6

Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI), Anemia Gizi Besi dan Kurang Vitamin A (KVA), KEP (0)

Wahid Priyono, S.Pd. December 26, 2020

Upaya penanggulangan empat masalah gizi kurang ditingkatkan, yaitu (1) gangguan akibat kekurangan iodium (GAKI); (2) anemia gizi besi (AGB) dan kurang Vitamin A (KVA); dan (3) kurang energi dan protein (KEP).  Oleh karena keempat masalah gizi tersebut umumnya erat kaitannya dengan masalah kemiskinan, penganggulangannya sejauh mungkin dipadukan dengan upaya penanggulangan kemiskinan, terutama di daerah pedesaan.

1. Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI)

Perhatian lebih besar diberikan pada upaya penanggulangan masalah GAKI, mengingat dampak negatifnya terhadap perkembangan kecerdasan dan mental anak. Untuk itu, diadakan pengaturan keharusan untuk menambahkan zat iodium pada garam (iodisasi garam) untuk konsumsi. Demikian pula, kegiatan penyuluhan, pengawasan mutu, penindakan hukum atas pemalsuan mutu garam beriodium makin ditingkatkan. Karena lokasi penderita GAKI umumnya tersebar di daerah terpencil, tanggungjawab lebih besar daripada pelaksanaan iodisasi garam diserahkan kepada pemerintah daerah, terutama untuk daerah-daerah rawan GAKI. Pelaksanaannya merupakan upaya terpadu berbagai sektor dengan dukungan peran serta masyarakat dan dunia usaha. Sementara itu, melanjutkan upaya lain untuk penanggulangan GAKI, seperti pemberian kapsul iodium, iodisasi air minum, dan cara lain yang efektif dan efisien sesuai dengan perkembangan IPTEK yang ada.

2.Anemia Gizi Besi (AGB) Dan Kurang Vitamin A (KVA)

Penanggulangan AGB, terutama pada wanita hamil perlu ditingkatkan, dengan cara meningkatkan konsumsi makanan yang kaya akan zat besi disertai dengan pemberian pil besi secara komplementer pada kasus khusus dengan cara yang lebih  efektif. Upaya yang lain adalah fortifikasi bahan makanan yang banyak dikonsumsi penduduk rawan AGB dengan peran serta aktif masyarakat dan dunia usaha.

Dalam rangka penanggulangan KVA, upaya penyuluhan gizi terus dilakukan untuk meningkatkan konsumsi sayuran dan buah-buahan terutama bagi anak balita. Selain itu, secara lebih selektif pemberian kapsul Vitamin A dosis tinggi dilanjutkan terutama untuk daerah yang masih rawan KVA. Demikian pula, diupayakan fortifikasi Vitamin A pada bahan pangan tertentu dengan peran serta aktif masyarakat dan dunia usaha. Perhatian khusus akan diberikan untuk mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai dalam menanggulangi masalah KVA di berbagai daerah selama PJP 1 agar situasi yang telah membaik dapat dipertahankan dan ditingkatkan.

3.Kurang Energi Dan Protein (KEP)

Upaya penanggulangan KEP yang masih banyak diderita oleh wanita hamil, bayi, balita, dan anak-anak sekolah dasar terutama di desa-desa miskin perlu kiranya ditingkatkan. Oleh karena masalah ini sangat tergantung pada tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan keluarga, kegiatan penanggulangan ditekankan pada pentingnya keterpaduan kegiatan penyuluhan gizi, peningkatan pendapatan keluarga, peningkatan pelayanan kesehatan dasar dan KB dalam mewujudkan keluarga sejahtera, serta peningkatan peran serta masyarakat dalam gerakan UPGK (Upaya Perbaikan Gizi Keluarga) dan posyandu.

Daftar Pustaka:

  • Santoso, Soegeng dan Anne L.R. 1999. Kesehatan dan Gizi. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Sediaoetama, A.D. 2008. Ilmu Gizi. Jakarta: Dian Rakyat. Suhardjo dan Kusharto, C.M. 1992. Prinsip-Prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta: Kanisius.
  • Singarimbun, Masri. 1988. Kelangsungan Hidup Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • Suhardjo. 1996. Perencanaan Pangan dan Gizi. Jakarta: Bumi Aksara.
  • Supariasa, I. 2002. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar