0

Dapat Niatnya Dapat Rezekinya (0)

Thurneysen Simanjuntak March 23, 2021

Tak menyangka kemarin (22 Maret 2021) saya mendapat kabar gembira. Karya tulis saya terpilih menjadi salah satu pemenang favorit pada sebuah event lomba yang diselenggarakan oleh Ditjen SDA dan Tempo.

Awalnya memang niat saya adalah untuk menulis keprihatihan tentang keberadaan krisis air di dunia, siapa sangka ternyata ada lomba yang relevan dengan tulisan tersebut. Akhirnya tulisan tersebut pun saya ikutkan lomba menulis.

Memang hampir tiap tahun, tepatnya setiap tanggal 22 Maret selalu menyempatkan diri menulis tentang air. Minimal kontribusi saya untuk mengajak dan mengampanyekan penghargaan terhadap air yang kita gunakan sehari-hari.

Uniknya, ternyata hampir setiap tahun ada event lomba menulis tentang air. Akhirnya satu yang dikerjakan dua yang tercapai. Niatnya hanya untuk menulis keprihatianan, ternyata sekaligus bisa diikutkan pada lomba menulis. “Pucuk dicinta ulam pun tiba” begitu kira-kira kata peribahasa.

Rezeki di Hari Air Dunia pun mengalir.

Sekedar mengulas tentang penggunaan air, di rumah saya termasuk orang yang sangat fokus untuk menularkan semangat menggunakan air dengan baik. Tentu dengan memberikan contoh atau menjadi role model.

Untuk memulai perubahan memang harus dimulai dari diri dan lingkungan terkecil kita, seperti keluarga.

Oh iya, keprihatianan saya terhadap air tidak lepas dengan adanya ancaman krisis air di mana-mana.

Dalam sebuah media online yang pernah saya baca bahwa sebuah lembaga riset, World Resources Institure (WRI) sebuah di Washington DC menyampaikan bahwa seperempat dari populasi dunia hidup di wilayah dengan persediaan air yang tak sebanding dengan kebutuhan warganya atau hal itu setara dengan 1,8 miliar jiwa di 17 negara. (Baca : kontan.co.id)

Bisa saya bayangkan bagaimana kalau saya adalah bagian dari warga yang mengalami hal tersebut. Sungguh menderitanya.

Bahkan sesungguhnya saya sempat merasakan hal tersebut ketika masih tinggal di Jakarta. Rumah kami terendam banjir kira-kira satu meter. Alhasil kami mengungsi ke rumah saudara yang tidak jauh dari rumah kami. Ternyata di rumah saudara tersebut, listrik mati, pompa air pun demikian.

Terbayang kan punya bayi yang berumur satu tahun dengan kondisi yang demikian. Akhirnya yang kami lakukan membeli air isi ulang untuk keperluan sehari-hari, termasuk untuk mandi. Itulah satu pengalaman nyata yang membuat saya sangat prihatin dengan permasalahan air.

Itu pengalamannya cuman seminggu, tapi deritanya sangat terasa. Bagaimana dengan orang yang harus berhadapan dengan masalah air dengan rentang waktu yang lebih lama, misalnya berbulan, bertahun, atau lebih dari itu.

Memang sudah saatnya kita benar-benar peduli dengan air (air bersih). Ini bukan tanggung jawab satu dua orang, tapi tanggung jawab semua. Semua harus bersinergi.

Tentu ada banyak cara yang bisa dilakukan dari rumah masing-masing, menghindari perilaku membuang sampah sembarangan di sungai, hingga menjaga agar tidak menebangi pohon secara sembarangan terutama di dekat sumber air. Yuk!

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar