4

Dari Mengajar di Sekolah Katolik ke Sekolah Berbasis Pondok Pesantren (0)

AfanZulkarnain January 12, 2021

Tulisan ke-16 Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Hingga tahun ajaran 2018/2019 berakhir, saya mengajar di SMP Katolik Santo Yusup Banyuwangi. Sekolah tersebut sangat luar biasa. Saya mendapatkan banyak pengalaman berharga di sana. Dari bagaimana cara menangani siswa yang latar belakangnya beragam, bagaimana mengajar dengan baik, bagaimana menyiapkan perangkat pembelajaran , juga tentang bagaimana toleransi.

Saya yang seorang muslim senantiasa dihormati oleh anak-anak dan rekan guru yang memiliki agama berbeda . Sekolah lama saya ini memang seperti mini Indonesia. Beragam agama dan beragam suku bangsa. Beneran. Ada yang dari Bali, Jawa, Batak,Tiong hoa hingga Papua. Ada yang Katolik, Kristen, Islam, Hindu, Budha dan Kong hu chu. Semuanya hidup berdampingan dengan rukun.

Saya ingat, saat saya puasa ramadhan, seorang siswa makan siang dengan ngumpet di area yang tidak bisa saya lihat. Alasannya agar saya tidak batal. Hehehe lalu saya beri pengertian bahwa yang membatalkan puasa itu bukan melihat orang makan. Saya memakluminya, karena itu adalah caranya menghormati saya yang sedang beribadah puasa. Saya juga kerap mendapat bingkisan berupa alat sholat dari siswa maupun wali murid.

Meskipun sekolah Katolik, tapi kami rutin mengadakan kegiatan buka puasa bersama melibatkan siswa muslim dan masyarakat sekitar sekolah pada Bulan Ramadhan. Segala macam persiapan acara tersebut dikerjakan secara bersama-sama oleh guru dan siswa dengan agama yang berbeda.

Saya teramat bersyukur diberikan kesempatan mengajar di sana.

Januari 2018, saya dinyatakan lolos seleksi CPNS Kementerian Agama. Saat itulah saya baru mengerti kalau penempatannya tidak sesuai domisili, namun disebar di kawasan Jawa Timur. Akhir Mei, baru saya mendapatkan SK CPNS dan kepastian saya mengajar dimana.

MAN 3 Jombang, kawan. Madrasah ini dulu terkenal dengan nama MAN Tambak Beras. Saat mengetahui saya ditempatkan di sana, saya langsung browsing di internet mengenai madrasah tersebut. Saya langsung terbelalak. Madrasah tersebut berbasis pondok pesantren. Ini adalah kali pertama saya berada dalam lingkungan pondok. Saya tak pernah sekalipun merasakan kehidupan pondok.

Well, saat itulah saya merasa insecure. Apa bisa saya yang awalnya mengajar di sekolah Katolik dapat mengajar dengan lancar di sekolah berbasis pondok pesantren?

Namun disisi lain saya teramat bersyukur, penempatan itu sesuai dengan do’a saya. Selama masa penantian dari pemberkasan hingga pembagian SK CPNS, saya selalu berdo’a. Dan Allah mengabulkan do’a saya, yaitu ingin ditempatkan di sekolah yang memudahkan saya mempelajari agama lebih dalam.

Alhamdulillah, meski awalnya alami shock culture, tapi lambat laun mulai dapat beradaptasi. Semua rekan guru dan siswa sangat baik kepada saya.

Ada hal yang menarik dari siswa yang nyantri. Hal yang membuat saya kagum sampai saat ini.

Pertama, mereka sangat hormat kepada gurunya. Seorang siswa mencium tangan saya sampai ia benar-benar membungkuk. Saat ia berbincang dengan saya pun, ia enggan menatap mata saya. Menunduk dan menaruh rasa hormat. Sikap yang sangat tawaddu’. Suatu ketika, saya berpapasan dengan siswa di lorong sekolah. Mereka memilih berhenti dan menunduk menunggu saya lewat. Tak lupa mereka ucapkan salam ketika saya melewati mereka.

Kedua, mereka menggunakan bahasa jawa yang teramat halus saat berkomunikasi dengan gurunya. Krama Inggil yang mereka ucapkan sangat santun. Cara berkomunikasi itu juga berlaku saat pembelajaran daring. Mereka kerap mengirimkan pesan lewat WA. Ada semacam template pada isi pesan mereka. Mengawali dengan salam dan kata “Ngapunten” serta mengakhirnya dengan kata “Matur Nuwun.”

Ngapunten artinya mohon maaf, dan Matur Nuwun artinya terima kasih.

Lantunan suara pembacaan ayat suci Al Qur’an dan Sholawat selalu menggema di madrasah setiap pagi. Sungguh teramat menenangkan hati. Kebiasaan anak-anak membaca Asma’ul Husna dan surat-surat pendek sebelum pelajaran dimulai membuat perasan menjadi tenang. Sungguh atmosfer bekerja yang membuat hati damai.

Selain itu ada beberapa program madrasah yang sangat membuat saya lebih memperdalam agama, kegiatan Khotmil Qur’an misalnya. Selain membaca Al-Qur’an dan tahlil, ada juga tausyiah yang sangat menyejukkan. Lingkungan sekitar madrasahpun sangat mendukung. Ada banyak pengajian rutin yang diadakan beberapa pondok untuk masyarakat umum. Alhamdulillah. Namun, saat pandemi seperti sekarang, kegiatan-kegiatan keagamaan tersebut untuk sementara dihentikan. Cukup sedih. Semoga pandemi ini segera tertangani.

Saya bersyukur atas setiap pengalaman mengajar. Dulu saya pernah mengajar di sekolah terbuka, pernah juga mengajar di sekolah Katolik, dan sekarang mengajar di madrasah berbasis pondok pesantren. Mungkin juga, suatu saat nanti, saya berada di sekolah yang berbeda lagi. Dimanapun nanti, saya akan tetap bersemangat mengabdi.

Semangat menjalani apapun adalah cara untuk mensyukuri hidup yang diberikan Tuhan

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar