16

DARI LUBUK HATI, SAYA MINTA MAAF (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto December 21, 2020

“Assalamualaikum, Usatdzah  Dyna,” suara Ustadzah Anies, Litbang yayasan terdengar lewat HP yang kupegang.

“Ya, Ustadzah. Ada yang bisa saya bantu?”

“Apakah benar jenengan tadi mencukur rambut siswa?”

“Benar, Ustadzah.”

“Apakah Ustadzah memarahi anaknya?”

“Tidak. Saya hanya mencukur rambutnya. Saya pun mencukurnya dengan tertawa bersama anaknya.”

“Maaf, Ustadzah. Kasusnya tidak sesederhana itu. Orang tuanya tidak terima. Jenengan akan dilaporkan kepada Komnas Perlindungan Anak,” suara Ustadzah Anies lembut. Tetapi bagiku bagaikan petir yang menyambar.

Baru lima menit kututup telepon, HPku berdering lagi. Kulihat si penelpon, nama ketua yayasan tertera di sana. “Duuh, gawat ini’.

“Ustadzah Dyna?”

“Ya, Ustadz?”

“Tadi mencukur rambut siswa?”

“Nggih, Ustadz.”

“Apakah pelaksanaannya sudah sesuai prosedur?”

“Insya Allah sudah. Sudah disosialisasikan sejak sebualn yang lalu. Sudah ada perjajian dengan anak-anak juga. Sudah diinformasikan juga kepada wali muridnya lewat WA.”

“Apakah kepala sekolah mengetahuinya?”

“Tahu, Ustadz. Beliau ada saat saya mencukur rambut siswa.”

“Begini, Ustadzah Dyna. Orang tua dari Haikal, anak yang jenengan cukur tidak terima dengan perbuatan jenengan. Mereka bermaksud menuntut jenengan melalui Komnas perlindungan Anak.”

“Astaghfirullahaladziim…tapi saya melakukan sesuai prosedur, Ustadz.”

“Benar, Ustadzah. Tetapi wali murid itu juga macam-macam. Apalagi ayahnya Haikal ini adalah orang berpengaruh. Kenalannya banyak dari kalangan kepolisian dan pengacara,”

“Sudah, biarkan urusan dengan Komnas PAI biar saya yang menghadapi. Ustadzah Dyna besok silakan datang ke rumah Haikal untuk minta maaf dan mengakui kesalahan.”

“Saya? Minta maaf kepada orang tua Haikal? Kan mereka yang sudah mengabaikan peraturan sekolah?” aku masih tak terima jika apa yang kulakukan dianggap salah.

“Ustadzah, di belakang anak-anak yang kita anggap melanggar aturan itu ada para orang tua yang sangat mencintai mereka. Tidak mau anak mereka terluka barang sedikit pun. Ustadzah belum pernah berurusan dengan kepolisian dan KPAI. Mereka bisa membuat yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar,” Ustadz Karyono menambahkan.

“Makanya biar saya yang menghadapi mereka. Ustadzah yang menghadapi orang tua Haikal saja. Pastikan mereka mencabut laporan di KPAI.”

“Baik, Ustadz.”

Seketika badanku gemetar. Aku tak pernah mengira, bahwa di tahun pertama menjadi Waka bidang Kesiswaan aku akan berhadapan dengan kasus berat yang melibatkan kepolisian dan Komnas Perlindungan Anak. Bahkan belum genap tiga bulan aku menerima amanah ini

Di awal tahun ajaran baru, semua file yang berhubungan dengan kesiswaan sudah kuterima dari Ustadzah Anies, staf SDM dan Litbang Yayasan. Kupelajari, kemudian kusosialisasikan kepada teman-teman guru. Salah satunya adalah Tata Tertib Siswa di sekolah. Selain dipajang di tembok kelas, tatib ini juga kami lampirkan dalam Buku Penghubung Siswa. Harapan kami wali murid akan membaca dan memahami aturan-aturan yang ada di sekolah.

Salah seorang wali kelas, yaitu Usatdzah Putri, wali kelas 5 menyampaikan bahwa ada salah seorang siswanya yang rambutnya sudah waktunya dipangkas. Beliau sudah menyampaikan kepada anak-anak untuk segera memangkas rambutnya. Jika dalam satu pekan rambutnya belum juga dipangkas, maka akan dipangkas oleh Waka Kesiswaan.

Aturan tentang rambut ini juga sudah ada di dalam Tata Tertib Siswa yang dipajang di tembok kelas dan Buku Penghubung Siswa.

Selama sepekan Ustadzah Putri selalu berkoordinasi denganku untuk mengatasi masalah rambut siswanya. Akhirnya sampai batas waktu yang telah ditentukan tersisa 2 anak yang rambutnya utuh belum dipangkas. Pun orang tuanya juga tidak ada respon. Sedangkan siswa yang lain di kelas itu, menurut Ustadzah Putri, menginginkan kedisiplinan ditegakkan sesuai aturan. Kesepakatannya dipangkas oleh Wakasis ya harus dilakukan.

Maka dari itu, Senin pagi itu, setelah upacara Ustadzah Putri menghadap lagi untuk meminta saya memangkas rambut dua orang siswa di depan kepala sekolah.

Akhirnya, di depan kepala sekolah, TU, dan bendahara sekolah, yang ruangannya memang berdekatan, aku memangkas rambut Haikal dan Rehan.

Sambil tersenyum kunasihati mereka untuk senantiasa menjaga rambutnya agar tidak panjang. Mereka juga senyum-senyumsaat mengetahui rambutnya kupangkas tak beraturan. Harapanku orang tuanya segera mengetahuinya dan merapikan di tukang cukur.

Kadang-kadang  apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan harapan. Orang tua Haikal menganggap aku telah melecehkan anaknya. Mempermalukannya di depan teman-temannya. Ditambah lagi, kedudukan ayahnya yang saat itu memiliki pengaruh penting. Mereka bahkan mengajak orang tua Rehan untuk ikut melaporkanku. Tetapi orang tua Rehan menolak. Mereka menganggap apa yang kulakukan sebagai bentuk pendisiplinan kepada anak-anak, dan mereka mendukungnya.

Dan ternyata, meminta maaf kepada orang tua Haikal tidak semudah yang kubayangkan. Mereka memang menemuiku. Beramah tamah denganku. Menyatakan memaafkanku. Tetapi saat kuminta untuk mencabut laporannya selalu saja ada alasan yang dikemukakan.

Tak terhitung berapa kali aku meninggalkan sekolah menuju rumahnya. Malam pun aku tinggalkan anak-anak balitaku demi memohon pencabutan laporannya. Salah satu wali murid sampai bilang padaku bahwa target oarang tua Haikal adalah agar aku dipecat oleh yayasan. Astaghfirullahaladziim… Semoga itu tidak terjadi. Karena memang tak ada sama sekali di hatiku rasa benci kepada Haikal. Apa yang kulakukan murni karena ingin menegakkan kedisiplinan yang berusaha dibangun oleh wali kelas Haikal.

Akhirnya berita baik itu kudapat juga. Laporan sudah dicabut. Berkat usaha Ustadz Karyono sebagai ketua yayasan juga tentunya yang setia mendatangi kantor KPAI untuk memamntau perkembangan kasus ini. Aku tak henti bersyukur. Sudah beberapa malam aku tak bisa tidur nyenyak gara-gara kasus ini.

Namun nasibku masih belum mujur ternyata. Beberapa hari setelah kejadian itu aku dipanggil oleh pengurus yayasan. Diinterogasi tentang kasus itu. Ditanya lagi tentang kepribadianku, hubunganku dengan orang-orang di sekitarku. Mungkin untuk menilai apakah aku mempunyai gangguan emosional. Semua kujawab dengan jujur. Bahwa aku melakukannya tidak dengan amarah, dan hubunganku dengan orang-orang di sekitarku selama ini baik-baik saja. Dan ujung-ujungnya aku diberi Surat Peringatan. SP 1. Tidak apa-apa. Bagi yayasan aku telah melanggar, karena perbuatanku hampir saja mencoreng nama yayasan. Kuanggap kasus ini sebagai proses menempa diri. Alhamdulillah…yayasan telah membantuku menyelesaikan kasus ini dengan baik, tanpa lewat jalur hukum. SP 1 bukanlah apa-apa dibandingkan jika aku harus berseteru melawan ayah Haikal di pengadilan. Untuk selanjutnya aku harus lebih berhati-hati lagi dalam memperlakukan siswa. Seperti kata Ustadz Karyono, bahwa di belakang anak-anak yang kita anggap nakal itu ada orang tua yang sangat mencintai mereka. Yang tak ingin mereka cedera sedikit pun.

Comments (16)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar