1

GURLING, BENARKAH SEBUAH SOLUSI? (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto October 26, 2020

Tahun ajaran baru 2020/2021 telah berjalan selama 4 bulan. Awal tahun pelajaran yang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya di hari pertama masuk sekolah begini sekolah-sekolah selalu dipadati oleh para orang tua yang mengantar anaknya ke sekolah barunya, tahun ini sebaliknya. Sekolah-sekolah sepi. Pertemuan berpindah melalui gawai masing-masing.

Ya, sudah hampir tujuh bulan, pembelajaran siswa berpindah ke rumah masing-masing. Ada yang secara daring, maupun secara luring. Jika orang tua mampu, maka pembelajaran daring bisa dilakukan melalui gawai yang dimiliki. Tetapi jika kondisi sosial ekonomi orang tua kurang mendukung, maka pembelajaran dilakukan melalui siaran TV, buku siswa, maupun pengumpulan tugas melalui guru masing-masing.

Di tahun ajaran baru ini pula saya mengenal istilah Gurling, Guru Keliling. Jadi guru berkeliling ke rumah salah satu siswa atau tempat yang telah disepakati. Di sana sudah ada sekelompok siswa yang akan menerima pembelajaran dari guru tersebut. Saya dengar cara ini sangat disukai wali murid dan menjadi solusi terbaik untuk kondisi saat ini, saat sekolah harus ditutup karena pandemi. Prinsip dari Gurling ini hanya satu, asalkan tidak di lingkungan sekolah.

Sebagai seorang pengelola sebuah sekolah swasta, wali murid di sekolah saya juga banyak yang meminta untuk diadakan Gurling. Saya sangat paham, mereka semua sudah lelah dengan kondisi yang serba tidak ideal untuk sebuah pendidikan ini. Ditambah lagi untuk para orang tua yang bekerja. Mereka masih harus membagi waktu antara pekerjaan dan mendampingi anak-anak belajar. Belum lagi bagi para orang tua yang secara ekonomi terdampak wabah ini.

Tetapi benarkah Gurling ini merupakan solusi yang paling tepat? Sebagai seorang guru dan juga orang tua, ijinkan saya mengemukakan pendapat. Pada dasarnya Gurling ini tidak ada bedanya dengan tatap muka di sekolah. Hanya tempatnya saja yang pindah, tidak lagi di sekolah. Bisa di rumah siswa, di musala, di gudang, atau di mana saja sesuai kesepakatan dengan wali murid.

Yang ingin saya pertanyakan di sini adalah, sudahkah tempat-tempat yang disepakati itu mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan? Apakah kita bisa menjamin anak-anak yang datang berkelompok itu tidak beresiko tertular atau menularkan virus Covid-19? Bisakah prinsip jaga jarak diterapkan di tempat itu? Belum lagi wali murid yang rumahnya ditempati pasti akan kerepotan menyediakan suguhan bagi guru anaknya, ataupun wali murid yang mengantar dan menunggui anak-anaknya. Di masa ekonomi yang serba sulit ini, hal itu tentu memberatkan. Dan yang paling penting di sini adalah, guru yang berkeliling itu. Dia akan lelah karena harus berkeliling dari satu tempat ke tempat yang lain. Jika badan dan pikirannya lelah, bukan tidak mungkin imunitas tubuhnya akan menurun dan beresiko tinggi untuk terpapar virus bahkan menularkannya kepada anak-anak yang dicintainya itu.  Kemumgkinan terburuk, jika terjadi titik penyebaran virus dari kegiatan Gurling ini, siapakah yang akan bertanggungjawab? Apakah sekolah atau orag tua yang rumahnya ditempati Gurling? Bukan tidak mungkin akan terjadi saling lempar tanggung jawab nantinya.

Jika Gurling yang sangat beresiko itu diijinkan, mengapa tatap muka di sekolah malah dilarang? Padahal setiap sekolah pasti sudah mengantongi Buku Panduan Pendidikan di Era New Normal yang akan menjadi acuan setiap warga sekolah dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah. Setidaknya ada standar tertentu yang harus dipatuhi warga sekolah sebelum melaksanakan pembelajaran. Seperti penyediaan thermo gun, wajib memakai masker dan face shield, tempat cuci tangan, penyemprotan desinfektan, penggunaan hand sanitizer, dan kebutuhan lainnya.

Saya dengar kabar terakhir, angka positif covid-19 di Banyuwangi sudah mencapai 70 orang. Angka yang kecil sebenarnya jika dibandingkan dengan kabupaten tetangga. Tetapi dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, penambahan ini merupakan angka yang luar biasa. Bukan tidak mungkin angkanya akan terus bertambah.

Maka saya hanya ingin meminta kepada pejabat berwenang. Tolong buatkan kami aturan yang pasti, tidak abu-abu. Menurut saya Gurling ini aturan yang abu-abu, hanya untuk menyelisihi prinsip “Dilarang Membuka Sekolah”. Karena saya juga mendengar dari pengelola sekolah yang lain, bahwa mereka didatangi intel karena mengundang siswanya ke sekolah. Hanya mengundang sebentar, bukan untuk belajar. Padahal kejadiannya di sekolah, yang sudah pasti kepala sekolahnya bertanggung jawab terhadap hal itu. Jika tatap muka dilarang, maka seharusnya Gurling pun dilarang. Jika Gurling diperbolehkan, maka beri kesempatan tatap muka di sekolah juga. Dengan syarat dan ketentuan yang sangat ketat tentunya.

Untuk para wali murid kami dimana pun berada, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika belum bersedia untuk melaksanakan Gurling. Semata-mata karena saya sayang kepada guru-guru dan juga anak-anak. Saya tidak ingin terjadi apa-apa kepada warga sekolah saya yang berjumlah 300 lebih. Kita tidak tahu siapa di antara kita yang berpotensi sebagai penyebar virus. Mohon dimaklumi. Kami akan berusaha memberikan pelayanan semkasimal mungkin tanpa Gurling.

Kita berdo’a semoga Allah segera mengangkat wabah ini. Agar kita bisa segera melaksanakan pertemuan di sekolah, mengantarkan anak-anak meraih cita-cita mereka.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar