8

Guru Makan Gaji Buta? (0)

Supadilah S.Si October 23, 2020

Salah satu tema yang ramai dibicarakan di grup media sosial saat pandemi begini adalah tentang guru makan gaji buta.

Sekolah libur, tapi orang tua tetap bayar. Nah, diduga, guru makan gaji buta. Sebab, guru tidak mengajar.

Atau, jika mengajar, tidak full seperti biasanya. Tapi, tetap saja orang tua membayar. Nah, apakah ini adil? Tanya orang tua itu.

Tak repot jika sekolah negeri yang sekolahnya gratis, jadi orang tua tak payah mengatakan guru gaji buta. Nah, masalah muncul di sekolah yang tetap memberlakukan pembayaran SPP.

Ok, kembali ke pertanyaan utama tadi, apa benar guru makan gaji buta?

Jawab saya, tentu ada. Ya, ada guru yang makan gaji buta. Ya namanya manusia. Ada yang bener dan ada yang tidak bener. Begitu pula guru.

Malah ada guru yang pura-pura meninggal hingga tujuh tahun eh dia tetap dapat gaji. Kalau bukan gaji buta apa namanya itu.

Ada guru yang di peniara lantaran melakukan tindak pidana, tapi dia tetap mendapatkan gajinya. Utuh tanpa potongan.

Tapi, tidak semua guru yang makan gaji buta. Saya pastikan, oknum guru.

Sebagaimana profesi lain yang makan gaji buta. Saya yakin ada polisi, ASN, kepala desa, menteri, dan lainnya yang juga makan gaji buta.

Tapi, saya yakin juga, sangat banyak guru yang tidak mau makan gaji buta.

Apa ukuran makan gaji buta?
Menurut saya, seseorang dikatakan makan gaji buta kalau dia tidak bekerja sementara dia tetap menerima gaji. Dia tidak mau bekerja, tapi pengen gajinya utuh.

Nah, para guru pun beragam merespon ujaran makan gaji buta. Ada yang marah, geram, cuek, atau berlinang air mata.

Saya lantas introspeksi. Apakah saya makan gaji buta? Pekerjaan saya di masa pandemi, kadang terasa berat dibanding mengajar tatap muka di kelas. Biasanya, satu mata pelajaran dapat jatah waktu 90 menit.

Entah mau apa di dalam kelas. Mungkin banyak ngobrolnya bisa jadi.

Tapi pas belajar daring begini, bisa-bisa dua jam lamanya. Bukan dua jam mata pelajaran tapi benar-benar dua jam yang 120 menit.

Itu hanya pas pembelajaran. Belum lagi menyiapkan bahan pembelajaran yang tak kalah repot. Nyari materi atau bikin blog atau bikin video pembelajaran atau apalah yang bisa dibuat mengisi kegiatan pembelajaran daring tanpa memberatkan siswa.

Pas penilaian akhir tahun atau PAT begini yang tetap dilaksanakan, menggunakan Google Classroom atau Google Form saja, menginput soalnya saja bisa dua jam lamanya.

Apalagi saya yang matematika tidak bisa langsung menuliskan beberapa simbol matematika. Kudu pakai aplikasi lain atau diubah dulu dalam bentuk gambar.

Ringkasnya, belajar daring bisa lebih berat daripada belajar tatap muka.

Kuota internet untuk mengajar pun tidak sedikit, lho. Satu dua hari pertama belajar di rumah, saya pakai aplikasi zoom. Dengan durasi dua jam, habis 1,5-2 GB. Atau kalau diuangkan sekitar Rp. 35-50 ribu.

Ah, ini hanya curhat. Kalau mau ngasih kuota ya silakan. Hehe…

Di sekolah saya, dan ini hampir sama terjadi di sekolah di bawah naungan JSIT, memberlakukan pemotongan biaya SPP. Semacam ada diskonlah.

Sebuah upaya agar ada saling mengerti antara sekolah dengan orang tua.

Prihatin dengan orang tua yang mampu punya mobil mewah gaya hidup high class tapi urusan pendidikan kok rewel amat.

Tapi, ya sudahlah.

Saya tutup dengan pantun yang didapat dari internet. Hehe…

Beli Celana di Pasar Baru
Terkena paku di segala penjuru
Wahai Corona cepatlah berlalu
Sebab mamaku tak cocok jadi guru

Sudah pasti bukan kangguru
Karena bulunya berwarna merah
Mamaku tak cocok tuk jadi guru
Sebab ngajarnya slalu marah-marah

Ikan Tuna dan ikan Lohan
Bila beradu Si Tuna kalah
Wahai Corona pulanglah ke Wuhan
Kami rindu ibu bapak guru di sekolah

Ikan Tuna masak di panci
Kalau ditutup matang merata
Wahai Corona cepatlah pergi
Mama dah tak sanggup beli kuota

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Mari bersilaturahim :)

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (8)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar