9

FunMath : Belajar KPK dan FPB, Gampang Gampang Susah! (+7)

Fifin Agustin May 9, 2015


KPK dan FPB untuk memecahkan masalah sehari-hari.

Itu adalah bagan pengantar ketika kami melakukan pelatihan. Sebenarnya bukan pelatihan yang terlalu formal seperti yang anda semua bayangkan, tetapi lebih kepada sharing pengalaman mengajar.

Masalah utama yang dihadapi oleh teman-teman fasilitator di Rumah Belajar Samoja, adalah bagaimana cara mengajarkan KPK dan FPB kepada anak-anak, serta adakah media atau aplikasi dari KPK dan FPB yang dekat dengan pengalaman hidup anak-anak

Beberapa hari setelah saya dihubungi oleh teman di kalyANamandira, saya diminta untuk memberikan pelatihan kepada para fasilitator. Saya sempat bingung, jika saya memberikan materi kepada mereka sama seperti apa yang saya dapatkan dari guru saya waktu masih duduk di bangku sekolah, maka saya pikir, pelatihan akan menjadi sia-sia… Cukup memberikan mereka instruksi untuk membaca dan belajar dari buku paket saja, dan masalah beres.

Ternyata kenyataan yang akan dihadapi tidak semulus seperti apa yang saya pikirkan. Saya harus memberikan sesuatu yang lain dari konsep yang sudah ada, memunculkan ide-ide baru yang lebih menarik, dan yang penting membuat mereka paham terhadap konsep yang katanya susah itu.

DSC01164

Konsep awal yang saya berikan adalah mengenai pengertian kelipatan dan faktor. 

5×1=5

5×2=10

5×3=15

dst

maka kelipatan dari 5 adalah 5,10,15, …

Jadi, kelipatan suatu bilangan dapat diperoleh dengan cara mengalikan suatu bilangan dengan bilangan asli.

12

1    12

2     6

3     4

faktor dari 12 adalah 1,2,3,4,6, dan 12

Bilangan yang dapat membagi habis suatu bilangan lain disebut faktor.

Dari semua konsep yang ada, aplikasi lah yang paling penting. “Untuk bisa memecahkan masalah” adalah acuan pentingnya kita mempelajari konsep KPK dan FPB ini.

Lantas sebenarnya, konsep FPB dan KPK ini bisa diterapkan untuk menjawab permasalahan yang seperti apa sih?

Pada pertemuan ini, saya memberikan dua macam kasus, dan saya meminta teman-teman fasilitator untuk memecahkan masalah itu.

Kasus pertama.

Dengan media kalender yang tergantung di dinding ruangan, saya memaparkan sebuah cerita, seperti berikut ;

Des, kamu les bahasa Inggris tiap 5 hari sekali, dan kamu Li, les bahasa Inggrisnya setiap 7 hari sekali. Jika kalian les bersama tanggal 4 Maret 2012, kapan kalian bisa bertemu lagi untuk les bersama-sama?

jawab :

KPK dari 5 dan 7 adalah 35

dan, 35 hari dari tanggal 4 Maret adalah tanggal 8 April.

Maka, Des dan Li akan les bersama lagi pada tanggal 8 April.

DSC01163

Kasus kedua.

Dengan media piring dan cemilan yang mereka bawa, saya memaparkan cerita seperti berikut ;

Ri mau hajatan nih, dia punya 12 buah sale pisang dan 18 buah batagor pedas. Kira-kira, berapa piring paling banyak yang dia perlukan? Dan berapakah isi sale pisang dan batagor pedas pada masing-masing piring?

jawab :

FPB dari 12 dan 18 adalah 6

Maka paling banyak piring yang dibutuhkan adalah 6 buah piring.

lalu 12:6=2 dan 18:6=3

Maka masing-masing piring berisi 2 buah sale pisang dan 3 buah batagor pedas.

Mereka menjawab kedua kasus itu dengan suka-cita dan tawa, ditambah dengan celetukan Li, “Ih, amit-amit, siapa sih yang hajatan, pelit amat satu piring isinya cuma lima…” (^.^)

Pada dasarnya, masalah atau kasus seperti apapun, kita harus memahami dulu maksud dari kasus tersebut, sehingga kita bisa menjawab dengan pasti, konsep apa yang dipakai untuk memecahkan kasusnya.

Dan, perlu ditanamkan dalam benak masing-masing… Belajar Matematika itu menyenangkan lho!!

kalyANamandira, 11 Maret 2012

Salam edukasi.

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10

Comments (9)

  1. para penggemar matematika …. sy suka cara ibu menjelaskan (enaktif), harusnya guru-guru kita seperti ibu menjelaskannya.
    =================
    kalau boleh berbagi …. bagi siswa kita kelas V atau VI pemaparan ibu bisa diterima, yang jadi kendala adalah ketika mereka kelas III dan IV, kebanyakan guru kita langsung pakai pohon faktor atau matrik/tabel. hal ini yang kurang memahamkan konsep faktor dan kelipatan.
    =================
    Kenapa kalimat ada yang dicoret?
    =================
    penanam konsep kelipatan untuk kelas bawah sy paling setuju dengan angkah ibu perama dan kedua, dengan perkalian dan pembagian biasa …. kemudian dicari persekutuannya. karena kebanyakan anak-anak kita jika langsung pakai pohon faktor kurang memahami persekutuan 🙂

  2. selamat pagi….. hahahaha,,, yang punya tulisan baru muncul lagi nih…

    terima kasih atas dukungan dan masukannya, itu kalimat yg dicoret sebenarnya kalimat yg cukup penting, seperti arti atau “pengertian” metode saya saja sih pake coretan, di bold jg sebenarnya tidak masalah. ^.^

    Mas Subakri, saya lumayan putar otak juga sih saat membuat metode ini, karena belajar dari jaman saya sekolah dulu, benar sekali saya juga diajarkan sesuatu yg abstrak, sehingga kemampuan saya jd bukan menelaah, melainkan menghafal rumus yg diberikan guru saat itu.Bertolak dari sana, saya coba mencari cara supaya sesuatu yg cukup abstrak itu menjadi lebih konkrit dan aplikatif untuk anak. jadinya mengarah pada problem solving…

  3. Pak Umar, wah! hebat! terima kasih sudah berbagi aplikasinya,,, sangat membantu guru untuk mengajar di sekolah!

    Saya bangga bisa jadi member Guraru, selain bisa sharing pengalaman dan aplikasi, juga sebagai wadah untuk mengembangkan diri….

    Salam edukasi.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar