3

Gerak Refleks Pada Manusia: Summasi, Fasilitasi dan Inhibitor (0)

Wahid Priyono, S.Pd. December 7, 2020

Refleks adalah suatu respon organ efektor (otot maupun kelenjar) yang bersifat otomatis atau tanpa sadar terhadap suatu stimulus tertentu. Respon tersebut melibatkan suatu rantai yang terdiri atas sekurang-kurangnya dua neuron, membentuk suatu busur refleks (reflex arc). Dua neuron yang penting dalam suatu busur refleks adalah neuron eferen, sensoris atau reseptor, serta neuron eferen, motoris atau efektor. Umumnya satu atau lebih neuron penghubung (interneuron) terletak diantara neuron reseptor dan neuron efektor.

Refleks sebagai integarasi sinaps memiliki bagian-bagian penting diantaranya yaitu serabut saraf sensorik-saraf spinal akar dorsalis-interneuron-saraf akar ventralis-serabut motorik. Antar satu serabut dengan serabut lainya sudah tentu memilki hubungan integrasi yang disebut sinaps. Dalam integrasi antar ujung-ujung saraf dalam sinaps tersebut ada tiga hal yang dimunculkan, yaitu diantaranya:


(1).  Summasi Terdiri dari sum-sum temporal yang berupa pengulangan impuls untuk dapat menimbullkan respon dan summasi spasial, yaitu dua atau lebih saraf eferen yang memberikan stimulus pada waktu yang sama untuk dapat memberikan respon.
(2).  Fasilitas Merupakan suatu proses penambahan eksitasi pada hubungan sinaps yang tidak memperlihatkan adanya summasi respon elektrik . Pada kondisi ini potensial pada portsinapsis akan meningkat.
(3).      Inhibiton Adalah proses penghambatan respon pada organ efektor (otot, kelenjar). Jika dilihat dari mekanismenya jalan rangsang, stimulus memiliki bentuk sinaps inhibitor (menghambat) dan sinaps eksitator (mempercepat). Misalnya stimulus dengan sinaps inhibitor adalah saat relaksasi sebagai respon dari adanya stimulus, sedangkan contoh sinaps eksitator adalah saat otot kontraksi respon adanya stimulus . Bentuk kedua respon pada anggota badan yang sama disebut dengan hambatan resiprikal. Contohnya adalah pada saat tempurung lutut dipukul dengan keras menggunakan garputala  (Widiastuti, 2002).


Sedangkan menurut (Kimball, 1983) refleks rentang memainkan sesuatu peranan penting namun agak sederhana dalam perilaku. Suatu otot terentang dan bereaksi dengan berkontraksi. Mesin refleks rentang memberikan mekanisme pengendalian yang teratur dengan baik yang mengarahkan kontraksi otot-otot antagonis dan secara terus-menerus memonitor keberhasilan dengan perintah-perintah dari otak yang diteruskan dan dengan cepat mampu melakukan penyesuaian.  

(Campbell, 2004), menyatakan bahwa molekul sinyal terikat pada protein reseptor, menyebabkan protein berubah bentuk. Sel yang menjadi target sinyal kimiawi tertentu memiliki molekul yang berupa protein reseptor yang akan mengenali molekul sinyal. Molekul sinyal ini mempunyai bentuk yang berkomplementer dengan tempat spesifik pada reseptor dan molekul ini terikat dengan tempat tersebut, seperti kunci pada gembok atau seperti subtrat dalam sisi katalik enzim. Molekul sinyal ini berperilaku seperti ligan, istilah untuk molekul kecil yang terikat secara spesifik pada molekul yang lebih besar. Pengikatan ligan ini umumnya menyebabkan protein reseptor mengalami perubahan konformasi, dengan kata lain berubah bentuk .Untuk Banyak reseptor, perubahan bentuk ini langsung mengaktifkan reseptor sehingga dapat berinteraksi dengan molekul seluler lainnya. Untuk jenis reseptor lain, seperti yang akan segera kita lihat, pengaruh yang segera dari pengikatan ligan ini lebih terbatas, terutama menyebabkan berkumpulnya dua atau lebih molekul. 


Daftar Pustaka:

  • Campbell, dkk.2004. Biologi . Jakarta: Erlangga.
  • Kimball,J.W.1983. Biologi jilid II. Jakarta: Erlangga.
  • Widiastuti,L.E.2002. Bahan Ajar Fisiologi Hewan 1. Bandarlampung: Universitas Lampung.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar