2

Guru Berefleksi, Belajar Lagi untuk Mendidik Sepenuh Hati (0)

Supadilah, S.Si October 18, 2020

Astaghfirullah, anak-anak itu lagi yang tak masuk kelas. Ke mana mereka ya. Dasar bandel. Tak juga berubah. Mau sampai kapan sih?

Itu kata saya saat akan mulai mengajar. Tentu saja kata dalam hati. Tak sampai saya ucapkan. Meski begitu, efeknya cukup besar. Tiba-tiba saya kehilangan energi mengajar. Yang semula semangat datang ke kelas, tiba-tiba jadi mager alias malas gerak. Dan hanya duduk termangu di kursi guru.

Saya juga manusia. Punya perasaan kesal, marah, dan lainnya. Tapi saat itu saya pendam saja.

Menit demi menit berlalu. Sementara, di depan saya ada siswa-siswa yang menantikan saya memulai pembelajaran.

Perlahan kesadaran saya memulih. Saya sadar ada banyak siswa yang juga menunggu. Akankah saya mengorbankan yang banyak hanya karena segelintir siswa? Apakah semangat saya harus musnah dengan satu kejadian ini?

Perlahan saya ambil napas panjang. Harus lebih tenang dan memetingkan prioritas. Dengan susah payah saya memulai pembelajaran dengan terus semangat. Hanya soal waktu kemudian suasana hati saya membaik.

Zaman now sarana belajar sangat banyak. Internet bisa menyediakan banyak hal. Kita bisa memanfaatkannya untuk mencari ilmu termasuk ilmu tentang mendidik.

Selesai mengajar, saya mencari obat dari permasalahan tadi. Caranya? Pergi ke laman Youtube dan mendengarkan petuah-petuah guru. Salah satu sosok guru yang jadi rujukan saya adalah Najeela Shibab. Pendiri sekolah cikal ini menjadi sosok inspirasi saya dalam hal pendidikan. Begitu banyak petuahnya yang sering kali memberikan panduan dalam mendidik anak. Cukup setengah jam mendengarkan kalimat-kalimat motivasi penuh energi dari Najeela Shibab, energi saya kembali terisi. Jiwa pendidik saya telah kembali.

Tak sampai di sana. Siangnya saat rapat sekolah, kepala sekolah tempat memberikan arahan sebelum memulai rapat.

“Sering kita mudah melabeli anak nakal tanpa melakukan proses untuk membuat anak menjadi sesuai yang kita harapkan. Ini yang biasanya membuat anak bandel, nakal, atau kurang semangat saat belajar.”

“Memang kadang mereka bandel. Tapi tentu tidak selalu bandel kan? Sepertinya kita kurang sabar. Lalu menganggap mereka selalu nakal atau bandel tanpa memberi kesempatan mereka untuk berubah.”

“Ingat bahwa kita akan mendapatkan sesuai yang kita persangkakan. Kita terlalu cepat memvonis. Lalu kita jadi pesimis. Akhirnya tidak ada kemajuan dari waktu ke waktu.”

Satu hal yang sangat mengena adalah kalimatnya bahwa, “Siswa merupakan cerminan guru.”

Jadi apapun yang dilakukan guru maka siswa akan meniru. Hal ini sampai kapan pun akan tetap berlalu. Meskipun zaman terus berlalu.  

Semakin menguatlah kesadaran saya saat itu. Tersadarkan bahwa baru saja saya keliru.

Jadi sebelum mengeluh dan menyalahkan siswa maka guru harus melakukan refleksi. Apakah guru sudah memberikan keteladanan? Atau jangan-jangan guru hanya bisa menuntut siswa tapi tidak melakukannya?

Tengok saja sewaktu guru menghadiri rapat. Apakah guru sigap mengisi bangku depan? Atau memilih yang paling belakang? Atau saat ini sedang maraknya ada webinar apakah guru terus fokus mengikutinya atau hanya sepintas lalu? Jangan-jangan hanya ikut sebentar lalu pergi. Matikan video sendiri lalu pergi.  Memang tidak semua guru begitu. Tepatnya oknum guru.

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Siswa meniru apa yang dilakukan guru. Maka, sebelum guru menuntut siswa melakukan apa yang diinginkannya, guru berikan keteladanan.

Refleksi diri. Mungkin kita masih banyak kekurangan. Banyak hal yang harus dibenahi. Mulai dari metode pembelajaran, strategi pembelajaran, media pembelajaran atau isi pembelajaran yang kurang menarik.

Sebelum jauh-jauh menyalahkan siswa, evaluasi diri. Ibaratnya pedagang, kalau dagangan kita menarik, pembeli juga akan tertarik. Karena itu, perbaiki dagangan. Dalam hal ini perbaiki pembelajaran guru.

Kuncinya adalah introspeksi, munculkan empati, dengan teman diskusi, dan mau belajar lagi. Dan tidak kalah pentingnya adalah sabar. Sabar tidak ada batasnya. Bukan sabar namanya kalau masih ada batasnya.

Saya teringat dengan tekad saya saat memutuskan menjadi guru. Bahwa tekad saya menjadi guru adalah agar bisa membuat siswa agar menjadi manusia yang berguna. Agar mereka di sekolah bahagia. Impian saya jadi guru tak muluk-muluk.

Maka kalau saya lekas marah-marah bukankah sama saja mengingkari tekad yang dulu pernah saya canangkan. Terus mengajar kadang membuat lupa dengan hal ini. Tidak apa-apa pernah salah yang penting adalah mau memperbaiki kesalahan. Lewat kejadian di kelas itu saya diingatkan lagi tentang peran seorang guru yaitu menjadi pendidik.

Idealnya guru memiliki empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi intelektual dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar anak-anak. Nah, karakteristik anak-anak adalah sedang dalam masa belajar. Artinya mereka bisa saja melakukan kesalahan. Tugas guru adalah membimbingnya.

Hal ini bisa terjadi pula saat belajar dari rumah (BDR) saat pandemi sekarang ini. satu dua anak bisa tidak ada kabar. Saat yang lain sudah mulai belajar entah mereka sedang ada di mana. Namun kali ini saya hadapi dengan lebih sabar. Tentu tidak hanya sabar tetapi aktif ‘menjemput bola’ menanyakan kabar mereka. Mengirim pesan lewat WhatsApp atau bahkan menelpon. Memang dibutuhkan pengorbanan. Tapi semoga ini merupakan keseriusan menjadi seorang guru.

#WritingCompetition

#NewNormalTeachingExperience

Supadilah. Seorang guru di Lebak, Banten. Menyukai literasi dan berburu ilmu. Mohon doa agar bisa menjadi guru yang terlatih.

About Author

Supadilah, S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Selain di www.guraru.org, saya aktif mengelola blog di www.supadilah.com dan www.gurupembelajar.my.id. Mari bersilaturahim :)

View all posts by Supadilah, S.Si →

Comments (2)

  1. Selamat Malam Bapak Supadillah 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar