0

DIAM BERPAHALA ATAU MEMBALAS TAK BERDOSA (0)

Ayuma Sofyati March 29, 2021

Disakiti atau menyakiti pasti pernah masuk dalam fase panggung kehidupan yang kita lakoni terlepas entah sengaja atau tidak. Jujur saja kalau kita disakiti secara manusiawi rasanya selalu ingin membalas dan tak ikhlas dunia akhirat semisal kita diam saja. Iya kan ?

Cerita sedikit nih tentang salah seorang teman saya yang begitu sabar walau sering disakiti, kerap di bully, dihina dan di lecehkan dia tetap tidak membalas. Satu hal yang dia lakukan langsung pergi menghindar. Saya bertanya-tanya dalam hati ‘kenapa tidak membalas perlakuannya?, bukankah itu namanya konyol membiarkan dirinya di zalimi orang lain. Membela diri itu dibolehkan, kenapa tidak dilakukan?  Kalau dibiarkan saja bisa jadi dia akan semakin berani untuk bertindak lebih

Suatu hari  dalam suatu kesempatan saya ajak ngobrol beliau dan menanyakan prihal sikapnya dalam menghadapi orang yang menyakitnya. Begini kurang lebih dialog kami:

Saya    :  “ Maaf sebelumnya, boleh tahu engga kira-kira alasan apa yang menyebabkan Kamu tidak membalas orang yang menyakitimu” ?.

Teman : “ Karena saya tidak mau menangkap hal negatif dari dia. Biarkan berbalik kedia”

Saya    : “ Tidak sakit hati ?”

Teman : “ Tidak ! lain halnya kalau saya menangkapnya, dengan kata lain meladeninya, lagian bukankah yang beruntung saya karena mendapatkan pahala gratis dari dia”

Saya    :   “ Maksudnya ? ”.

Setelah itu ia menjelaskan makna istilah ‘Pailit’ dalam islam sesuai yang disabdakan Rasulullah SAW, yaitu mendapatkan pahala gratis dari orang yang senantiasa menyakitinya, jika pahala orang yang menyakitinya sudah habis maka dosa orang yang di sakitinya di timpakan kepada orang yang menyakitinya sampai habis hingga terakhir orang yang menyakitinya dilemparkan kedalam neraka. Dan beliau juga mengutip dua ayat dari surah An-nahl yaitu ayat 126 dan 127 yang mana ayat ini turun berkenaan dengan kisah kekalahan kaum muslimin melawan kafir Quraisy dalam perang uhud yang memakan banyak korban dari pihak kaum muslimin. Nabi berteriak marah dan murka ketika mengetahui sang paman Hamzah yang sangat di cintai dan di sayanginya yang selalu tampil di depan membela keponakannya ikut gugur dalam perang tersebut dalam keadaan anggota tubuh yang sudah tidak sempurna disebabkan di rusak oleh salah seorang suku kafir Quraisy yang dendam padanya, bahkan hati dan jantungnya di makan dan dimuntahkan kembali .

Melihat itu Nabi muhammad SAW marah dan murka  dan bertekad untuk membalas seperti apa yang mereka lakukan kepada sang paman, dengan bersumpah: “Seandainya kelak Allah memenanganku atas Quraisy, niscaya akan kulakukan pada 70 orang diantara mereka seperti yang mereka lakukan kepada Hamzah”. Begitu pula kaum Muslim mengucapkan sumpah yang lebih ganas: “Kelak, ketika Allah memenangkan kami atas mereka, akan kami rusak jasad mereka dengan kerusakan yang tidak ada tandingannya di tanah Arab”.

 Maka langsung turunlah QS An-nahl ayat 126 -127 yang artinya ;

“ Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar”.

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. ( QS 16 – An Nahl : 126 dan 127 ). Dan akhirnya Rasulullah SAW memilih untuk bersabar.

Terakhir teman saya mengunci percakapan kami dengan kalimat “Siapa lagi yang kita teladani, selain nabi kita muhammad SAW sebagai uswatun hasanah.  Sikap nabi  ini mengandung banyak hal yang bisa kita contoh untuk hidup kita “.

Nah, dari percakapan kami akhirnya  sampai pada satu kesimpulan  bahwa terdapat dua macam jalan yang Allah Ta’ala terangkan dalam ayat ini  :

  1. Kita dibolehkan membalas sesuai / sebanding dengan yang mereka perbuat tapi kita tidak mendapatkan pahala
  2. Jika kita tidak membalas dan memilih untuk bersabar itu lebih baik bahkan kita di ganjar imbalan pahala yang sangat besar dari kesabaran kita

Memilih opsi pertama atau kedua kita yang menentukan, dua duanya di bolehkan . Nah, merujuk dari sumber ayat ini kita bisa mempunyai panduan kira – kira  opsi  mana yang lebih baik untuk kita pilih jika kita dihadapkan dalam situasi seperti ini.

Wallahu A’lam bissawab,

Semoga Allah Ta’ala  mengampuni segala kesalahan kita baik yang disengaja maupun tidak. Aamiin     

About Author

Ayuma Sofyati

Saya adalah seorang guru di SMP Negeri 2 Pontang Kabupaten Serang Banten juga blogger . Senang menyerap ilmu dan senantiasa belajar belajar dan belajar karena saya adalah pembelajar .Guraru adalah salah satu wadah untuk menyerap ilmu. Salam sukses !

View all posts by Ayuma Sofyati →

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar