3

CORONA MENGAJAKKU BELAJAR (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto January 13, 2021

Semasa SD dulu saya tahu Corona itu adalah merk mobil jenis sedan yang membuat pengendaranya terlihat keren dan kaya. Bertahun-tahun kemudian mobil Corona ini terlibas oleh mobil-mobil jenis lain yang lebih keren sesuai jamannya. Setelah lama tak terdengar kabarnya, tahun lalu saya dengar kabar lagi tentang Corona. Tapi kali ini dia menjelma menjadi sebentuk makhluk Allah berjenis virus yang berbahaya dan mematikan. Di awal kemunculannya di China sana, orang-orang yang terkena virus ini digambarkan langsung kejang-kejang kemudian jatuh dan meninggal, tak peduli di manapun saat itu sang korban berada. Mengerikan. Jadi membayangkan film-film Hollywood tentang wabah yang sering saya tonton.

Sampai awal tahun 2020, saya masih yakin bahwa virus ini hanya ada di China, tidak bakal masuk ke Indonesia. Apalagi di negeri ini semua tampak baik-baik saja, tidak ada kabar yang menyatakan bahwa virus ini sudah masuk ke Indonesia.

Memasuki bulan Maret 2020 mulai tersiar kabar bahwa 2 orang Indonesia terinfeksi virus ini dan telah menjalani perawatan di rumah sakit. Sosialisasi tentang pencegahan virus ini mulai dilakukan di sekolah-sekolah. Termasuk di sekolah kami, yang dilaksanakan pada tanggal 13 Maret 2020. 2 orang petugas dari Puskesmas memberikan sosialisasi tentang virus corona dan cara pencegahannya. Seluruh siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Mereka sudah banyak tahu tentang virus ini dari orang tuanya maupun dari berita-berita di televisi. Tentu mereka tidak ingin virus ini sampai di Banyuwangi.

Ternyata harapan kami tidak terkabul. Tanggal 15 Maret malam, kami menerima kabar bahwa Gubernur Jawa Timur telah menerbitkan surat untuk meliburkan semua sekolah selama 2 pekan mulai 16 Maret 2020, serta melarang segala jenis kegiatan yang bersifat mengumpulkan banyak orang. Maka kami harus menjadwal ulang semua agenda kegiatan untuk dua pekan berikutnya. Try Out online bersama Kualita Pendidikan Indonesia,yang sudah kami jalani sejak setahun sebelumnya, kali ini benar-benar harus dilakukan dari rumah masing-masing siswa. Begitu juga kegiatan Galaksi, Galeri Aksi Siswa, yang sedianya dilaksanakan di tanggal 21 Maret 2020, harus kami jadwalkan ulang.

Awalnya kami mengira bahwa libur ini benar-benar hanya 2 pekan, maka kami tidak melakukan apa-apa kepada siswa. Kami hanya menunggu. Dua pekan berikutnya, libur diperpanjang, kami masih berharap bahwa ini tidak akan lama. Kami masih tetap tidak melakukan perubahan pada cara mengajar kami. Karena siswa benar-benar dilarang ke sekolah, maka kami hanya memberikan tugas-tugas dari buku atau google form saja.

Ketika masa Pembelajaran Jarak Jauh mulai memasuki bulan kedua, kami mulai berpikir untuk mengubah cara pandang kami terhadap wabah ini. Bahwa kami harus mulai terbiasa dengan model pembelajaran jarak jauh begini. Sebagai sekolah swasta, kami harus bisa bertahan di tengah segala kesulitan yang dihadapi wali murid. Untuk bisa bertahan, tentunya kami harus mempunyai sesuatu yang berbeda, yang bisa dijual kepada masyarakat. Agar mereka tetap mau bersekolah di sini yang berbayar, dibandingkan dengan bersekolah di sekolah negeri yang gratis. Dan itu bukan perkara mudah di tengah pandemi begini.

Terus terang ini ujian berat bagi saya. Ini adalah tahun pertama saya mendapatkan amanah baru sebagai kepala sekolah. Di saat saya sendiri masih harus banyak belajar dalam mengemban amanah baru, saya juga harus segera berbenah menghadapi model pembelajaran baru di era pandemi ini. Sementara pemerintah sendiri peraturannya sering berubah-ubah sesuai kondisi. Kepada teman-teman guru di sekolah, saya menyarankan untuk banyak-banyak membaca, berburu konten di google, banyak melihat contoh-contoh video pembelajaran, sampai membuat tantangan untuk para guru dengan membuat karya.

Memasuki tahun ajaran baru, saat di sekolah lain membuat kegiatan Gurling, saya justru tidak mau mengadakannya. Gurling adalah guru keliling, jadi guru yang keliling ke tempat-tempat yang telah disepakati untuk mengajar kelompok kecil siswa. Saya menolaknya. Karena prinsip pembelajaran sekarang adalah mengutamakan kesehatan siswa dan guru, maka saya tidak ingin guru saya ada yang sakit karena Gurling ini. Apalagi semua wali murid di sekolah kami telah memiliki gawai. Jadi saya menerapkan full daring untuk pembelajaran di sekolah kami. Konsekuensinya tentu semua guru juga harus akrab dengan dunia digital, seperti yang telah saya sebutkan di atas.

Meski kepala sekolah, saya juga tetap belajar. Apalagi saya masih meminta jam mengajar, yaitu Bahasa Jawa di kelas 6. Ini saya lakukan agar saya tidak sungkan untuk meminta guru-guru banyak belajar dan berinovasi, karena saya juga melakukan itu. Saya pun mulai mengakrabi google. Tiada hari tanpa berburu hal-hal baru di sana. Entah itu program belajar ataupun aplikasi yang baru bagi saya. Beruntungnya saya, sebelum pandemi ini menyapa Indonesia, saya sempat mendaftar sebuah program yang diadakan oleh Wardah cosmetics, yaitu program Wardah Inspiring Teacher 2020. Alhamdulillah, saya termasuk salah satu peserta yang masuk seleksi program ini. Dengan mengikuti program ini, saya mendapatkan banyak sekali ilmu baru, khususnya tentang pembelajaran jarak jauh di era pandemi. Bagaimana menjadi guru yang merdeka belajar, dengan mengedepankan prinsip kemerdekaan belajar untuk guru, murid, dan juga wali murid. Saya juga diajak untuk merancang media pembelajaran yang berpusat pada murid.

Selain mencari program di internet, saya juga banyak bertanya kepada teman-teman guru, bagaimana cara mereka menyampaikan materi pembelajaran di kelas. Terus terang, saya merasa kalah dalam hal dunia digital dengan para guru di sekolah, karena mereka masih muda, baru dua puluhan usianya, sedangkan saya sudah pertengahan empat puluhan. Dari mereka saya mulai mengenal beberapa aplikasi yang bisa digunakan untuk menunjang pembelajaran. Ada Screen cast’o matic, aplikasi untuk membuat video pembelajaran. Ada pula Slides go, untuk membuat materi dalam bentuk power point dengan berbagai macam tema dan gambar. Aplikasi Canva, untuk membuat poster digital. Masih ada Google Form yang selalu kami gunakan untuk ujian online. Dan masih banyak lagi aplikasi lain yang menarik, yang sebelum pandemi sama sekali tidak saya kenal, bahkan mungkin namanya pun tidak pernah saya dengar.

Berbicara tentang aplikasi, ada sedikit kisah lucu dan menjengkelkan yang saya alami saat akan membuat video menggunakan Screen cast’o matic. Saat pertama kali menggunakan screen cast’o matic, saya dibuat bingung dan akhirnya tertawa sendiri karena salah memencet tombol untuk menyimpan. Jadilah rekaman yang saya buat selama 12 menit itu hilang lenyap tak berbekas. Akhirnya saya buat lagi rekaman materi yang tadi telah saya selesaikan. Pada langkah terakhir saya ingat-ingat lagi bahwa pada rekaman sebelumnya saya lupa menekan tombol “publish”, jadilah rekaman itu tidak tersimpan.

Pada kesempatan lain lagi, saya kehabisan waktu. Jadi dalam screen cast’o matic itu ada batasan waktu maksimal adalah 15 menit, sehingga video otomatis akan terputus jika sudah mencapai limit 15 menit. Saya yang saat itu hanya tinggal mengucapkan salam penutup terkejut saat tiba-tiba videonya mati. Saya harus mengulanginya lagi dari awal.

Ternyata cobaan belum berakhir. Pada percobaan berikutnya, setelah video berjalan separuh, tiba-tiba suami saya masuk dari belakang menuju ke kamar. Tampaklah di layar itu, dirinya yang sedang bertelanjang dada lewat di belakang saya. Rasanya ingin berteriak keras-keras karena gemas. Kalau tak ingat dosa pastilah sudah saya pukul wajahnya yang seolah tanpa dosa itu. Mau tak mau, dengan bersungut-sungut saya harus mengulangi lagi proses perekaman video yang terganggu itu. Alhamdulillah, kali ini lancar tidak ada kendala.

Corona ini memang telah mengubah banyak sekali aspek kehidupan di sekitar kita, khususnya di dunia pendidikan. Banyak yang menyayangkan dan memprotes model pembelajaran jarak jauh seperti sekarang ini. Kualitas siswa tidak bisa diukur dengan standar yang biasa. wali murid banyak yang mengeluhkan tentang susahnya mendampingi anak-anaknya belajar dari rumah. Bahkan ada yang terang-terangan mengaku merekalah yang mengerjakan soal ujian anaknya.

Tetapi bagi saya pribadi, dengan adanya pandemi Corona ini saya banyak belajar. Saya berkenalan dengan aplikasi-aplikasi baru. Saya memasuki dunia baru yang membawa banyak perubahan untuk kebaikan pendidikan ke depannya. Untuk hal ini, saya sangat berterima kasih kepada Corona. Tetapi saya tetap ingin dia segera pergi dari bumi ini. Agar kami para guru bisa memuaskan rasa rindu kami kepada para anak didik kami.

Banyuwangi, 30 Oktober 2020

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar