11

Duka Guru Te-I-Ka Duka Kita juga (+3)

M. Rasyid Nur February 20, 2014

BUKAN latah, bukan pula iba. Walaupun di Karimun –tempat saya berbagi: menerima dan memberi– belum terlaksana karena belum melaksanakan kurikulum 2013, tapi di tempat lain seperti –sebagian– di Jakarta, Surabaya dan beberapa kota lainnya sudah menjadi fakta. Tentang apa? Itulah dia, perihal hilangnya Mata pelajaran (MP) Teknologi Informasi dan Komunikasi alias TeIiKa di sekolah-sekolah. Maksudnya di SLTP dan SLTA karena di SD memang belum ada.

Saya katakan bukan latah karena topik ini memang tengah menjadi semacam imbauan oleh salah seorang guru TIK yang juga bloger ternama, Om Jay alias Wijayakesuma serta beberapa nama lainnya. Catatan ini saya luncurkan, jujur saja memang karena merespon imbauan rekan-rekan guru TIK yang dipublish di blog Guraru dan di Facebook itu. Tapi sama sekali bukan karena latah apalagi iba sesama hamba Negara. Yang saya pikir dan rasa kita semua (baca: guru) memang layak untuk ikut memikirkannya. Ikut memberi usul-saran dan apa saja terhadap satu masalah, mengapa Pemerintah menghapus MP TIK di kurikulum barunya?

Selama ini, justeru karena kegigihan teman-teman inilah para guru (non TIK) dan para siswa bisa cepat dan merasa mudah memahami dan mempraktekkan TIK di sekolah atau dimana saja walaupun ada juga yang tidak belajar secara khusus. Secara otodidak memang bisa untuk oerpasinya tapi peran guru TIK tetaplah ada.

Para guru TIK juga bekerja atas perintah dan SK yang kualifikasi ilmu sesuai ijazahnya juga sama-sama diterbitkan oleh perguruan tinggi ternama. Mereka tidak mengajar secara liar dan tanpa izin Pemerintah. Pemerintah pula yang menggaji mereka seperti menggaji para guru dengan keahlian dan MP yang lainnya. Lalu mengapa di Kurikulum 2013 harus dinyahkan dan mereka seolah-olah tidak berguna?

Bahwa kegiatan berkaitan dengan TIK (komputer) adalah sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat modern zaman ini, dan dengan itu Pemerintah memandang tidak lagi perlu belajar TIK secara khusus karena setiap saat akan berhadapan dengan TIK? Apakah cara pandang itu benar adanya? Apakah solat dan kegiatan keagamaan lainnya yang juga bagian dan sudah menjadi kegiatan keseharian, tidak perlu juga untuk dipelajari? Dan tidak perlu pula masuk kurikulum?

Saya termasuk yang tidak setuju kalau TIK harus hilang dari kewajiban untuk mempelajarinya. Benar TIK bisa saja diaplikasikan dalam keseharian tanpa harus belajar. Benar TIK bisa saja dipahami dan dipelajari tanpa guru. Tapi apakah hanya sekedar mengoperasikannya saja? Bukankah di Perguruan Tinggi ternama (dalam negeri maupun di luar negeri) pada jenjang S1 bahkan S2 masih tetap dipelajari hal-hal yang berbau TIK? Lalku memgapa di SLTP dan di SLTA harus hilang?

Sekali lagi, saya setuju kalau rekan-rekan guru TIK terus berjuang dan bertanya perihal hilangnya TIK dari kurikulum pendidikan kita. Saya dan rekan-rekan guru nonTIK lainnya juga harus ikut dalam barisan ini. Bukan karena pertemanan tanpa logika, tapi ini justeru karena melawan arus logika.

Duka guru TIK adalah duka kita juga. Duka kita bersama. Kalaupun guru TIK tidak akan menangis dan meringis, tapi keputusan hilangnya MP TIK dapat melahirkan orang-orang bengis. Kita harapkan Pemerintah mau kembali memikirkannya. Tidak ada ruginya TIK tetap dipelajari dan para gurunya terus berkembang demi bangsa ini. Sekian, terima kasih!***

About Author

M. Rasyid Nur

Menjadi guru (honorer) sejak tahun 1980, ketika masih mahasiswa. Selanjutnya menjadi PNS (aktif) sejak 1985 dengan SK TMT 01.03.1984 dan terus menjadi guru hingga sekarang. Insyaallah akan purna bakti pada 11.04.2017. Obsesi, "Berharap kehebatan murid melebihi kehebatan gurunya."

View all posts by M. Rasyid Nur →

Comments (11)

  1. Semua karna kurangnya pemahaman tentang TIK. TIK hanya diidentikkan dengan Ms Word, Excel dan Ms Office lainnya.
    Seandainya mereka “mau tahu” bahwa masih banyak hal lain yang bisa digali dari TIK, tentu tidak akan buru-buru menghilangkan TIK dari daftar mapel di sekolah.
    Sayangnya..mereka “tidak mau tahu”!!!

  2. Artinya harus diperjuangkan lagi kesamaan pemahaman itu, ya Bu Amiroh? Guru non-TIK ikut berbicara agar kesamaan itu bisa terjadi. TIK tentu saja tidak sekedar MS Word, Excel dan office lainnya. Saya setuju itu walaupun saya untuk ketiga program itu saja belum terlalu menguasai, hehe. TIK pasti akan terus berkembang bersama perkembangan kehidupoan manusia itu sendiri. Artinya, harus terus dipelajari.Jadi, harusnya juga tidak dihilangkan. Salam.

  3. Semangat… ! Saya dan teman-teman di kelas ikut memberikan dukungan kepada Bapak/Ibu Guru kami yang memperjuangkan di kembalikannya MP TIK dalam Kurikulum 2013 🙂 Mari kita lihat bersama site yang saya buka sejak tahun 2002 ini >> http://www.educypedia.be/education/educationopening.htm di dalamnya memperlihatkan bagaimana TIK bisa berperan sangat luas, jadi sayang sekali kalau dasar-dasar TIK harus ditiadakan, betapa pendidikan kita akan sangat jauh tertinggal. Sangat setuju dengan Bu Amiroh, TIK bukan hanya sekedar Ms Office saja. Sebaiknya MP TIK bukan ditiadakan tapi justru lebih dikembangkan.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar