16

GURU JUJUR DIPECAT (+1)

mokhamad subakri January 17, 2014

Guru diPECATkarena JUJUR

S

ebut saja namanya Bapak Ahmad (nama bukan sebenarnya), salah satu teman yang baru saya kenal. Kami berkenalan saat menghadiri acara buka bersama anak yatim. Sejak saat itu kami juga sering bertemu saat sholat di salah satu masjid di kota kami. Beliau sering menjadi imam di masjid besar di kota ini. Suatu malapetaka yang membuka lebar-lebar jalan hingga beliau menjadi lebih baik, salah satunya menjadi imam karena memang suaranya dan bacaannya yang bagus layaknya al-mathrud saat membaca Al-Qur’an.

Sekitar 2 tahun yang lalu beliau aktif menjadi guru wiyata bakti di salah satu sekolah di kota kecil ini. Dengan background agama yang “bagus” beliau bukan hanya memberikan ilmu akademik saja. Tetapi dari segi akhlaq dan ibadah beliau juga menjadi tauladan yang layak di contoh. Tidak seperti kebanyakan guru yang ada sekarang, mereka kecenderungan hanya mengajar seenaknya, maksimal hanya transfer knowladge. Mereka jarang menyentuh siswanya sampai kecerdasan softskill, apalagi spiritual quation. Bagaimana mereka akan menjadi contoh, lha wong mereka sendiri tidak pernah “sholat”, atau bahkan mereka tidak layak menjadi “ing ngarso sung tuladha” bagi siswa-siswinya.


S

aat mengajar di sekolah tersebut, banyak hal yang tidak sesuai dengan kebenaran. Berbagai pembenahan beliau lakukan. Mulai dari terkecil sampai paling besar. Tiba saat malapetaka itu datang. Bertepatan Ujian Akhir Sekolah beliau tidak ikut menjaga di sekolah lain, sehingga mendapat giliran untuk tetap ada di sekolah. Setelah jam mengerjakan usai, anak-anak bergegas pulang. Betapa terkejutnya beliau saat mengetahui LJK (lembar jawaban Komputer) yang dibawa pengawas dan guru di sekolah tersebut tidak langsung disetorkan ke Kantor Dinas. Malah jawaban siswa yang salah dihapus dan diganti oleh guru kelas, pengawas ruang, dan di awasi kepala sekolah. Saat itu juga beliau mengingatkan kepada semua yang ada di ruang itu. Secara garis besar kata-kata beliau sebagaimana berikut,

“Untuk apa susah-susah mendidik mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, melakukan doa bersama orang tua, istighosah, les siang malam kalau ternyata akhirnya kita membetulkan jawaban siswanya.”

S

pontan semua yang ada di ruang tersebut terperanjat. Termasuk kepala sekolah hanya bengong melihat dan mendegarkan kata-kata rekan saya tersebut.

Singkat cerita, keesokan harinya teman saya mendapat surat dari kepala sekolah. Bukan sebuah pujian karena sudah berani mengatakan kejujuran. Namun secarik kertas yang berisi surat pemberhentian.

Demikian sepenggal kejadian dari bermilyar-milyar kejadian yang menunjukkan bahwa kebenaran itu sudah sulit di dapatkan. Kebenaran disepelekan dan diinjak-injak. Pertanyaan yang paling berat adalah “kapan mau maju pendidikan di negeri ini jika pendidiknya seperti itu?”, “Bagaimana jadinya generasi bangsa jika gurunya menanamkan ketidak jujuran?”

Atau anda ingin membaca kisah guru lain. Gimana kalau semua guru seperti pada cerita guru lain ini??!!

 

Guru diPECATkarena JUJUR

S

ebut saja namanya Bapak Ahmad (nama bukan sebenarnya), salah satu teman yang baru saya kenal. Kami berkenalan saat menghadiri acara buka bersama anak yatim. Sejak saat itu kami juga sering bertemu saat sholat di salah satu masjid di kota kami. Beliau sering menjadi imam di masjid besar di kota ini. Suatu malapetaka yang membuka lebar-lebar jalan hingga beliau menjadi lebih baik, salah satunya menjadi imam karena memang suaranya dan bacaannya yang bagus layaknya al-mathrud saat membaca Al-Qur’an.

Sekitar 2 tahun yang lalu beliau aktif menjadi guru wiyata bakti di salah satu sekolah di kota kecil ini. Dengan background agama yang “bagus” beliau bukan hanya memberikan ilmu akademik saja. Tetapi dari segi akhlaq dan ibadah beliau juga menjadi tauladan yang layak di contoh. Tidak seperti kebanyakan guru yang ada sekarang, mereka kecenderungan hanya mengajar seenaknya, maksimal hanya transfer knowladge. Mereka jarang menyentuh siswanya sampai kecerdasan softskill, apalagi spiritual quation. Bagaimana mereka akan menjadi contoh, lha wong mereka sendiri tidak pernah “sholat”, atau bahkan mereka tidak layak menjadi “ing ngarso sung tuladha” bagi siswa-siswinya.

S

aat mengajar di sekolah tersebut, banyak hal yang tidak sesuai dengan kebenaran. Berbagai pembenahan beliau lakukan. Mulai dari terkecil sampai paling besar. Tiba saat malapetaka itu datang. Bertepatan Ujian Akhir Sekolah beliau tidak ikut menjaga di sekolah lain, sehingga mendapat giliran untuk tetap ada di sekolah. Setelah jam mengerjakan usai, anak-anak bergegas pulang. Betapa terkejutnya beliau saat mengetahui LJK (lembar jawaban Komputer) yang dibawa pengawas dan guru di sekolah tersebut tidak langsung disetorkan ke Kantor Dinas. Malah jawaban siswa yang salah dihapus dan diganti oleh guru kelas, pengawas ruang, dan di awasi kepala sekolah. Saat itu juga beliau mengingatkan kepada semua yang ada di ruang itu. Secara garis besar kata-kata beliau sebagaimana berikut,

“Untuk apa susah-susah mendidik mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, melakukan doa bersama orang tua, istighosah, les siang malam kalau ternyata akhirnya kita membetulkan jawaban siswanya.”

S

pontan semua yang ada di ruang tersebut terperanjat. Termasuk kepala sekolah hanya bengong melihat dan mendegarkan kata-kata rekan saya tersebut.

Singkat cerita, keesokan harinya teman saya mendapat surat dari kepala sekolah. Bukan sebuah pujian karena sudah berani mengatakan kejujuran. Namun secarik kertas yang berisi surat pemberhentian.

Demikian sepenggal kejadian dari bermilyar-milyar kejadian yang menunjukkan bahwa kebenaran itu sudah sulit di dapatkan. Kebenaran disepelekan dan diinjak-injak. Pertanyaan yang paling berat adalah “kapan mau maju pendidikan di negeri ini jika pendidiknya seperti itu?”, “Bagaimana jadinya generasi bangsa jika gurunya menanamkan ketidak jujuran?”

Atau anda ingin membaca kisah guru lain. Gimana kalau semua guru seperti pada cerita guru lain ini??!!

Mudah-mudahan juga tulisan ini di baca oleh seluruh guru, terutama kepala sekolah yang pernah member surat kepada tema saya tersebut!

ANIMASI AYO MENDIDIK DINAS TERKAIT

Tagged with:

Comments (16)

  1. Benarkan kejadian itu pak Bakri? Adakah buktinya? Sebuah contoh yang tidak baik di dunia pendidikan dan sangat mencoreng pendidikan di Indonesia. Saya ikut prihatin atas kejadian tersebut. Semoga bapak Ahmad tersebut diberikan kesabaran dan rejeki yang melimpah dimana pun berada. Semoga oknum yang melakukan perbuatan tersebut segera sadar dan bersikap jujur.

    Kalau ada guru yang tidak sholat, mungkin beragama selain Islam pak. he..he..he…

    Kalau saya kaitkan dengan UN, selalu saja UN yang disalahkan. Padahal yang salah oknumnya yang bersikap tidak jujur.

    Terimakasih pak Subakri atas sharingnya.

    Salam,

    Pak Sukani
    http://okemat.blogspot.com

  2. Tujuannya sama-sama membetulkan yang salah. Hanya Pak Ahmad ingin membetulkan Kepala sekolah dan guru2nya, sedangkan pihak sekolah ingin membetulkan siswa2nya (agar di mata masyarakat sekolahnya hebat palsu). Semoga Pak Ahmad terus istiqomah dengan pendiriannya dan semoga dapat sekolah yang semua warganya menjunjung tinggi kejujuran. Hingga saat ini banyak sekali orang ingin mendapat kemuliaan dimata manusia tapi caranya dengan melakukan ketidakjujuran (hapus dikit-dikit, bo’ong dikit, nipu dikit, ubah dikit-dikit, ganti dikit-dikit, markup banyak-banyak). Ya Allah bimbinglah mereka ke jalan yang benar.

  3. Insya Allah pak Ahmad sekeluarga selalu sehat jasmani rohani, hidup dengan tenteram dan sukses. Alhamdulillah sekarang menjadi ustadz. Saya turut prihatin dengan kehidupan masyarakat di negara kita. Insya Allah kita dapat terus meningkatkan diri. Ths sharingnya, salam perjuangan.

  4. “Untuk apa susah-susah mendidik mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, melakukan doa bersama orang tua, istighosah, les siang malam kalau ternyata akhirnya kita membetulkan jawaban siswanya.”
    dari penggalan ini kita akan merenung apakah kita pahlawan atau pecundang
    Menurut saya begitu Pak Bakri. Salam

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar