1

Empati dalam PJJ di Pinggiran Kota Jakarta (0)

suciptoardi October 18, 2020

Tema :Peran dan Fungsi Teknologi Favorit Guru dalam Mendukung Proses Pembelajaran BDR (Belajar Dari Rumah) Selama New Normal

Oleh: Sucipto ardi – Guru SMA Negeri di Pinggiran Jakarta

Di Jakarta, dan di beberapa wilayah lainnya di Indonesia, sudah meliburkan sekolah terkait mewabahnya Wuhan Covid-19. Mulai Maret 2020, proses pembelajaran Belajar Dari Rumah (BDR) selama new normal hingga kini terus berlangsung. Untuk di DKI Jakarta, berdasarkan info di WAG (WhatsApp Group), pihak dinas memberikan uraian sebagai berikut:

Silahkan gunakan media/aplikasi yg bisa membantu terlaksananya pembelajaran jarak jauh. Misal, WA, line, Sipintar,  google class room, rumah belajar, Sekolahmu, quipper , e learning di web sekolah atau yg lainnya.

Saya meyakini, dari berbagai pilihan tersebut memiliki kekuatan dan kelemahan. Namun demikian, memperhatikan murid sebagai pemakai/pengguna/konsumen, rasanya harus menjadi fokus/prioritas utama. Bagi murid yang kondisi keuangannya baik, maka penggunaan aplikasi yang banyak memakan kuota pulsa bukanlah masalah, terlebih handphone (Hp) yang dimilikinya begitu responsif/support terhadap aplikasi portal video atau web. Pernahkah berfikir, kalau anak murid kita, profesi orang tuanya adalah tukang ojek online ?, buruh lepas ?, yang merasakan dampak pukulan telak ketika sekolah libur ?. Bagaimana jika orang tua mereka pekerja kantin sekolah yang jelas-jelas gulung tikar karena sekolah libur ?, atau pekerjaan lainnya yang secara ekonomi kurang beruntung ?. Di sinilah dibutuhkan “rasa — sebuah empati” untuk memilih media pembelajaran BDR (aplikasi) yang ramah terhadap mereka, dan juga friendly user untuk guru.

Guru diharapkan mampu “mengganti” proses pembelajaran tatap muka dengan proses pembelajaran non-tatap muka. Apa artinya ini?, guru diajak untuk selektif memilih aplikasi/media yang mirip pola pembelajaran tatap muka, dimana bisa melihat gurunya, bisa tanya jawab (interaktif), bisa komentar tulisan, bisa absen real time, sekaligus, (sekali lagi) ramah bagi mereka yang kurang beruntung secara kuota internet.

Memperhatikan hal demikian, menurut pertimbangan saya, media pembelajaran jarak jauh (aplikasi) yang tepat ialah WAG (Whats App Group). Ini adalah favorit saya hingga kini. Seperti apa teknis pelaksanaannya, berikut panduannya:

  1. Guru menghubungi ketua kelas/Pj.mata pelajaran agar dibuatkan WAG Mata Pelajaran dengan admin Guru dan 1 murid. Oleh karena perlu keikutsertaan ortu dalam KBM, maka 1 nomor ortu dapat dimasukkan dalam grup. Kepala sekolah atau wakasek/staff kurikulum, boleh juga bergabung.
  2. Ketika waktu belajar yang sudah ditentukan, guru memulainya dengan memberi salam dan motivasi positif dalam mensikapi Wuhan Covid-19, mengingatkan protocol kesehatan 3M adalah salah satunya. Berikutnya, silahkan mengabsen real time. Contoh: saya akan mengabsen seperti biasa. Silahkan siswa tulis absen atau (saya seringnya memakai: voice note) dibawah ini, saya tunggu 5 menit ya….saya yakin, siswa segera menyebutkan nama lengkap mereka, nomor absen, dan hari absennya.
  3. Setelah absen, guru menerbitkan bahan ajar, dapat berupa catatan ringkas guru dikertas/buku lalu di foto, video pembelajaran dengan guru sebagi aktor atau orang lain, animasi, kunjungi blog guru, dan voice note. Boleh juga seperti ini: baca buku halaman sekian. Berikan waktu literasi baca ini sekitar 30-60 menit (disesuaikan dengan mata pelajaran masing-masing). Dalam hal ini, guru tidak memiliki kewajiban membuat bahan ajar. Guru bisa copy-paste dari situs terpercaya, foto dari buku atau yang sejenis. Namun demikian, membuat bahan ajar sendiri oleh guru adalah pilihan terbaik karena beliaulah yang paham perjalanan kompetensi murid.
  4. Selama proses literasi atau setelah selesai membaca, dibuka sesi tanya jawab. Pertanyaan dapat ditulis, atau melalui voice note. Saya yakin, teknik voice note akan menjadi pilihan favorit karena bisa langsung merespon, seperti bertanya, berkomentar, pendek kata bisa jadi sarana interaksi langsung. Persis KBM regular bukan?, bedanya cuma guru dan siswa tidak tatap muka. Untuk mata pelajaran yang mengharuskan menggunakan gambar, maka pilihan rekaman video untuk menjawab menjadi pilihan segera.
  5. Untuk mengukur proses tersebut, maka latihan soal dapat diberikan. Jangan lupa, guru WAJIB memberikan testimoni/komentar proses KBM ini. KBM selesai, jangan lupa tutup dengan do’a dan motivasi positif seperti diawal membuka pelajaran.
  6. Di hari berikutnya, guru dapat menerbitkan hasil berupa nilai, dan tentunya pujian wajar.
  7. Untuk punishman, seperti siswa yang terlambat online, atau terlambat menyelesaikan tugas, pembinaannya dapat berupa nasehat, dan ketegasan guru. Telat kumpulkan tugas, misalnya dapat tugas tambahan, atau dapat penambahan nilai minus 5. Silahkan pilih yang paling ampuh dan yang paling sesuai/tepat dengan karakter murid di kelas masing-masing.
  8. Penggunaan WAG seperti uraian no. 1-7, dengan demikian pembelajaran jarak jauh ini “nyaris” serupa dengan KBM tatap muka, seperti absen real time, bisa “tatap muka (maya)” melalui video, bisa interaksi langsung (tanya jawab) dengan guru melalui voice note. Komentar (termasuk pujian) dapat tersampaikan melalui tulisan (ketik/tangan), voice note, atau guru bisa kirim video untuk memujinya dengan mengacungkan 2 jempol untuk siswa.

Bagaimanakah monitoring pihak kepsek, pengawas, atau dinas ?. jawabnya sederhana, ketika mereka memberikan pilihan media pembelajaran jarah jauh (WAG salah satunya), saya yakin mereka sudah memikirkan bagaimana cara memonitornya. Mereka yang di sana bisa melihat proses pembelajaran via WAG dengan cara mengirim capture ke pihak terkait, bahkan dalam proses, kalian bisa masuk ke group; kepsek boleh, wakasek kurikulum/staff silahkan, oya ortu saja juga ikut. Mudah bukan?.

Selanjutnya, uraian no. 1-8 diatas, dapat diartikan sebagai keuntungan pembelajaran jarak jauh dengan media WAG. Seperti apa kekurangannya, berikut uraiannya:

  1. Murid akan memiliki tambahan sebanyak 14-16 grup baru. Artinya, muatan HP tambah, dan bekerja lebih ekstra/berat. Siswa pasti tau apa yang dilakukan dalam mensiasatinya, misal membuang video tik-tok yang gak mendidik.
  2. Cara pembelajaran via WAG akan menjadi masalah ketika, siswa tidak punya HP, Hp siswa baru semalam dimaling orang, Hp tidak support WA, tidak punya kuota internet, tidak memiliki aplikasi WA, kamera hp rusak, sound hp untuk headset mati, hp disita emak karene sering Tiktokan, Hp dimainkan adik, atau dibawa emaknya….

Sebagai penutup, semoga tulisan ini menjadi pilihan guru dalam memilih media pembelajaran jarak jauh, yang disesuaikan kondisi murid dan kondisi saat ini. Dengan kata lain, saya memilih teknologi WAG dan menjadi favorit dalam PJJ dikarenakan wujudnya mampu memudahkan dan ramah terhadap kantong murid-murid kami. Semoga ini menjadi inspirasi bagi murid bahwa memahami orang lain dan memberikan kemudahan, sama pentingnya dalam menggunakan teknologi yang tepat untuk kepentingan semua.  

#WritingCompetition #NewNormalTeachingExperience 

Comments (1)

  1. Selamat Malam 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar