0

Doa untuk Pipiet Senja, Sang Novelis Sejati (+1)

Siti Mugi Rahayu March 18, 2013

Entah mengapa saya selalu suka pada penulis, apalagi yang sudah menelurkan banyak tulisan. Lebih seru lagi jika tulisan-tulisan yang ditulisnya meninggalkan jejak indah di hati. Saya selalu penasaran untuk bisa bertemu orang-orang ini. Dalam hati saya, kok bisa ya orang memainkan kata-kata hingga bisa mengajak emosi orang yang membacanya ke mana dia mau? Buat saya, sungguh hebat penulis jika bisa mengajak pembaca merasa bagian dari cerita yang dia tulis atau merasa ada pada situasi yang digambarkan lewat tulisan.

Walhasil, saya sudah bertemu Ahmad Fuadi yang berbagi pengalaman tentang bagaimana menulis novel Negeri 5 Menara pada saat pelatihan menulis di Rumah Perubahan yang pada saat itu filmnya sedang dibuat. Pengalaman membuat modul kurikulum perdamaian yang bahkan sempat diadopsi oleh negara-negara lain untuk melengkapi kurikulum sekolahnya juga pernah saya ikuti dari penulisnya, Irfan Amalee. Semua proses penulisan yang dishare oleh para penulis ini sangat inspiratif bagi saya. Namun, pengalaman bertemu penulis Pipiet Senja yang menurut saya agak lucu.

Akhir tahun 2012 saya mengikuti pelatihan menulis untuk guru yang dikemas dalam acara Teacher Writing Camp. Acara ini didukung oleh Acer, Guraru, dan Penerbit Indeks. Dalam dua hari ini kami menginap di Wisma UNJ. Hari pertama, selagi menunggu para peserta lain datang, kami berbincang sesama peserta dan panitia. Berbagi cerita tentang kegiatan masing-masing. Maklumlah, kami semua adalah guru.

Di lingkaran kursi, saya memang melihat ada panitia sedang berbincang dengan seorang ibu. Ibu ini sederhana. Saya meliriknya sebentar, sudah berumur. Tak ada yang menarik karena saya mengira si ibu adalah tamu yang sama dengan saya. Namun saya jadi sedikit menguping pada obrolannya yang menyinggung tentang buku-buku yang akan turut dipajang di meja belakang. Maksudnya tentu saja, agar para peserta bisa melihat-lihat dan membeli bukunya. Saya mengeryitkan dahi. Siapakah perempuan ini?

Saya mencoba mengingat-ingat pembicara yang akan tampil dari dua hari pelatihan kami. Satu-satunya perempuan adalah Pipiet Senja. Tapi… apakah orang ini yang dimaksud dengan penulis novel keren itu ?

Saya segera mencari panitia dan mulai bertanya, “siapa sih dia?”. Jawabannya sama dengan dugaan saya : Pipiet Senja.

Waww. Saya agak terpana dan terdiam sesaat. Ternyata Pipet Senja yang selama ini saya kagumi karya-karyanya adalah seorang ibu yang tidak lagi muda. Siapapun kalau membaca novel-novelnya tidak akan mengira dia akan seusia ibu saya, soalnya bahasanya gaul meremaja. Renyah dan tidak garing. Banyaknya bahasa yang mengusung ke-ABGan membuat saya mengira usianya pun masih tidak jauh dari ABG. Tapi apa boleh buat, saya salah besar. Ternyata Pipet Senja memang sudah berusia senja… ada hubungannya dengan namanya tidak ya ?

Sebaiknya kita tinggalkan saja bilangan usia. Saya lebih tertarik pada bilangan seratus lebih bukunya yang sudah terbit. Pipiet Senja jadi semakin mengagumkan karena di balik tulisan-tulisannya yang ceria, ternyata ada perjuangan luar biasa melawan sakit Thalasemia yang dideritanya. Beliau harus secara rutin menjalani transfusi darah. Bahkan banyak tulisannya lahir ketika proses transfusi darah ini berlangsung.

Penampilannya yang sama sekali jauh dari kesan ngartis juga yang membuat si teteh Pipiet pernah digiring ke terminal 3 Bandara Soeta yang merupakan terminal khusus TKW. Maklum saja, penulis kelahiran Sumedang ini dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi seorang penyebar Teror bagi para pengumpul devisa di berbagai negara. Dia adalah sang Teroris yang menyebarkan Teror Menulis bagi para TKW. Beliau memang sangat ramah dan mau berbagi ilmu untuk menulis cerita.

Sehari bersama Pipiet Senja membuat saya mengenal sang idola dan kisah seputar kehidupannya. Semoga saja virus menulis yang disebarkan Teh Pipiet Senja membuat saya juga kecanduan menulis.

Salam sehat ya Teteh…

Tulisan di atas pernah saya tulis di Kompasiana. Kabar terakhir yang saya dengar adalah Pipiet Senja masih sakit, namun dengan cobaan lain yang membuat hati pilu. Karena proses perceraiannya dari suaminya, maka asuransi kesehatan Askes yang selama ini cukup membantu teteh untuk berobat kini terputus. Walhasil, segala biaya berobat harus dibiayai sendiri.

Demi kartu sehat, teteh sekarang merelakan pindah kewarganegaraan menjadi warga DKI. Namun, karena waktu dan kondisi, kartu sehat belum sempat terurus. Untuk obat normalisasi zat besi setelah transfusi saja bisa mencapai 22 juta. Masih untung, transfusinya sudah mendapat jamkesthall dari Yayasan Thallasemia. Menurut Teh Pipiet, dia juga harus membeli obat yang harga satu kapolet berisi 7 butir adalah; 1 juta 367 ribu, sedangkah teh Pipiet membutuhkan 180 butir per bulannya. Ini bisa dibaca di Blog Pipiet Senja.

Demi biaya yang tidak sedikit ini, akhirnya Butet sang anak merelakan Pipiet Senja menjual rumah kontrakan 12 pintu di Jalan Raden Saleh 4 No 31 Rt.03/Rw 05, kelurahan Sukmajaya, Depok. SHM, IMB, harga 275 juta, sudah termasuk pajak pembeli, balik nama dan Notaris. Entah rumah itu sudah ada yang meminati atau belum.

Teteh Pipiet Senja, semoga ada jalan yang mudah dari Yang Maha Memiliki. Semoga Pipiet Senja bisa kembali sehat dan beraktifitas seperti biasa. Pertemuan kita adalah takdir, sehingga saya bisa mengirimkan doa cinta ini buat Teteh.
Peluk dari aku…

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar