0

Generasi Now (0)

Agus Wahidi, M.Pd May 11, 2021

Sahabat Guraru, tulisan ini adalah rangkuman dari seminar pendidikan dalam rangka Hardiknas tahun 2018 oleh Prof Aswandi Guru Besar FKIP UNTAN Pontianak dengan judul “GURU SEBAGAI PENGGERAK PERUBAHANMENUJU INDONESIA EMAS BERKARAKTER DALAM REVOLUSI INDUSTRI 4.0”. Dalam seminar ini menggambarkan tentang generasi pemilik masa depan . Ternyata perkembangan zaman mengalami percepatan sehingga dengan adanya pandemi 2020 di seluruh dunia mengalami percepatan beralih ke era digitalisasi semua aspek, terutama aspek pendidikan. berikut beberapa point yang penulis catat tentang materi seminar tersebut.

Sekarang ini seringkali dilabeli sebagai masa depan yang dimajukan karena baru kemarin diwacanakan di beberapa seminar tentang generasi masa depan ternyata sudah mulai muncul sekarang ini. Apapun istilah digunakan, secara fitrah, era tersebut sudah kita temui sekarang ini. Dan yang hidup pada jaman ini terbagi menjadi berbagai generasi yang beragam ibarat muara sekarang ini bercampur aduk. Berbagai generasi, yakni generasi: tradisional berusia lebih dari 73 tahun, boby bommer berusia 54-72 tahun, generasi X berusia 39-53 tahun, generasi milenial berusia 24-38 tahun dan generasi Z berusia 6-23 tahun, dikutip dari David Tillman dan Jonan Stillman (2018).

Ramalan tentang masa depan sudah mulai nampak sekarang ini. Menurut Rhenald Kazali (2017) dalam bukunya “Disruption” mengatakan bahwa masa depan adalah era disrupsi dicirikan setidaknya tiga karakterisik: (1) speed yakni bergerak cepat karena didukung teknologi; (2) surprises, yakni banyak kejutan yang terkadang tidak masuk rasional, dan (3) sudden shift, yakni banyak hal mengalami pergeseran tiba-tiba, bukan menghilang. Masa depan menurut The Word Economic Forum adalah era Revolusi Industri 4,0” berintikan “cyber physical system” dengan tiga karakteristik utama, yakni: (1) internet; (2) big data, dan  (3) artificial intelligence.

Generasi yang ada pada sekarang ini yang merupakan muara beberapa generasi dan dalam implikasinya pada pengelolaan pendidikan secara global tentunya banyak mengalami pergeseran dan perubahan beserta implikasinya. Generasi Z adalah generasi yang terlama dibanding generasi sebelum hidup dimasa depan, mereka diirikan sebagai berikut: (1) figital; (2) hiper-kustomisasi; (3) realistik; (4) FOMO; (5) wenocomist; (6) DIY, dan (7) terpacu,

Figital, generasi Z adalah generasi pertama yag lahir ke dunia dimana segala aspek fisik baik manusia dan tempat memiliki ekuivalen digital. Visual merupakan bagian dari realitas mereka. Sejumlah 91% generaasi Z mengatakan bahwa kecanggihan teknologi suatu institusi berdampak terhadap keputusan mereka bekerja pada institusi tersebut.

Hiper-Kustomisasi, generasi Z berusaha keras mengidentifikasi dan melakukan kustomisasi atau penyesuaian identitas mereka sendiri agar dikenal dunia. Sejumlah 56% generasi Z lebih memilih membuat uraian pekerjaan mereka sendiri dari pada diberikan deskripsi yang sudah umum.

Realistik, pola pikir genersi Z sangat pragmatis dalam merencanakan dan mempersiapkan masa depan. Sifat pragmatiss dan realistic tersebut sangat menantang institusi pendidikan, baik sekolah menengah maupun perguruan tinggi atau universitas. Cara pandang generasi Z untuk bertahan, bahkan maju bersifat realistik terhadap apa yang perlu dilakukan. Tidak jarang diantara mereka ada yang telah mempersiapkan kemampuan bekerja mendahului zamannya. Ketika itu ijazah, gelar kesarjanaan, indeks prestasi akademik dan prestasi akademik lainnya menjadi tidak penting lagi terkalahkan oleh literasi, kompetensi dan karakter. Sekarang saja, sudah banyak dunia kerja tidak lagi mempersyaratkan ijasah dan gelar akademik lainnya saat merekrut pegawainya. Penyelenggaran pendidikan harus realistik, mulai dari visi, misi dan sasaran hingga kurikulum relevan dengan kebutuhan.  

FOMO, generasi Z sangat takut melewatkan sesuatu. Mereka selalu berada di barisan terdepan dalam trend dan kompetisi. Generasi Z selalu ingin melompat untuk memastikan bahwa mereka tidak ketinggalan. Bagi mereka lebih baik tidak ganti celana dalam selama tiga hari atau tidak mandi seminggu dari pada tidak memperharui program twiter, facebook, dan program-program lainnya pada handpone mereka. Sejumlah 75% generasi Z tertarik dengan situasi yang memungkinkan mereka memiliki peran di suatu tempat (perusahaan).

Wenocomist, generasi Z mengenal dunia dengan ekonomi berbagi, prinsipnya adalah efesiensi. Sejumlah 93% geneerasi Z mengatakan bahwa konstibusi perusahaan terhadap masyarakat mempengaruhi keputusan mereka untuk bekerja di perusahaan tersebut.

DIY, generasi Z merupakan generasi “do it yourself” atau melakukan sendiri. Generasi Z yakni bisa melakukan apa saja sendiri, apalagi mereka didorong oleh orang tua mereka yang berasal dari generasi sebelumnya untuk tidak mengikuti generasi tradisional. Sejumlah 71% generasi Z berkata mereka percaya bahwa pernyataan “Jika ingin melakukannya dengan benar, lakukan sendiri”. 

Terpacu, Generasi Z merupakan generasi yang terpacu, mereka siap dan giat menyingsingkan lengan baju, mereka lebih kompetetif serta tertutup dari generasi terdahulu. Mereka adalah tim juara. Sejumlah 72% generasi Z mengatakn bahwa mereka kompetetif terhadap orang yang melakukan pekerjaan sama. 

Kembali pertanyaan di atas muncul, apakah generasi Z tersebut pemilik atau pecundang masa depan, tergantung pada tiga kemampuan dasar yang dimilikinya, yakni: (1) literasi dasar, meliputi literasi: membaca (literacy), numeracy, scient, information communication technology (ICT), financial, cultural and civic; (2) kompetensi, meliputi: critical thinking/problem solving, creativity, communication, and collaboration; dan (3) kualitas karakter, meliputi: ingin tahu (curiosity), initiative, tekun (persistence), adaptabiliy, leadership, social and cultural awareness. Anies Baswedan, menambahkan, karakter terdiri dari: (1) karakter keagamaan, dimana setiap orang memiliki keimanan, ketaqwaan dan akhlaq terhadap sang pencipta, rasulnya, kepada orang shaleh lainnya dan kepada umat manusia pada umumnya; (2) karakter dalam pekerjaan.

Memperhatikan fakta dan data tersebut di atas, John Keyness mengingatkan, “Fakta berubah, maka pikiran, sikap dan tindakan harus berubah”.

Pendapat yang sama disampaikan Rhenald Kazali (2018) dalam bukunya “The Great Shifting”, “Ketika platform berubah, kehidupan dan bisnispun berubah”.

Arnold Toynbee seorang pakar sejarah menegaskan, “kemampuan merespons secara tepat dan cepat permasalahan yang dihadapi adalah upaya mewujudkan kemajuan atau menghindari kemunduran”.

Iqbal sejak ratusan tahun lalu mengingatkan, “…Sikap lamban berarti mati, Mereka yang bergerak, merekalah yang maju ke depan. Mereka yang berhenti sejenak sekalipun pasti tergilas”.

Sehubungan hal tersebut, maka perubahan di semua bidang, terutama bidang  pendidikan dan pembelajaran mendesak untuk dilakukan, Diana G. Oblinger dan James L. Oblinger (2005) editors sebuah buku berjudul “Educating the Net Generation” menegaskan bahwa memiliki digital literacy untuk menyelenggaraan dan praktek pembelajaran saat ini adalah suatu keharusan. Di masa akan datang, pemberdayaan manusia Indonessia menjadi lebih sulit lagi mengingat kondisi generasi bangsa ini terutama mereka yang berusia balita sepertiganya adalah stunting akibat dari kondisi kandungan ibu kurang sehat. Tercatat balita di Kalimantan Barat adalah lima besar se Indonesia kondisi sunting. Jika nutrisi ibu hamil tidak segera diperbaiki dan penyelenggaraan pendidikan tetap seperti ini, penulis tidak yakin bangsa ini akan merayakan satu abad kemerdekaannya di tahun 2045 yang akan datang

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar