6

Dari Dalam Ketulusan Hati Kami (+3)

Redhite Kurniawan May 10, 2015

DARI DALAM KETULUSAN HATI KAMI

 

Hanya berawal dengan Bismillah ketika akhirnya sekolah tempat saya mengajar, Madrasah Ibtidaiyah Ar Roihan Lawang, memutuskan untuk untuk menjadi sekolah inklusi. Mungkin juga masih satu-satunya madrasah ibtidaiyah inklusi yang ada di kota ini. Dan tentu saja dengan bermodalkan tekad serta ketulusan hati, kami semua para pendidiknya harus mau dengan segera menyesuaikan diri. Karena sebentar saja sejak proklamasi diri sebagai madrasah inklusi (tahun 2011) dikumandangkan, berdatanglah semua jenis anak berkebutuhan khusus (ABK) yang mengisi hari-hari di sekolah ini selanjutnya.

Kini di dalam tiap kelas setidaknya ada dua anak ABK yang tinggal di antara penghuni peserta didik reguler lain. Mulai dari yang down syndrome, autis, cerebal palsy, attention deficit disorder/attention deficit and hyperactivity disorder (ADD/ADHD), tuna rungu, tuna daksa, slow learner, dan lainnya. Lantas bisa ditebak, bagaimana “kekacauan” yang biasa terjadi di kelas karena awalnya para pendidik tidak dibekali secara matang tentang pengelolaan sekolah inklusi. Meskipun tiap ABK disertai satu orang guru pendamping (shadow teacher) yang senantiasa siap sedia berada disamping mereka, tetap saja kami semua (guru kelas dan mata pelajaran) masih sedikit kerepotan dibuatnya.

Bayangkan saja bila anak-anak semacam down syndrome yang tidak bisa berkomunikasi verbal yang kemudian menjadikan kontak fisik sebagai alat komunikasi mereka. Tentu teman-temannya mengira bahwa mereka disakiti. Sebab tiba-tiba saja anak semacam ini langsung memeluk atau memukul tanpa sebab. Atau juga dengan anak-anak autis yang merasa punya dunia sendiri dan tak peduli dengan sekitarnya. Tiba-tiba saja mereka akan bicara keras dan tertawa sendiri saat suasana hening, atau berjalan-jalan tak tentu arah, atau bila menangis susah sekali berhenti sembari berkata, “lho ini apa yang keluar dari mata?” (padahal air matanya sendiri yang dia tunjuk).

Baiklah, semua memang harus dihadapi dengan lapang dada dalam berproses. Semua butuh waktu, adaptasi, dan kerja sama yang erat di antara semua pendidik. Kini banyak pendidik terutama shadow teacher di sekolah yang mendapat pelatihan khusus untuk menangani anak berkebutuhan khusus. Tak ketinggalan jasa internet yang mempermudah kami semua untuk mengenali dan belajar lebih banyak lagi tentang anak-anak berkebutuhan khusus. Tinggal klik di kolom pencarian, semua pengetahuan, tips penanganan, bahkan game untuk ABK dapat diakses dengan mudah. Lambat laun semua dapat tertangani dan terkendali dengan kurikulum individual program beserta hasil laporan perkembangan anak.

Padahal dulu, saya masih ingat benar betapa anak-anak berkebutuhan khusus memang harus ditangani juga dengan super khusus. Suatu pagi, Bu Umi, seorang shadow teacher (guru pendamping) dari Brilian – anak dengan down syndrome – mengalami hari yang begitu buruk. Si Brilian ini tantrum, dia mengamuk dan dari awal belajar sudah menunjukkan tanda-tanda yang tak menyenangkan. Guru pendampingnya ini dijambak, dipukul, dan dicakar. Sedangkan Bu Umi sendiri seorang guru perempuan yang bertubuh kecil, sehingga kelihatan tak berdaya melawan amukan Brilian.

Saya yang kebetulan mengajar di kelas rasanya tak tega dengan adegan tersebut. Dengan sebuah intuisi saya akhirnya mendekati Brilian yang kian memberontak di bawah pelukan Bu Umi. “Brilian, ayo ikut Bapak saja!” pintaku. Tapi Brilian tak menggubrisku. Dia makin meronta ketika tangannya dipegang Bu Umi agar tak melakukan kontak fisik dengannya. Sudah, Bu Umi pergi saja. Biar Brilian dengan saya, ucapku lagi. Tapi lagi-lagi cengkeraman Brilian makin kuat.

Kini, saya sepertinya tidak bisa tinggal diam. Dengan secepat kilat saya raih tangannya dengan harapan anak ini mau mengikuti perintah saya. “Brilian, ayo sama Bapak guru!” hardikku. Tetapi Brilian masih tetap saja berusaha melawan. Dan terjadilah tarik menarik antara tangan saya dan tangannya dengan hebat. “Ayo, dengan Bapak guru saja!” terus kutarik tangannya itu.

Anehnya, Bu Umi hanya memandang saya dengan tatapan matanya yang tak biasa. Isyaratnya semacam ingin agar saya segera pergi meninggalkan mereka berdua atau membiarkan Brilian beraksi seperti itu, entahlah.

Namun jawaban dari tatapan mata Bu Umi yang hanya diam saja itu baru saya ketahui selanjutnya. Sebab selama itu yang saya tarik dengan kuat tersebut ternyata bukan tangannya Brilian, melainkan tangannya Bu Umi. Astaghfirullah, makanya kok Bu Umi diam saja. Dengan serta merta kulepaskan tangan Bu Umi, lantas cepat-cepat berlalu. Saya sampai belum mengucapkan maaf karena terlampau malu dari tadi sudah menggenggam dan menarik-narik tangannya.

Ya, bermacam pengalaman kami lalui bersama dalam pendidikan inklusi ini. Canda, tawa, jengkel, geram, dan kebahagiaan bercampur menjadi satu. Tapi semua menjadi sebuah pengalaman yang berharga dan penuh makna diantara kami semua.

Dan puncaknya adalah ketika suatu saat diadakan pentas seni yang melibatkan anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka yang didampingi oleh para shadow teacher berdiri di atas panggung. Menyanyikan sebuah lagu jangan menyerah. Benar, syukuri apa yang ada karena hidup adalah anugerah. Dan karena kami semua, para pendidik yang ada di sini akan senantiasa memberikan yang terbaik yang berasal dari dalam ketulusan hati kami. Pada semua anak-anak Indonesia siapapun mereka ini.

Keharuan pun pecah saat anak-anak ini menyanyi dengan semangat. Mata saya tak berkedip memandang pentas mereka. Hingga saya larut dalam emosi yang mendalam. Semua anak berhak untuk belajar. Karena semua anak dapat berkarya dengan luar biasa.

Dan tiba-tiba saja, seorang guru menghampiri saya dan bertanya, “Bapak menangis, ya?” saya menoleh padanya dan menjawab singkat,”Tidak, saya lagi pilek,” ucap saya sambil menyeka hidung dan menahan air mata agar tidak menggelinding jatuh.

 

Pentas anak-anak berkebutuhan khusus

Pentas seni anak berkebutuhan khusus (ABK)

”Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis Guraru untuk bulan pendidikan berhadiah Acer One 10″

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar