5

Dirindukan Murid? Mimpi kali! (+3)

Botaksakti September 17, 2014

“Jadilah guru yang dirindukan anak muridmu! Ada solusi?”

Begitulah bunyi status FB salah seorang teman. Jujur, saya agak terhenyak membaca tulisan itu. Bagaimana mungkin hal itu masih menjadi pertanyaan teman tersebut? Apalagi, dari nadanya tercium bahwa hal seperti itu merupakan hal baru baginya.

Rasanya, jargon seperti itu bukan barang baru lagi dalam dunia pendidikan. Andai semua guru memahami sejak awal tentang filosofi keguruannya, boleh jadi kesadaran itu akan tercipta dengan sendirinya. Kenapa demikian?

Guru sejatinya bukan siapa-siapa manakala tidak punya apa-apa. Yang kemudian membedakannya dengan yang lain barangkali adalah bahwa guru memiliki kelebihan dalam banyak hal. Minimal, guru memiliki pemahaman lebih baik karena ia dituntut untuk menjadi pemandu. Siapa yang dipandu? Tentu bukan sekedar wisatawan yang berjalan-jalan menikmati pemandangan dan sejenisnya. Guru bertugas memandu siswanya menemukan arah hidupnya.

Kehidupan bukanlah persoalan sederhana. Anak-anak itu akan menemukan berbagai masalah yang kompleks pada masa depannya nanti. Untuk itu, mereka perlu belajar mempersiapkan bekal yang cukup. Kuncinya adalah kemauan untuk melihat persoalan dengan semestinya untuk kemudian menyelesaikannya dengan tepat. Di sinilah sebenarnya tugas utama guru, yaitu membangkitkan kecintaan siswa untuk belajar. Bila kemauan itu sudah muncul, sangat mungkin siswa akan mampu menemukan arah hidupnya sendiri.

Lantas, bagaimana dengan pertanyaan teman di facebook tadi?

Untuk menjadi guru yang dirindukan siswanya ada beberapa tips yang bisa kita ikuti. Pertama, bawalah pencerahan dan bukan kegelapan. Guru harus mengupayakan diri untuk selalu membawa hal baru bagi siswanya. Apa yang diucapkan dan disampaikan guru hendaknya menjadi tambahan pengetahuan atau kemampuan siswa. Kedua, sederhanakan yang rumit, dan bukan sebaliknya. Kehadiran guru hendaknya mampu membuat siswa memahami bahasan yang sulit menjadi mudah. Untuk itu, guru harus terus belajar untuk menerjemahkan bahan pelajaran yang sulit menjadi mudah bagi siswanya. Ketiga, bawalah kegembiraan, bukan ketakutan. Maknanya, guru hendaknya membangun situasi dan kondisi pembelajaran yang membuat siswanya merasa gembira sehingga terbebas dari tekanan psikologis. Berii ruang yang cukup bagi mereka untuk bertanya, pancing mereka untuk menikmati rasa ingin tahunya, dan sejenisnya. Jauhkan anggapan bahwa murid yang cerewet sama saja dengan tidak menghargai gurunya. Dalam banyak hal, murid seperti itu malah kadang menjadi mutiara yang menunggu untuk diasah.

Nah, dengan tiga cara itu, niscaya akan terbangun hubungan yang baik antara guru dan siswa. Kerinduan siswa akan gurunya tinggal menunggu waktu. Bagaimana?

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar