15

“Guru kok nabung?” (+5)

Botaksakti May 29, 2013

945573_4874165417262_1976427890_n

Hari Jumat lalu, saya dan teman-teman guru berkesempatan refreshing ke pantai Pangandaran, Ciamis. Perjalanan selama 10 jam kami tempuh dengan berguncang-guncang dalam sebuah bus. Sepanjang perjalanan itu, suasana penuh canda tawa, bernyanyi-nyanyi dan seolah kami benar-benar lepas dari segala beban. Bagaimana tidak, siswa kami baru saja lulus 100%. Sebuah hasil yang mungkin tidak perlu dibanggakan tetapi cukup disyukuri saja.

Ketika saya mengupload sebuah gambar ke FB saya, seorang siswa bertanya,”Biayanya dari mana, Pak?” Mungkin siswa tersebut meraba-raba, jangan-jangan kami menggunakan uang mereka. Wajar memang, sekolah kami swasta jadi peran siswa sumber keuangan cukup dominan.

“Tabungan. Guru-guru kan menabung!”, jawab saya singkat. Dan memang begitu adanya. Kami sama sekali tidak menggunakan uang yayasan yang notabene dari siswa. Kami menabung setiap bulan. Dan nyatanya, dengan sedikit kesabaran, keinginan kami bisa terpenuhi.

Lewat gerakan menabung yang kami jalankan, kami para guru ingin mencontohkan kepada para siswa bahwa untuk mencapai sebuah keinginan butuh proses dan kerja keras. Kami tidak mau mengambil jalan pintas menggunakan uang dari anak-anak, sekaligus ingin menunjukkan bahwa kita tidak boleh menggantungkan diri kepada orang lain. Dengan kata lain, kami ingin menularkan kemandirian.

“Plesiran” dengan biaya sendiri, nyata-nyata sangat menyenangkan. Kami tidak terbeban apapun. Keindahan suasana maupun pemandangan sepanjang perjalanan bisa kami nikmati dengan sempurna. Kemeriahan dan keakraban antar rekan guru begitu terasa.

Kegiatan seperti ini sepertinya penting. Setelah hampir satu tahun bergulat dengan kegiatan akademis, berdekat-dekat dengan alam, meninkmati pantai, dan khususnya objek wisata Green Canyon-nya Indonesia, sungguh sangat menyegarkan jasmani dan rohani. Penat yang membekap fisik dan otak kami, lenyap begitu saja begitu bertemu dengan keindahan karya Tuhan. Lagi-lagi, keindahan tempat-tempat itu berhasil mengusik kesombongan kami sebagai guru dan kembali menyadarkan bahwa guru bukanlah siapa-siapa. Guru tetaplah makhluk lemah dan kecil. Maka, tak ada gunanya guru ‘sombong’ di depan siswa-siswanya. Mudah-mudahan, ini membuat kami kembali menjadi guru yang sebenar-benarnya guru, yaitu yang penuh kerendahhatian, kesabaran, dan perhatian terhadap orang lain, dalam hal ini siswa-siswa kami.

Dan sebagai oleh-oleh untuk rekan-rekan Guraruers, bersama tulisan ini saya sertakanΒ  sebuah “Pagi Indah di Pangandaran” seperti dalam gambar di atas. Salam!

Comments (15)

  1. Disaat Pak Botaksakti dkk sudah menikmati indahnya alam dengan hasil tabungannya sendiri, saya dan teman2 justru masih ‘berdebat’ ttg dimana lokasi jalan-jalan yang akan dikunjungi yang juga didanai tabungan kami sendiri. Ahhh…jadi pengen buru-buru jalan-jalan juga nih! hehe…! Eh iya, saya sepakat jika kemandirian sedini mungkin harus ditanamkan kepada anak didik kita agar mereka tidak memiliki mental ‘tangan di bawah’. Salut! πŸ™‚

  2. wah..wah…selamat datang di Jawa barat Pak…seru-seru. nanti kalau sudah saya rekomendasikan ke Ujung genteng Sukabumi. hahaha…jadi inget waktu tingkat akhir SMA senang dengan buku ” SAVE or Sorry!!! hahaha ayo nabung duit. dan seterusnya nabung Pahala πŸ™‚

    Pak Taufiq dan Pak Rudy kapan ke Jawa Barat? Mari Liburan. dan Liburan terusss πŸ™‚

  3. wah iya Pak Taufiq..dulu saya sempat realtime guraru Pas ke Ujung genteng bersama anak-anak. karena saya HP-nya belum smart. masih monokrom. jadinya harus membawa Netbook IBM ThinkPad yang jadul.. hahaha tapi seru di Retweet sama Pak Sawali hehehe πŸ™‚

  4. Pak Okky Pak Taufik, saya catat dulu daerah yang dikunjungi dengan biaya sendiri yang penting kontak terus jalan agar koordinasi lancar hehehe .. maklum dari tengah hutan kalo ke daerah lain tu bisa sering nganga

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar