7

Cuplikan Kalimat Pesan dari Sang Guru Pandhito di Dunia ke-3 (+2)

Endar Sudarjat Parmasasmita February 20, 2014

Jalan Menuju Perubahan
1. Sedulurku semua pegiat ilmu pengetahuan…kita semua telah sepakati bahwa yang immateri (sesuatu yang non materi) itu lebih besar sumber dayanya, dan lebih tak terhingga bisa dijangkau oleh semua manusia tanpa system rekruitmen yang mengkastakan siswa, kenapa kita melanjutkan penjebakan ilmu buat semua manusia dengan perencanaan diskriminasi kemampuan spasial dan angka-angka ?

Memang birokrasi dan sistem administrasi pendidikan dibutuhkan, namun jangan sampai alat dan media itu melupakan subtansi dan esensi dari misi, visi, dan tujuan pendidikan itu sendiri dilakukan. Ingat, budaya dan strata sosial yang kita buat dengan status Gus, Pendeta, Ulama, Profesor, Jenderal, Biarawati, Bedande, Sultan, Santri, Presiden, dan lain seterusnya, hanyalah untuk memudahkan interaksi sosial saja.

Namun jika ada media, atau system dan pasti itu ada, untuk mencapai puncak-puncak keunggulan manusia, kenapa kita masih mengkampanyekan dan terus membangun perencanaan kesombongan dan penyulitan sistem pendidikan yang membodohkan itu ? Yakni semakin menjauhkan diri yang berfokus pada ruh itu dengan Tuhannya, dengan kasih sesama, dengan kecerdasan yang tidak dikungkung dengan angka-angka dan simbol-simbol huruf serta teknologi maya ?

Sedulur mari segera sadar dan enjoi berani banting setir, re-code dan change dna sekarang juga, dengan sistem belajar dan pendidikan sederhana oleh dan bisa dilakukan semua tanpa diskriminasi apapun juga. Bismillah

2. Jangan lupa, semua interaksi yang terpapar disegenap media sosial dan media masa seluruh dunia, itu hanyalah interaksi bagian kecil peristiwa permukaan bumi. Belum sampai melibatkan benda fisik, kimia, biologi di udara, dalam laut, atmosfir dan kerak bumi. Sehingga, Bu Risma, China, KPK, Pak SBY, Amerika, bahagia dan masalah Kelud, dzibaan, suami isteri, tsunami, Karakatau, orkestra, urusan profesi atau pekerjaan kita dan seterusnya—hanyalah rasa penampakan jasad kita. Belum pada kapasitas dan kompetensi ruh yang sesungguhnya.

Karena itu, mari kembali menempati manusia unggul, yang mengotimalkan fungsi dan misi ruh diciptakan yang senantiasa berinteraksi dengan pembuat dan pemilik ruh, sehingga informasi yang terpapar menggelegar kesegenap alam penuh hikmah dan produktifias pencerahan. Bismillah

3. Saat seorang suami isteri berpelukan dan merasakan getaran kebahagiaan puncak yang menyatukan, sebenarnya badan atau kulit keduanya yang saling menempel tidak sampai separohnya atau hanya berapa persen. Namun persatuan rasannya hampir 100%. Itulah ruh yang diberikan serpihan rahmat Allah dalam Maha Kasih SayangNya. Karena itu, mari kembali, jangan trjebak kulit dan jasad ini, melupakan ruh dan rahmat, sehingga saling sulit bersatu. Namun jika kita bisa sadar sebagai makhluq ruh, maka kita mengalami persatuan rasa kerukunan dan produktifitas manusia unggul yang saling menguatkan dan tebar rahmat bagi segenap alam. Salam sesama makhluq ruh. Bismillah

4. Sekali lagi bukan nominalnya tapi persentasenya (%), sehingga siapapun bisa mencapai puncak lebih untuk memperbanyak amal, tanpa diskriminasi oleh aset material. Semelarat apapun manusia, iman bisa menaikkan derajatnya melebihi mereka yang ahli bersedeh karena kaya raya, sementara si melarat hanya mampu bersedekah hanya dengan tenaga dan waktunya, meski secara material tidak ada yang disedekahkannya.

Inilah keadilan dan kesetaraan berprestasi dihadapan Tuhan tanpa membedakan yang kaya atau yang miskin, tetapi yang paling maksimal dari sumber daya yang dimiliki. Karena itu, mari segera bersedekah sekarang juga tanpa harus menunggu kaya materi. Bismillah

5. Kami menghormati mereka yang menggunakan paham materialisme. Dimana yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Namun pada kesempatan ini juga, kami mengajak pada fakta, bahwa materi hanyalah pantulan cahaya yang dialirkan oleh ruh pada bidang-bidang tertentu yang dibuat seperti ada materi. Yang sebenarnya hanyalah gambaran maya, atau bahkan kosong belaka, jika ruh yang immateri itu tidak memantulkan cahayanya.

Apakah kita masih tertipu oleh materi, atau justru realis dengan yang immateri (tidak berwujud materi) ? Itu hanya pilihan saja. Yang pasti, kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, kesejahteraan itu adalah immateri, yang bisa didapatkan oleh semua manusia, meski lahirnya seperti minus materinya. Karena itu, immateri lebih unggul karena bisa dijangkau oleh semua tanpa diskriminasi waktu dan ruang insani. Dan sesuatu yang immateri ini, sangat efektif dan simpel bisa dicapai oleh semua anak manusia jika dipilihnya. Kenapa memilih jalan yang berputar-putar dan menyulitkan dalam membangun peradaban ? Sebuah pilihan. Bismillah

Semoga berbagai cuplikan pesan beliau ini menjadi bahan pembanding bagi kita yang selalu ingin tahu dan haus akan ilmu pengetahuan di samudra ilmu yang amat luas ini.

Bismillah.

Terimakasih guruku,

Gus Hafidh SKPM
(Pembina Yayasan SPMAA-SABDA (Sekolah Berstandar Dunia Akhirat)

Comments (7)

  1. Selamat Malam
    @Bu Admiroh, saya menulis di guraru mungkin ngasal. Bisa jadi hanya buat ikut gaul sama rekan-rekan yang sudah malang melintang di dunia kepenulisan. Terima kasih saya juga bersyukur dipertemukan dengan Ibu di guraru ini, heehe.
    @Pak Botaksakti, salam kenal kembali. Ya demikianlah. Menulis hanya untuk berbagi pesan akan pentingnya menuju ke pemilik kehidupan sungguh akan membuat kita ada dalam kemenangan. InsyaAllah.

    Sekali lagi terima kasih atas atensi semua rekan disini
    Salam pendidikan,
    Bismillah

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar