0

Durian (0)

AfanZulkarnain May 8, 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Aku sangat tidak menyukai durian. Entahlah, aroma khas raja buah itu sangat menusuk hidungku dan membuat asam lambungku bergejolak naik ke atas menyebabkan mual yang berkepanjangan. Bukan hanya itu, aroma buah tersebut memantik migrain yang sakitnya bukan kepalang.

Hiperosmia. Itu yang aku ketahui tentang kondisiku ini.

Hiperosmia yang merupakan kepekaan ekstra terhadap suatu aroma. Ketidaksukaan ini berujung pada kegelisahan dan depresi, yang bisa mengganggu lingkungan sekitarnya. Beberapa jenis bau yang tidak disukai adalah parfum, wewangian artifisial, dan produk pembersih.

Sekitar 25-50 persen pengidap hiperosmia mengalami migrain saat indera penciumannya menjadi lebih peka. Namun ada kondisi lain yang bisa mengacu hipersensitivitas hidung. Misal kehamilan, alzheimer, dan penyakit autoimun. Penyebab lain adalah alergi yang memicu kepekaan hidung.

Itulah mengapa aku selalu menghindar saat orang-orang terdekatku tengah menyantap durian. Sempat aku bertanya dalam hati, apa enaknya buah ini? Tapi kembali lagi, enak atau tidak enak itu masalah selera. Bagiku, aroma durian dan bahkan cita rasa buahnya sangat memuakkan.

Kabar mengenai aku yang tak suka durian menyebar. Semua rekan kerjaku di sekolah tempat aku mengajar tahu. Tak hanya itu, siswaku pun tahu. Entahlah darimana mereka mendapatkan informasi tersebut. Yang jelas, aku pernah menjadi “korban” kejahilan mereka.

Aku ingat betul hari dan bulan terjadinya insiden tersebut. Rabu bulan Februari 2018. Tanggalnya aku lupa. Aku sudah menyiapkan segala macam hal yang akan aku gunakan untuk pembelajaran matematika di hari itu. Seperangkat media pembelajaran yang aku buat semalaman.

Bagi guru matematika, media pembelajaran sangatlah membantu untuk memahamkan anak-anak mengenai konsep materi. Aku sudah membayangkan pasti pembelajaran hari itu akan sangat berkesan. Mediaku sangat asyik, menurutku. Sebuah papan warna-warni yang di atasnya tertempel paku-paku kecil yang masing-masing memiliki jarak yang sama. Aku menyediakan beberapa pion yang kubuat dari sterofoam warna-warni yang nantinya akan ditancapkan di paku-paku tersebut. Aku ingin memahamkan materi mengenai baris, kolom, dan ordo matriks pada anak-anak.

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah menuju suatu kelas. Tangan kananku memegang papan, sementara tangan kiriku memegang tas plastik berisi pion-pion sterofoam. Langkahku sangat tegap. Hentakan sepatu pantofel warna hitamku sudah begitu menunjukkan bahwa aku sangat bersemangat hari itu.

Namun bara semangat tersebut mendadak padam saat aku memasuki ruangan kelas. Aroma menyengat menusuk hidungku. Aroma buah yang membayangkan saja bentuknya sudah membuatku mual, apalagi menghirup aromanya. Durian. Mendadak kepalaku pusing. Seakan ada belasan jarum menusuk kepalaku. Pusing sekali. Sementara perutku mulai bereaksi, rasa mual bergejolak. Mendadak aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Walhasil, papan dan tas plastik media pembelajaran yang sedari tadi ku pegang jatuh ke lantai.

Aku sudah tak tahan. Aku terhuyung melangkah keluar kelas. Beberapa kali aku meraba-raba tembok seakan ingin mencari pegangan. Terdengar suara anak-anak yang amat cemas. Mereka mengikutiku keluar kelas. Aku tak peduli, aku langsung menuju kamar mandi. Di kamar mandi aku coba memuntahkan isi perutku. Biasanya setelah muntah, rasa pusingku mereda. Dan benar adanya. Setelah aku keluarkan isi perutku, rasa pusing itu hilang. Aku bergegas menuju UKS. Aku meminta minyak kayu putih yang aku oleskan di bawah hidung. Aroma minyak kayu putih seakan mengajak hidungku melupakan aroma durian yang menyengat itu.

Aku sudah agak baikan. Baiklah, aku pun menuju kelas. Untuk menghindari bau yang menyengat, aku menggunakan masker. Sesampainya di kelas, semua anak berdiri dan menunduk. Ardhit si ketua kelas menghampiriku. Ia menyalimiku. Mencium tanganku.

“Pak, kami minta maaf. Ini semua salah saya. Saya yang merencanakan membawa durian ke sini. Saya kira hari ini ada ulangan matematika. Tapi ternyata Bapak akan memberi materi pelajaran.”

Ia menyampaikan rasa bersalahnya. Aku menyilahkan ia kembali ke tempat duduk. Sebelum aku memulai pelajaran, aku pun menyampaikan bahwa aku sudah baik-baik saja. Aku menceritakan kondisiku yang memang tak bisa menghirup aroma durian. Aku juga menyampaikan bahwa aku telah memaafkan mereka. Aku menganggap itu adalah suatu kejahilan anak-anak seperti biasanya, namun tetap aku menasihati mereka untuk tidak mengulangi hal seperti itu lagi karena kalau berlebihan akan sangat membahayakan. Mereka mendengar nasihatku secara seksama. Beberapa ada yang maish menunduk, beberapa menatapku dengan tatapan penuh penyesalan. Aku memilih untuk tidak memarahi mereka. Aku tak ingin mood belajar mereka terganggu setelah aku marahi.

Aku menyudahi ceramah singkatku, lalu aku ajak mereka untuk mempelajari ordo matriks. Tentu dengan media pelajaran yang telah aku buat. Tak lupa aku minta beberapa di antara mereka menggunakan media pembelajaranku itu. Bahkan di akhir pelajaran aku adakan games dengan alat peraga tersebut yang membuat mereka tertawa cekikikan melupakan insiden aroma durian.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar