11

Ganti Nilai Raport (+3)

Nurita Putranti February 16, 2014
Ada siswa (sebut saja si A) menemui saya, menanyakan nilai raport TIK yang pas KKM. Dengan senang hati saya perlihatkan sejarah nilai. Semua nilai tugas, ulangan harian, UTS, dan UAS tertera di layar monitor. Si A mengakui nilai yang tercetak di raport sudah sesuai dengan hasil yang dia kerjakan. Tetapi si A masih merasa bisa praktik desain grafis. Sudah biasa gunakan aplikasi edit foto. Saya jelaskan kembali bahwa dalam raport ada nilai kognitif, psikomotorik dan afektif. Nilai psikomotorik si A sudah tinggi, jauh di atas KKM. Ternyata si A masih berharap bisa menaikkan nilai kognitif. Si A minta tugas untuk nambah nilai. Alasannya agar nilai dari sekolah tinggi karena salah satu kriteria kelulusan dari nilai raport. Selain itu si A berencana mendaftar kuliah dijurusan Informatika jadi berharap bisa lulus SNMPTN. Saya tetap tidak memberi tugas tambahan untuk menaikkan nilai kognitifnya. Si A pergi dari ruang komputer dengan wajah sedih.
Beginilah jika siswa sekarang berorientasi nilai.
Dari permintaan siswa mengganti nilai kognitif, lucu saja ketika anak mendapat nilai TIK pas KKM langsung protes. Nilai pelajaran lain dapat nilai yang sama, tidak masalah. Apakah TIK dianggap mudah, gampang, sudah biasa menggunakan komputer dan internet lalu dianggap bisa pelajaran TIK dan harus dapat nilai tinggi? Pemahaman yang keliru bahwa pelajatan TIK pasti mendapat nilai tinggi karena siswa sekarang sangat mahir menggunakan komputer, laptop, dan gadget lainnya. Siswa lebih pintar dari guru. Ingat, TIK ada silabus, SK, KD. Jadi siswa yang rajin main game online, facebook, twitter dan sebagainya belum tentu nilai TIK tinggi. Kurikulum 2013 telah menghapuskan pelajaran TIK. Memang siswa sudah biasa menggunakan perangkat IT dan internet, tetapi tidak semua siswa bisa mengetahui pemanfaatan TIK dengan baik. Contoh sederhananya, siswa rajin menggunakan facebook dan twitter tetapi begitu ditanya cara membuat email, apa itu CC/BCC mereka masih bingung. Ketahuan ternyata email dan facebook di buatkan teman. Hahaha….
Dengan aturan tentang kelulusan sekolah, siswa jadi berorientasi pada hasil akhir yang tertera diraport. Tidak jarang guru pun mengatrol nilai agar melebihi batas KKM. Demi reputasi dan prestasi yang akan didapat sekolah jika nanti nilai siswanya tinggi.
Raport pun bisa dicetak ulang. Inilah salah satu kelemahan pemanfaatan IT untuk raport. Jaman dulu ketika raport masih tulis manual, tidak ada cerita ganti nilai.
Semoga siswa yang minta tugas untuk menaikan nilai kognitif, bisa lebih menghargai proses belajar mengajar. Tidak hanya mengejar nilai tinggi. Mendapat nilai tinggi TIK juga tidak jaminan bisa sukses kuliah di Jurusan Informatika.
Mari terus belajar 🙂

Tagged with: , , ,

Comments (11)

  1. Salam kenal Bu Nurita,
    bersyukur ibu tetap pada integritas Ibu dalam memberi nilai
    apalagi tidak hanya masa kini sebenarnya yang mengejar nilai atau tinggi-tinggian IPK, kita pun pernah memaksa diri hingga begadang padahal cuma untuk mencari nilai C
    nilai juga sebagai prestise ya bu – demi prestise apapun akan dilakukan

  2. Iya ibu benar. Hal itu selalu terjadi ibu, tak hanya nilai TIK. Saya bahkan menekankan pd sekolah, guru dan siswa bhw proses itu terjadinya seblm terjadi nilai akhir. Selagi nilai sebelum di rerata itulah batas akhir. Bahkn sehrsnya setiap langkh. Oleh sebab itu mending sy sibuk layani smp tuntas utk tiap NH melalui tutor sebaya dp hrs bohong sulapan nilai diakhir rerata nilai. Thx sharingnya. Salam perjuangan.

    • Pak Sukani : itu cerita tahun lalu, pakai kurikulum ktsp. utk kurikulum 2013 kan pelajaran TIK tidak ada hehehe.. sudah melakukan remedial, makanya nilai siswa tsb bisa pas KKM 🙂

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar