0

Berkat Digital Game Base Learning, Pembelajaran Daring Tak Lagi Bikin ‘Boring’ (0)

Masruro, S.Pd.I October 16, 2020

“Coba hitung, ada berapa jumlah guru yang tersisa?” Pertanyaan Kaisar Hirohito sesaat setelah hancurnya Hiroshima dan Nagasaki—akibat dijatuhi “Little Boy” dan “Fat Man”—itu sontak saja mengagetkan para Jenderal Jepang. Bagaimana tidak, menurut mereka meski tanpa sosok guru, Kaisar Hirohito toh masih bisa terselamatkan.

“Kita jatuh, karena kita tidak belajar. Kita memang kuat dalam senjata dan strategi perang. Namun, kita tak tahu bagaimana cara menciptakan bom yang begitu dahsyat itu. Jika kita tak mau belajar, bagaimana kita akan mengejar ketertinggalan atas mereka? Maka, kumpulkan semua guru yang masih tersisa di seluruh pelosok negeri ini, karena kepada merekalah saat ini kita akan bertumpu,” lanjut Sang Kaisar yang seolah menjawab kebingungan para Jendral Jepang kala itu.


Betapa pentingnya sosok guru di mata Sang Kaisar saat kondisi Jepang porak-poranda akibat bom atom itu tentu tak jauh beda seperti di masa pandemi saat ini. Ya, pandemi virus Corona Covid-19 memang telah meluluhlantakkan segala sendi kehidupan manusia. Salah satu yang paling terasa adalah dalam bidang pendidikan.

Sesuai data yang dirilis UNESCO, sejak virus Covid-19 menjadi pandemi, lebih dari 1,5 miliar siswa di 165 negara di dunia harus belajar dari rumah (BDR). Di Indonesia sendiri—merujuk data Kemendikbud—ada lebih dari 68 juta siswa mulai dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) yang terdampak oleh pandemi.

Jika sebelumnya sekolah merupakan “rumah kedua” bagi para siswa, kini di tengah badai pandemi ini keadaannya pun berbalik: rumah menjadi “sekolah kedua” bagi mereka. Teknik dan metode pembelajaran yang harus dilakukan oleh sosok guru pun dituntut berubah, dari yang klasikal menjadi berbasis digital dengan memanfaatkan gawai dan internet. Sayangnya, sosok guru yang diharapkan mampu menjadi lentera di tengah badai pandemi ini belum semuanya mumpuni dalam hal penggunaan teknologi untuk pembelajaran. Terbukti, dari hasil survei yang dirilis KPAI pada akhir April 2020 yang lalu.

Dari survei yang dilakukan kepada 602 guru yang tersebar di 14 provinsi kala itu, KPAI menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Bagaimana tidak, menurut hasil survei tersebut hanya 8 persen guru saja yang mengerti bagaimana cara memanfaatkan gawai secara optimal untuk pembelajaran daring. Selebihnya, 82,4% guru masih minim memakai gawai untuk belajar daring, dan 9,6% di antaranya bahkan sama sekali tidak pernah memakai gawai untuk belajar daring. Cukup memprihatinkan, bukan?

Temuan KPAI tersebut diperkuat oleh hasil survei yang digelar UNICEF terhadap lebih dari 4.000 siswa yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Dari survei yang dilakukan pada kurun waktu 18 Mei hingga 8 Juni 2020 melalui portal U-Report Indonesia itu, tercatat ada 66 persen siswa yang merasa tidak nyaman saat belajar dari rumah. Bahkan, 87 persen siswa dari jumlah tersebut mengaku ingin segera kembali belajar di sekolah.

Selain terkendala dengan akses internet, sebagian besar siswa juga mengungkapkan bahwa selama ini banyak sekali guru yang hanya mengandalkan penugasan saat melaksanakan pembelajaran daring. Bagi siswa, metode seperti ini jelas membebani dan membuat mereka merasa ‘boring’ alias jenuh. Apakah siswa-siswi Anda juga demikian, Kawan? Jika iya, berarti tak jauh beda dengan siswa-siswi saya di SMAN 1 Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Tapi, itu dulu.

Kini setelah Kemendikbud menyalurkan bantuan kuota internet gratis kepada para siswa dan saya sebagai seorang guru mencoba berbagai inovasi dalam pembelajaran, rasa ‘boring’ yang dirasakan siswa pun berubah menjadi menyenangkan. Penasaran, hal apa yang saya lakukan? Salah satu hal yang saya lakukan adalah dengan mengubah metode penugasan menjadi permainan melalui metode digital game based learning.

Digital game based learning merupakan metode pembelajaran yang memanfaatkan aplikasi permainan untuk membantu siswa dalam memahami materi pelajaran. Asal tahu saja, saat ini ada banyak sekali lho platform digital yang bisa kita gunakan untuk membuat sebuah game pembelajaran. Saya sendiri memanfaatkan wordwall.net, sebuah website yang memungkinkan kita bisa meciptakan game interaktif dengan sangat mudah. Bagaimana cara membuat game interaktif melalui wordwall.net?
Pertama, buka website wordwall.net, kemudian lakukan pendaftaran dengan mengklik “Sign In”. Jika sudah memiliki akun Gmail, kita bisa langsung “Log In” kemudian pilih “Sign In with Google”. Setelah memasukkan alamat Gmail dan password, maka kita pun akan diarahkan ke halaman “My Activities”.

Langkah selanjutnya adalah memilih template yang diinginkan kemudian mulai membuat game. Jika kita baru pertama kali membuat game di Wordwall, kita bisa langsung mengklik “Create Your First Activity Now” kemudian memilih salah satu template yang tersedia. Adapun untuk game kedua dan seterusnya, kita bisa memilih template game melalui halaman “Home”.

Sebagai informasi, Wordwall menyediakan dua jenis akun bagi usernya. Jika menginginkan yang free alias gratis, kita bisa memanfaatkan akun basic dengan 18 pilihan template yang bisa kita gunakan untuk membuat maksimal lima buah game interaktif. Adapun jika menginginkan yang berbayar, kita bisa mengupgrade ke akun standar dengan 18 pilihan template ataupun akun pro dengan 34 pilihan template game. Sekadar tips saja, jika jatah lima game pada akun basic telah habis, kita tetap bisa membuat game lagi dengan cara log in melalui akun Gmail yang berbeda.

Nah, setelah memilih template, langkah selanjutnya adalah membuat game. Caranya, kita tinggal menuliskan soal beserta jawabannya di kolom-kolom yang tersedia. Kolomnya ini berbeda-beda ya, sesuai dengan template game yang kita pilih. Sebagai contoh saja, saya memilih template “Maze chase”.
Aturan main game “Maze chase” ini siswa harus menjalankan “lakon” yaitu sosok berwarna merah ke zona jawaban yang benar sambil menghindari musuh. Cara menggerakkannya bisa dilakukan dengan mouse ataupun tombol panah atas, bawah, kanan, dan kiri yang ada pada laptop. Nah, untuk membuat game ini, saya cukup menuliskan judul game, menuliskan soal, beberapa pilihan jawaban, serta memberi tanda centang di depan jawaban yang benar. Setelah selesai, kita tinggal mengklik “Done”.

Setelah itu, lakukan beberapa pengaturan game. Mulai dari mengatur waktu, kesempatan hidup, tingkat kesulitan, hingga pengaturan leaderboard atau papan peringkat. Setelah melakukan pengaturan game, kita tinggal membagikannya dengan cara klik “Share” dan “Set Assignment”. Jangan lupa isikan judul hasil pada “Results title”, atur deadline dan beberapa pengaturan lainnya, baru kemudian klik “Start”.

Jika sudah sampai di sini, kita tinggal mengcopy link yang ada di dalam kolom kemudian membagikannya kepada siswa melalui platform kelas maya yang kita gunakan, seperti Classroom ataupun Office 365. Tentu saja, sebelum membagikan link tersebut, kita harus mengawali pembelajaran dengan apersepsi—baik melalui video converence ataupun video yang diupload di Youtube—serta memberikan bahan pembelajaran melalui blog ataupun media lainnya.

Lantas, setelah para siswa bermain game, di mana kita bisa melihat hasilnya? Hasil skor ataupun nilai siswa bisa kita lihat melalui menu “My Result”. Tak hanya skor atau nilai siswa, di menu ini kita juga akan mendapatkan analisis data mulai dari berapa jumlah siswa yang mengerjakan, skor atau nilai rata-rata, papan peringkat, hingga soal mana yang jawabannya salah paling banyak. Data-data ini tentu saja sangat bermanfaat untuk kita gunakan sebagai acuan dalam membuat program remidial ataupun pengayaan di pembelajaran daring selanjutnya. Keren kan?

Nah, itulah cara mudah menciptakan game interaktif melalui wordwall.net yang bisa kita gunakan sebagai media dalam pembelajaran berbasis game digital. Game “Maze chase” ini sendiri hanyalah satu di antara banyak digital game yang bisa kita ciptakan melalui wordwall.net. Anda para guru tentu bisa berkreasi dengan game-game lainnya, apapun mata pelajaran yang Anda ampu dan materi pembelajaran yang akan Anda sampaikan kepada siswa.

Omong-omong, cukup sederhana bukan? Meski sederhana, metode digital game base learning dengan memanfaatkan game “Maze chase” ini secara tidak langsung ternyata terbukti ampuh dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman dan siswa terhadap materi pembelajaran lho. Ya bagaimana tidak, untuk menyelesaikan game yang mengasyikkan ini, para siswa dituntut untuk belajar terlebih dahulu.

Bahkan lebih dari itu, digital game base learning juga terbukti sangat efektif untuk mendongkrak motivasi siswa saat belajar daring dari rumah. Pasalnya, berkat digital game base learning ini, pembelajaran daring pun tak lagi bikin “boring”. Akhirnya, selamat berkreasi ya, Bapak Ibu Guru!

About Author

Masruro, S.Pd.I

Saya seorang guru, blogger dan social media enthusiast. Lahir di Purworejo, Jawa Tengah; besar di Malang, Jawa Timur; dan karena tuntutan pekerjaan, saat ini saya tinggal di Klaten, Jawa Tengah. Sehari-hari saya mengajar di SMA Negeri 1 Prambanan Klaten. Di sela-sela mengajar, saya punya hobby membaca dan merangkai kata di www.kangmasroer.com.

View all posts by Masruro, S.Pd.I →

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar