4

Dapatkah PTK/PTS Ditulis Menjadi Best Practice? (0)

oloan December 8, 2020

Sering menjadi pertanyaan umum di kalangan Guru ketika akan naik pangkat atau golongan, seperti ini: β€œApakah laporan hasil penelitian tindakan kelas (PTK) atau penelitian tindakan kelas (PTS) itu bisa diubah menjadi sebuah Best Practice (BP)?” Jawabannya jelas TIDAK.
Bila laporan hasil PTK atau PTS itu langsung diubah sistematikanya mengikuti sistematika BP, jelas tidak. Mengapa?

Alasan penulis mengatakan tidak, didasari oleh dua alasan. Pertama, banyak pakar dalam berbagai pelatihan mengatakan agar penulis best practice menghindari best practice rasa PTK. Anjuran ini mengandung makna bahwa pest practice itu berbeda dengan PTK/PTS. Jangankan sama, masih mengandung β€˜rasa PTK/PTS’ saja, ada pakar yang menyatakan sudah tidak diperkenankan.

Alasan kedua, PTK dilaksanakan sekali dalam enam bulan atau satu semester saja, artinya walaupun sebuah PTK dilakukan dalam beberapa siklus, sesungguhnya siklus-siklus tersebut merupakan satu kesatuan pembelajaran yang direncanakan, diteliti, dan dilaporkan hasilnya.

Agar dapa dijadikan best practice, hasil PTK itu harus diterapkan lagi dan hasilnya harus selalu berhasil. Sebagai contoh, pada semester 2 tahun pelajaran 2016/2017 seorang Guru Bahasa Indonesia melakukan PTK. Ia meningkatkan motivasi dan hasil belajar dalam menulis teks prosedur dengan menggunakan video tutorial. Hasilnya, terjadi peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa. Karena hasilnya baik pada semester 2 tahun pelajaran 2017/2018 dan tahun 2018/2019, guru tersebut menggunakan video tutorial tersebut dalam pembelajaran teks prosedur. Hasilnya, ternyata juga bagus. Motivasi dan hasil belajar siswa bagus. Tidak ada yang harus mengikuti remedial. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa hasil tindakan tersebut harus digunakan berulang pada tahun yang berbeda.

Misalnya, pada periode Maret sampai Juni 2020, seorang guru Biologi menerapkan pembelajaran blended learning pada siswa yang diajarnya. Ia beberapa kali menggunakan model ini pada kelas yang sama untuk materi yang berbeda-beda. Tiap kali ia melakukan perbaikan dalam menerapkan model pembelajaran ini, hingga akhirnya dia menyakini bahwa pembelajaran blended learning yang dia lakukan berhasil dengan baik dibanding metode biasa yang dia lakukan sebelumnya. Dapat juga ia hanya menerapkan pembelajaran blended learning pada satu materi, tetapi model ini ia terapkan pada beberapa kelas yang diajarnya.
Hal yang sama juga dapat dilakukan pada hasil PTS. Hasil PTS yang bagus diterapkan di sekolah lain, waktu lain, ternyata tetap menunjukkan hasil yang bagus. Di antara sekian kali penerapan ulang itu, penulis dapat memilih mana yang paling baik untuk dituliskan sebagai best practice.

Kita ambil contoh, seorang Kepala Sekolah pada semester 1 tahun pelajaran 2017/2018, melakukan tindakan sekolah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun soal berorientasi keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/ HOTS). Dalam PTS itu dia menggunakan focus group discussion (FGD). Setelah melakukan tindakan sekolah pada siklus kedua, ia berhasil. Ia kemudian berkesimpulan bahwa FGD dapat meningkatkan kompetensi guru di sekolahnya dalam menyusun soal berorientasi HOTS.

Berdasarkan keberhasilannya dalam melaksanakan PTS itu, kepala sekolah tersebut kemudian berulang kali menggunakan FGD dalam membimbing para gurunya menyusun soal berorientasi HOTS. Dari tahun ke tahun, hingga semester dua tahun 2019/2020, hasilnya selalu bagus. Dapat dikatakan semakin bagus. Ia melakukan pembenahan terus-menerus dalam pelaksanaan FGD-nya.

Bahkan, hasil terakhir pada semester dua tahun 2019/2020 ia menyakini bahwa peningkatan kompetensi gurunya dalam menyusun soal berorientasi HOTS sangat bagus. Soal-soal yang disusun para guru juga sangat bagus. FGD yang dilakukannya tidak lagi hanya dengan melibatkan para guru, tetapi juga mengundang pengawas dan pakar pendidikan. Tindakan dalam PTS yang berhasil dan kemudian diulang, diperbaiki, dan terus berhasil ini dapat diangkat menjadi best practice.

Yakni, praktik terbaik kepala sekolah dalam hal membimbing para guru menyusun soal berorientasi HOTS. Pelaksanaan FGD yang dilakukan sang kepala sekolah pada semester dua tahun 2019/2020 itu diyakini oleh kepala sekolah terbaik dari segi hasil maupun prosesnya.

Nah, PTS yang telah diterapkan berulang, selalu berhasil baik, bahkan (bila memungkinkan) telah mengalami perbaikan-perbaikan seperti inilah yang dapat ditulis menjadi best practice. Alasannya, syarat bahwa keberhasilan BP itu lestari, berulang, dan terpenuhi. Keberhasilan PTK/PTS yang tadinya hanya satu kali saat pelaksanaan tindakan pada siklus kesekian kali, akhirnya dapat berhasil terus diterapkan pada waktu yang berbeda dan sasaran tindakan yang mungkin berbeda pula.

Jadi, tindakan dalam PTK dan PTS yang tadinya hanya sekali keberhasilannya, begitu telah diterapkan berulang, baik dalam tahun ajaran yang sama, tetapi di kelas atau sekolah berbeda, maupun pada tahun yang berbeda, dapat diangkat menjadi best practice. Sekian…

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar