sisi lain dari sebuah Matematika.

Setelah ujian nasional (UN), akhirnya ada santriku yang mendapat nilai 7 dalam pelajaran Matematika, tanpa ada bantuan oknum atau calo ujian. Mungkin nilai tersebut tidak terlalu membanggkan bagi pengajar lain, tapi bagiku untuk santri yang selama nyantri mendapat pelajaran Matermatika dengan alokasi waktu yang minim merupakan prestasi yang luar biasa.

salim

Satu hal yang juga sangat menyenangkan bagiku adalah ketika santri bernama Abdus Salim  mengatakan, “Ustadzah, saya mau kuliah jurusan Matematika”. Ah…riak-riak di hatiku sangatlah gembira. Santri tidak banyak yang mau kuliah Matematika, mereka lebih memilih kuliah jurusan keagamaan. Santri tersebut sudah kuliah di semester 2. Aku senang luar biasa. Dan ia akan menjadi generasi penerus untuk mengajar di pesantren, agar pesantrennya tidak lagi kekurangan guru Matematika.

Abdus Salim (tengah)Abdus Salim (tengah)

***

Aku menjadi mengerti arti sebuah kebahagiaan, pengorbanan dan pengabdian. Saat orang-orang bertanya mengapa mau mengajar di pesantren atau sekolah swasta. Kenapa tidak mencari sekolah negeri. Aku sangat paham, bahwa para honorer di sekolah negeri lebih diakui ketimbang honorer di sekolah swasta, yang dimaksud adalah untuk keperluan database atau semacamnya. Pikiran-pikiran tersebut tidak pernah terlintas di benakku. Aku hanya ingin mengajar. Jika suatu hari mendapat posisi lebih, Tuhan yang akan mengatur semuanya.

Abad yang begitu modern ini mengajarkan kita untuk lebih peduli pada pendidikan. Setiap tahun ada ribuan sarjana pendidikan, tapi banyak sekolah yang kekurangan guru. Andai kita mau peduli pada kekurangan guru yang ada di sekolah, dan mau mengabdi dan membagikan ilmu yang kita punya, tentulah kekurangan pengajar tidak akan menjadi masalah berlarut-larut.

Lulus kuliah bukan untuk membanggakan gagahnya kita menyandang gelajr sarjana. Tapi ajang uji coba pengabdian untuk menjadi ‘santri” kehidupan.

Mari cerdaskan pendidikan Indonesia dengan berbagi.

 

Zahratun Nisa

Guru Honorer

Pesantren Al Madaniyah, Tabalong-Banjarmasin, Kalimantan Selatan

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

Comments (5)

  1. Vote…Vote…Vote…buat artikel ini!

    Saya menangkap ‘aroma” semangat dan tekad yang kuat dari diri Bu Zahratun Nisa ini. Keinginan utk memenuhi permintaan orang tua sbg tanda bakti patut diacungi jempol. Termotivasinya para siswa belajar matematika seperti Abdus Salim, saya rasa akan jadi Trigger bagi siswa lainnya yang juga akan menyukai matematika di tangan dingin Bu Zahra……! Semangat terus yaa… 🙂

    Salam Kreasi Inovasi Motivasi!

    http://guraru.org/guru-berbagi/senangnya-jadi-guru-inovatif-ajaib/

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar