0

Guru Bahasa Indonesia Bicara Minat Baca (0)

AfanZulkarnain May 6, 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Sebagian besar dari kita sudah tahu tentang suatu fakta yang berdasarkan studi World Most Literate Countries bahwa Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara pada 2016 dalam hal minat baca. Penelitian yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CCSU), John W Miller mecatat Indonesia berada di urutan terbawah dibanding negara-negara ASEAN yang masuk dalam daftar 61 negara tersebut. Singapura berada di urutan 36, Malaysia berada di peringkat 53, dan Thailand berada tepat di atas Indonesia.

Selain itu berdasarkan data UNESCO, persentase minat baca Indonesia masih 0,01 presen. Artinya dari 10.000 orang hanya 1 orang yang memiliki minat untuk membaca. Padahal indeks tingkat membaca negara-negara maju telah mencapai 0,46 hingga 0,62. Kita masih terpaut jauh.

Fakta lainnya, berdasarkan Studi International Association For The Evaluation of Education Achicievement (IEA), Indonesia berada di posisi terendah di ASEAN dengan skor 51,7 dibawah Filipina (skor 52,6), Thailand (skor 65,1) dan Singapura (skor 74) berdasarkan minat membaca bagi siswa.

Data-data yang telah tercantum di atas sudah sangat menunjukkan gambaran kebiasaan masyarakat Indonesia dalam membaca dan menulis yang masih tergolong rendah.

Saya sempat berbincang-bincang dengan salah seorang pegiat literasi, Rialita Fitrah Asmara. Guru Bahasa Indonesia yang telah menulis banyak buku ini mengatakan bahwa hasil penelitian-penelitian tersebut adalah kondisi yang harus memacu semangat guru-guru di Indonesia untuk memotivasi siswa agar tertarik dalam membaca buku. Menurutnya, rendahnya minta baca masyarakat kita sangat memungkinkan membuat mereka mudah terprovokasi oleh berita-berita yang belum jelas kebenarannya. Terbukti di berbagai laman media online, banyak masyarakat yang cenderung hanya membaca headline suatu berita tanpa membaca artikel secara lengkap. Hal itu membuat mereka menafsirkan berita tersebut berbeda dengan yang sebenarnya. Bahkan mereka cenderung memberikan komentar yang sangat bertolak belakang dengan isi berita.

Rialita mengatakan setiap guru memiliki tanggung jawab yang sama untuk meningkatkan minat baca siswa. Guru dapat melakukan berbagai macam kegiatan pembelajaran dengan memberikan ruang bagi siswa mencari tahu suatu informasi dari berbagai macam literatur. Cara lain adalah dengan mengadakan kegiatan-kegiatan literasi yang menarik keinginan siswa dalam membaca. Bibliobattle misalnya. Menurutnya, Bibliobatlle adalah cara baru dalam meresensi suatu buku. Biasanya resensi buku ditampilkan secara tertulis, namun dalam bibliobatlle, kita dapat merekomendasikan suatu buku dengan berbagai macam cara, contohnya lewat video. Belakangan , mulai marak kompetisi-kompetisi Bibliobattle yang sedikit banyak telah menumbuhkan keinginan siswa dalam membaca dan menyampaikan isi suatu buku.

Rialita yang notabene adalah pegiat perpustakaan juga menyebut bahwa perpustakaan sekolah juga turut memiliki peran penting dalam menumbuhkan ketertarikan siswa dalam membaca. Penataan ruang baca yang menarik dan nyaman serta diperlukan inovasi – inovasi sehingga perpustakaan bukan hanya sebagai tempat regulasi pinjam dan mengembalikan buku saja, melainkan juga sebagai tempat bagi siswa dalam “merayakan pengetahuan.” Misalnya, mengadakan bedah buku, pentas seni menceritakan isi buku, panggung boneka, musikalisasi puisi atau mengadakan pemilihan duta baca.

Perbincangan saya bersama Rialita Fitrah Asmara ini dapat anda dengarkan lewat sebuah podcast dengan judul yang sama dengan artikel ini. Berikut link podcast tersebut.

https://www.instagram.com/tv/COaTOgug0pH/?utm_source=ig_web_copy_link

Artikel ini saya tutup dengan sebuah ajakan, “Mari Bapak Ibu Guru lebih semangat dalam memotivasi anak-anak untuk lebih sering membaca buku.”

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar