0

Guru Hebat, Mengubah Keterbatasan Menjadi Semangat Tanpa Batas (0)

Thurneysen Simanjuntak October 24, 2021

Keterbatasan sesungguhnya tidak selamanya berbicara tentang kekurangan, kelemahan atau hal negatif. Acapkali keterbatasan itu justru melahirkan semangat juang, kreativitas, dan bahkan melahirkan berbagai pilihan.

Saya jadi teringat masa kecil, ketika kami tinggal di desa yang tidak ada lampu listrik. Setiap hari kami belajar ditemani oleh sahabat setia, yaitu lampu sumbu. Bentuknya sangat sederhana, hanya sebuah botol atau kaleng bekas yang diisi dengan minyak tanah dengan sebuah sumbu di bagian atasnya.

Walau setiap pagi hari kami harus membersihkan lubang hidung kami yang hitam pekat karena asap lampu sumbu yang digunakan semalam-malaman, kami tetap menghargainya karena telah banyak berjasa bagi kami.

Situasi demikian, ternyata tidak membuat anak-anak di kampung kami surut semangatnya untuk belajar. Bahkan kami tidak kalah pintar dengan anak-anak yang ada di kecamatan (kota). Seringkali kami juga bisa menunjukkan prestasi dalam bidang pengetahuan dibandingkan mereka yang sudah memiliki fasilitas lampu penerang melalui berbagai lomba. Bahkan diantara kami tidak sedikit yang sukses mengecap pendidikan tinggi.

Begitu pula dengan sarana permainan yang terbatas, kami akhirnya menjadi kreatif membuat sarana permainan dari berbagai barang bekas, bambu, tanaman, dan yang lainnya. Kami justru bisa bermain mobil-mobilan dan tembak-tembakan, tidak kalah serunya dengan mereka yang mampu membeli sarana permainan dari kota.

Fakta-fakta lain yang demikian, tentu sering kita temukan di masyarakat. Bukankah banyak orang sukses di negeri ini dilahirkan ditengah keterbatasan? Namun keterbatasan itu membuat mereka tetap bersemangat untuk belajar dan mencoba.

Bahkan kalau kita membaca sejarah lahirnya berbagai hasil karya para ilmuan, sering sekali lahir dari mereka yang dianggap memiliki keterbatasan. Misalnya saja, Thomas Alva Edison yang dianggap bodoh dan ditolak di sekolahnya, yang sesungguhnya karena dia adalah penyandang diseleksia.

Tapi kita tahu bahwa dari orang yang dianggap terbatas tersebut, ternyata lahir berbagai benda penting yang kita gunakan hingga masa sekarang, seperti lampu pijar.

Bukti lain yang bisa kita saksikan, ketika penyandang disabilitas mampu mengharumkan nama bangsa melalui ajang Paralimpiade Tokyo 2020. Keterbatasan secara fisik ternyata tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk mempersembahkan 9 medali (2 emas, 3 perak, dan 4 perunggu) untuk bangsa kita.

Nah, di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, sering sekali kita menemukan keterbatasan. Baik yang dimiliki sekolah atau peserta didik. Barangkali keterbatasan dari teknologi pembelajaran, akses internet yang terbatas, atau mungkin keterbatasan-keterbatasan lainnya.

Melihat banyaknya kisah nyata yang kita jumpai, ternyata keterbatasan bukan penghalang untuk belajar. Tetapi kesempatan untuk semangat berkreasi dan berinovasi.

Oleh karena itu, guru harus menjadi penyemangat dan berada pada garda terdepan untuk membangkitkan semangat berkreasi tersebut baik untuk sekolah maupun peserta didik. Meminjam semboyan yang pernah diperkenalkan oleh Ki Hajar Dewantara, guru harus menjadi “Ing Madya Mangun Karsa”.

Guru harus mampu menjadi inspirator perangkai masa depan dari keterbatasan. Kita harus yakin bahwa dari keterbaratasn yang ada, akan lahir pemimpin dan generasi penerus tanpa batas.

Yuk rekan pendidik, jangan pernah surut dengan keterbatasan, mari jadikan setiap keterbatasan yang ada di sekitar kita sebagai pemacu semangat tanpa batas untuk meraih impian para generasi penerus. Salam

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar