7

Guru Baru (+2)

Af'ida Ahmad December 23, 2013

 

Menjadi seorang guru dalam sebuah kelas bukanlah hal yang selama ini saya idamkan. Kehadiran di kelas yang ditentukan oleh waktu, kelengkapan perangkat pembelajaran, kerapian etika dan karakter, serta keluwesan komunikasi adalah beberapa hal yang diharapkan ada pada seorang guru. Padahal hal-hal tersebutlah yang selalu minus berada pada diri saya.

Tahun ini adalah tahun pertama saya mengajar dalam sekolah formal. Meskipun kegiatan belajar-mengajar adalah aktifitas yang telah saya jalani selama tujuh tahun, dan meski saya nyaris tidak pernah hadir terlambat di kelas non-formal saya sendiri, mengajar dalam sebuah lembaga formal merupakan hal yang benar-benar baru bagi saya. Interaksi yang selalu saya bangun dalam les mapel ataupun bahasa benar-benar mendapat respon yang berbeda ketika saya terapkan di kelas formal.

Prosesi pembelajaran yang saya bangun dalam kelas adalah hal yang umum saja seperti yang dilakukan oleh para guru yang lain. Salam, doa, sedikit relaksasi sekaligus opening reflection, tanya jawab, kemudian materi inti. Namun, entah apa yang membuat respon anak didik saya sangat berbeda ketika berada dalam sepetak kelas. Padahal saya sudah terbiasa berinteraksi lebih dekat, dengan bahasa yang tidak perlu baku, tatap mata yang bersahaja, pertanyaan-pertanyaan apa adanya, dan senyum yang polos. Bukan kepala yang lebih sering menunduk, pertanyaan yang peru ditulis dulu konsepnya dalam kertas, tubuh yang sengaja agak membungkuk jika sedang melintas di depan saya, dan sapaan yang ragu ketika bertemu di luar kelas.

Sebenarnya ada apa dengan diri saya sendiri. Ataukah anak didik saya memang mempunyai bangunan karakter yang berbeda. Atau mungkin ini adalah lembaga ‘formal’.

Berbagai tanya muncul di benak saya. Lewat artikel ini, saya mengharapkan tips dan saran para guraru senior untuk saya yang baru 4 bulan mengajar. Salam kenal, para guraru,^^

Comments (7)

  1. Profesi guru emang pada awalnya tidak byk dicita-citakan pak. Namun jika itu sudah menjadi jalan hidup kita maka harus dijalani dengan ikhlas dan suka cita.. 😀
    Cukup dengan senyum dan membalas sapaan siswa, mereka akan senang dan menghargai kita he..he..

  2. Harus diselingi humor Pak, pembelajarannya bervariasi. Bahasa Indonesia tetap harus baik dan benar, mudah dipahami, waktu lebih banyak untuk siswa berpikir, bekerja, tukar pikiran/pendapat dalam diskusi kelompok. Cara sudah bagus, tinggal diberi sedikit sentuhan psikologis. Salam perjuangan.

  3. butuh waktu untuk mengenal mereka ….
    biasanya memang begitu, jika ada guru baru. Anak-anak kadang agak jangung karena merasa belum begitu akrab. Bergulirnya waktu, ya suasana jadi cair nantinya …..
    Selamat Mengajar di Kelas Baru …. Ibu Af’ida bukan Bapakkan?

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar