1

Disiplin Positif Ala Kelas Virtual (0)

Ria Eka Lestari October 18, 2020

Mengawali tahun pelajaran baru merupakan hal yang paling dinantikan siswa dan guru. Menikmati suasana kelas baru, memilih meja, loker baru, peralatan tulis baru, buku baru, bahkan penampilan juga baru. Orang tua biasanya terlibat di bidang ini. Memotong rambut anak, mengenakan pita rambut baru, memakai pin jilbab yang baru, kaos kaki, sepatu, dan lain sebagainya.

            Hari pertama masuk sekolah biasa dikenal dengan sebutan Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Momen ini adalah momen yang biasanya dikemas dengan kegiatan yang menggembirakan siswa. Bahkan, Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemdikbud mengingatkan agar seluruh Dinas Pendidikan ikut memantau penyelenggaraan. Diharapkan, jangan sampai terjadi perundungan bagi siswa baru.

            Tak hanya siswa, guru pun sangat mendambakan momen ini. Satu pekan pertama biasa digunakan guru kelas untuk membuat kesepakatan-kesepakatan kelas. Ini dimaksudkan agar ke depan, guru kelas mudah mengendalikan dan memantau siswa selama di sekolah. Proses mengenali karakter siswa dalam satu kelas juga dirasakan guru kelas dalam tujuh hari itu. Tentu, hal ini sangat membantu guru kelas untuk menentukan bagaimana strategi pembelajaran yang tepat untuk siswa di kelasnya.

            Budi Purnomo (2017) menuliskan dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Strategi Guru dalam Pelaksanaan Pengelolaan Kelas di Sekolah Dasar” yang diterbitkan dalam Jurnal Gentala Pendidikan Dasar 2 (2): 237-255. Beliau menyampaikan bahwa strategi guru dalam pelaksanaan pengelolaan kelas antara lain adalah guru melaksanaan pengorganisasian kelas dengan membentuk organisasi kelas, daftar piket, dan tata tertib kelas yang memilki tujuan agar kelas lebih terorganisir dan siswa memiliki arah dalam bertanggung jawab atas kelasnya.

            Dalam penataan tempat duduk, guru meletakkan siswa sesuai dengan kondisi fisik, psikologis, dan model pembelajaran yang diterapkan di dalam kelas. Alat-alat pelajaran tertata rapi, ruang kelas terpelihara dengan baik, bersih, dan nyaman, pencahayaan cukup, ventilasi berfungsi, serta dinding kelas diberi warna yang menarik untuk siswa. 

            Maka, saat awal tahun pelajaran 2020/2021 dimulai dengan sekolah dalam jaringan (daring), semua serasa ambyar. Siswa mulai kehilangan semangat belajarnya. Guru mulai memutar otak mencari strategi yang tepat untuk menyampaikan kegiatan MPLS yang tetap kreatif dan menyenangkan. Di sisi lain, guru melupakan satu hal yaitu kesepakatan kelas.

            Ketika hari pertama masuk sekolah secara virtual dimulai, guru kelas merasakan kewalahan yang luar biasa. Siswa mulai menunjukkan rasa penasarannya terhadap berbagai layanan di platform daring. Segala tombol di-klik tanpa melihat waktu. Raise hand, jempol, tepuk tangan, gambar gelas, hingga mengaktifkan microphone dan berkomentar saat guru menjelaskan.

            Luar biasa tak bisa dikendalikan hingga guru harus mematikan penuh microphone peserta dan baru memberi kesempatan pada siswa tertentu yang ditunjuk untuk mengaktifkan microphone-nya dan menjawab pertanyaan. Sungguh menyita waktu dan konsentrasi guru yang berperan sebagai pengajar dan host dalam waktu yang sama.

            Belum lagi dengan siswa yang mulai mencoba mencorat-coret layar saat guru melakukan share screen. Hmmm, pembelajaran jarak jauh yang berjalan baru sepekan membuat guru mabuk kepayang dibuatnya. Muncullah kesadaran akan pentingnya komitmen di kelas daring. Guru yakin, komitmen yang satu paket dengan konsekuensi logisnya akan membuat siswa lebih disiplin tanpa hukuman.

            Bekti Prastyani, seorang Fasilitator Nasional Sekolah Ramah Anak (SRA) menyampaikan dalam Sosialisasi SRA secara virtual (2020), sekolah daring tetap harus didesain ramah anak. Tiga pilar SRA harus terus menjadi ruh pembelajaran jarak jauh. Sekolah, siswa, dan orang tua harus terlibat penuh dalam menentukan komitmen dan konsekuensi logis dalam kelas daring.

            Oleh karena itulah, dalam sesi MPLS, sebuah sekolah dasar di Kabupaten Gresik yaitu SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) mencoba mengundang wali siswa jenjang kelas IV untuk ikut masuk dalam kelas virtual putra-putrinya. Selama satu jam ke depan, guru kelas memandu berjalannya penyusunan  komitmen dan konsekuensi logis antara tiga pilar.

            Siswa diajak berpikir, agar kelas virtual kita menyenangkan, apa ya kira-kira yang perlu kita sepakati? Oh, Si Fulan menyampaikan masuk room tepat waktu. Baik, apakah Mama Papa setuju? Wah, ternyata Mama Papa mengacungkan jempol semua. Nah, jika ada yang terlambat, apa yang harus dilakukan ya? Di sinilah proses konsekuensi logis disusun. Biarkan anak berpendapat terlebih dahulu, agar konsekuensi yang nantinya harus mereka jalani, serasa keluar dari diri mereka, bukan hasil paksaan orang dewasa di sekitarnya, dalam hal ini orang tua dan guru.

            Semua poin-poin dalam kelas daring dari awal masuk hingga menggunakan fitur chat dan mengaktifkan microphone, disusun bersama dalam sesi ini. Mama Papa boleh menanggapi atau memberikan usulan, dan hanya akan disahkan jika disetujui oleh siswa. Guru Kelas berperan sebagai moderator yang menjembatani proses diskusi, mendokumentasikan, serta memberi saran jika diskusi dirasa tertahan.

            Dua hingga tiga pekan menjalani tata tertib kelas virtual ini sangat terasa perbedaannya. Siswa mulai berangsur mampu menjaga sikap karena tahu akan konsekuensi logis yang mereka susun kemarin. Siswa mulai tahu kapan harus mengaktifkan microphone mereka. Siswa mulai bisa memanfaatkan kolom chat sesuai dengan fungsinya sebagai diskusi materi pembelajaran.

            Di sinilah, secara tidak langsung tertanam karakter siswa yaitu respect to others atau saling menghargai. Guru menghargai siswa yang ingin berpendapat dengan menekan tombol raise hand, atau meninggalkan komentar di kolom chat. Siswa juga menghargai guru yang sedang menjelaskan di kelas daring. Siswa juga menghargai temannya yang sedang mengemukakan pendapatnya.

            Inilah pentingnya menerapkan disiplin tanpa hukuman di kelas virtual. Irfan Amelee menuliskan dalam bukunya yang berjudul “Disiplin Positif”, melalui komitmen dan konsekuensi logis, sikap disiplin akan muncul dari kesadaran internal siswa, bukan kontrol dari luar. Di sinilah guru dan orang tua menjalankan perannya sebagai detektif, bukan polisi atau hakim atau jaksa. Setiap kesalahan siswa, dicari benar apa akar permasalahannya, disusunlah komitmen dan konsekuensi logisnya. Bukan menyusun aturan dan hukumannya.

#WritingCompetition

#NewNormalTeachingExperience

Comments (1)

  1. Selamat Siang 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar