9

Guru dan Murid Sama-sama Eksis? Kenapa Tidak? (+4)

Winwin Faizah May 20, 2015

Beberapa tahun belakangan ini, sosial media dengan berbagai nama dan kelebihan masing-masing menjadi primadona untuk hampir semua golongan. Sebut saja Facebook, Twitter, Instagram, Path, Google+ dan lain-lain. Belum lagi kian menjamurnya aplikasi chatting yang tidak terbendung lagi.

Berbagai efek baik negatif maupun positif sudah banyak diulas di forum-forum ilmiah maupun artikel berita, tidak terkecuali untuk para siswa sekolah yang notabene masih labil dan terkadang salah menggunakan sosial media. Dan faktanya, bermacam-macam efek sosial media ini tidak hanya berlaku di kota besar dengan tingkat eksistensi dan gaya hidup pelajar yang serba wah tapi juga terjadi di kampung-kampung kecil dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Karena dewasa ini beragam sosial media tidak hanya bisa diakses lewat gadget mahal keluaran terbaru, HP made in China seharga ratusan ribu bisa menyulap seorang anak kampung yang lugu menjadi selebritis di dunia maya.

unjuk karya dan eksistensi saat ini dilakukan tidak hanya di dunia nyata tapi juga dunia maya.

unjuk karya dan eksistensi saat ini dilakukan tidak hanya di dunia nyata tapi juga dunia maya.

Maka jangan heran kalau saya yang kebetulan mengajar di sebuah sekolah di kampung, yang bahkan untuk pergi ke kota kabupaten butuh waktu 2 jam perjalanan, harus geleng-geleng kepala menemukan kasus ada murid saya yang berkelahi gara-gara status Facebook. Duh, benar-benar PR untuk pendidik di seluruh pelosok negeri. Serbuan kemajuan teknologi mau tidak mau harus diimbangi dengan penguasaan yang mumpuni oleh para guru. Jangan sampai guru ‘kecolongan’ beberapa kasus sehubungan dengan sosial media, hanya karena sang guru sendiri tidak paham apa itu sosial media dan bagaimana penggunaannya.

Berikutnya jika pertanyaan itu dibalik. Bagaimana jika guru dan murid sama-sama eksis di dunia maya? Bagaimana jika guru yang ingin menggunakan sosial media sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan teman atau rekan seprofesi, tapi harus ‘bertemu’ pula dengan para murid di dunia maya?

Jawabannya seperti lagu mbak Jupe: Aku Rapopo!

Berada di satu situs sosial media yang sama dengan murid, katakanlah Facebook, bisa memberi keuntungan tersendiri bagi guru. Setidaknya itulah yang saya rasakan selama ini. Walaupun ada saat-saat tertentu dimana saya sebagai guru tentu merasa ‘jaim’ untuk men-share hal-hal yang sifatnya terlalu private, berteman dengan murid di dunia maya setidaknya memberi kita ruang untuk melakukan beberapa hal yang bahkan mungkin tidak bisa kita lakukan di dunia nyata.

Yang pertama adalah pengawasan. Pertemuan kita dengan murid di kelas tentu sangat terbatas, dalam satu hari belum tentu kita bisa bertemu semua siswa sekaligus, kalaupun mengajar hampir di semua kelas tentu saja tidak semua siswa mendapat perhatian dari kita secara utuh. Kehadiran sosial media sebagai media berbagi biasa dimanfaatkan para siswa untuk menceritakan apapun yang dialami maupun dirasakannya. Akun mereka bahkan bisa menjadi parameter apakah anak tersebut tergolong anak yang tempramental, pendiam, bijak, mudah terbawa arus dan sebagainya. Sosial media juga bisa memberikan ruang bagi guru untuk memantau aktivitas siswa diluar sekolah. Komunitas-komunitas apa saja yang mereka ikuti, artis mana saja yang mereka idolakan dan hal-hal lain yang bisa menjadi bahan referensi untuk mengarahkan si anak. Jika aktivitasnya positif tentu tidak ada masalah, namun jika mulai terindikasi siswa mengikuti komunitas atau pergerakan yang kurang tepat, tentu guru bisa mengambil tindakan preventif.

ilustrasi: guru mendampingi siswa.  'pendampingan' serupa juga harus diterapkan di dunia maya khususnya sosial media.

ilustrasi: guru mendampingi siswa.
‘pendampingan’ serupa juga harus diterapkan di dunia maya khususnya sosial media.

Manfaat selanjutnya adalah sebagai media untuk mengukur keaktifan siswa. Banyak guru yang menggunakan media sosial sebagai sarana mem-posting tugas kepada siswa, ini tentu menjadi poin yang luar biasa kreatif dalam penggunaan teknologi di kegiatan belajar mengajar. Sebagai guru bahasa Inggris, saya juga sering menggunakan sosial media sebagai salah satu parameter keaktifan siswa. Salah satu caranya, saya menginstruksikan mereka untuk mengikuti tantangan #KamisInggris, yaitu menulis minimal satu status dalam bahasa Inggris setiap hari Kamis. Tantangan ini disambut antusias oleh sebagian siswa, sementara sebagian yang lain masih merasa malu menulis bahasa inggris di akun Facebook mereka. Ini tentu butuh proses dan pembiasaan yang tidak sebentar, tapi sejauh ini, sosial media telah memberi saya referensi mana saja siswa yang berjuang menunjukkan kemampuannya berbahasa inggris dan mana yang perlu pendampingan lebih agar berani dan percaya diri menulis dalam bahasa Inggris.

Last but not least, ketika para siswa yang kita ajar dan berteman di media sosial telah lulus sekolah kemudian melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi atau memulai karier, akun media sosial mereka bisa menjadi sarana berbagi informasi untuk para adik kelas di sekolah. Kita sebagai guru tinggal memantau dan terus mengingatkan agar para alumni yang telah lulus metidak melupakan adik-adik kelasnya yang mungkin saja sangat membutuhkan informasi beasiswa, kesempatan bekerja, magang dan sebagainya.

Jadi sebenarnya tidak ada alasan untuk merasa risih atau terganggu dengan pertemanan dengan murid di media sosial. Yang penting adalah bagaimana caranya guru tetap bisa menjaga wibawa dan terus memberi contoh positif pada siswa tidak hanya di dunia nyata tapi juga dunia maya. Selain itu, pengawasan serta pengarahan tentang aktivitas di dunia maya yang dilakukan siswa juga mutlak dilakukan oleh guru untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

Comments (9)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar