1

GARA-GARA IMUNISASI (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto November 18, 2020

Hari itu jadwal imunisasi di sekolah. Sebagai sekolah yang baru berdiri, kami tentu juga harus ikut mendukung program pemerintah, yaitu imunisasi untuk anak-anak usia SD. Tetapi bedanya, di sekolah kami ada beberapa wali murid yang menolak imunisasi untuk anaknya, dengan berbagai alasan pribadi. Kami juga menghormati pilihan mereka. Jadi, saat imunisasi berlangsung, ada anak-anak yang tidak ikut diimunisasi. Mereka ini kadang-kadang memprovokasi teman-temannya, dengan menakut-nakuti.

Ada seorang anak kelas 2, Hasby namanya. Orang tuanya bukan penolak imunisasi. Tetapi karena ada beberapa temannya tidak diimunisasi, dia menangis tidak mau diimunisasi. Bahkan sampai bersembunyi di bawah meja. Saat petugas mendatanginya, dia meronta-ronta tidak mau. Akhirnya sang petugas meninggalkannya untuk menangani anak yang lain terlebih dahulu.

Saat itu memang jadwalku mengajar di kelasnya. Di tahun pertamaku ini, aku hanya mengajar Bahasa Inggris untuk kelas 1 sampai kelas 3. Pelan kudekati anak berperawakan kecil itu.  Wajahnya cemberut.

“Mas Hasby kenapa tidak mau disuntik?” Dia mencebik

“Aku takut.”

“Kenapa takut? Sakit?” Kepala kecil itu mengangguk.

“Tau nggak, kenapa kita diimunisasi?” Anak itu memandangku, kemudian menggeleng.

“Imunisasi itu untuk membuat tubuh kita kebal terhadap penyakit. Kalau tubuh kita kebal, kita tidak akan mudah sakit. Kita akan sehat dan bisa belajar dengan maksimal. Pelajaran akan mudah masuk ke otak kita.”

“Terus kita jadi pinter ustadzah?”

“Insya Allah begitu.”

“Tapi kan disuntik itu sakit, Ustadzah.”

“Sakitnya kan Cuma sebentar, tidak sampai 5 menit sudah selesai. Nanti juga akan diberi obat untuk menghilangkan rasa sakitnya,” aku memandang wajah mungil itu.

“Gimana? Mau ya?”

“Oke deh, aku mau disuntik.”

“Itu namanya anak hebat. Toss dulu dong!”

Kami melakukan toss berdua.

“Tapi Ustadzah tungguin ya?”

“Pasti dong,” aku tersenyum sambil mengusap kepalanya.

Akhirnya petugas tidak kesulitan menyuntiknya. Dan Alhamdulillah, kegiatan imunisasi hari itu berjalan lancar. Meskipun sebagai sekolah baru, kami agak dicibir oleh petugas kesehatan karena ada beberapa yang menolak imunisasi.

Satu jam kemudian aku mengajar Bahasa Inggris di kelas 2, kelasnya Hasby. Ada yang berbeda kali ini, Hasby lebih bersemangat. Biasanya dia selalu mengerut tak percaya diri di pojokan. Kali ini dia sangat antusias mengikuti pelajaran.

Alhasil, saat penilaian berlangsung dia mendapat nilai yang bagus, 80. Bagiku ini sebuah pencapaian yang sangat luar biasa. Mengingat biasanya nilainya di bawah 50.

Saat membagikan kertas yang berisi nilai itu, kupanggil dia.

“Mas Hasby,”

“Ya Ustadzah?”

“Nih, Mas Hasby nilainya bagus. 80,” seketika kulihat matanya berbinar.

“Beneran Ustadzah?”

“Iya nih,’ kuangsurkan kertas itu padanya.

“Waah, Alhamdulillah!”

“Tuh, Mas Hasby jadi tambah pinter. Apa gara-gara imunisasi tadi ya?” kukedipkan mataku padanya

“Benarkah Ustadzah?”

“Ya mungkin saja.”

“Kalau begitu aku tidak takut disuntik lagi deh, Ustadzah.”

“Alhamdulillah…anak sholih calon penghuni surga.” Kuelus kepalanya sebelum kembali ke tempat duduknya.

Sejak saat itu Hasby tidak pernah lagi melarikan diri saat ada imunisasi di sekolah. Nilai Bahasa Inggrisnya pun semakin membaik dan tidak pernah ngambek lagi saat pelajaran ini.

Alhamdulillah, aku sangat bersyukur bujukanku yang spontan itu memberikan dampak yang besar bagi perkembangan belajar seorang Hasby. Sebenarnya menurutku Hasby ini hanya butuh suntikan motivasi untuk memunculkan potensinya yang sebenarnya.

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar