4

Cius? Miapah? (+1)

Botaksakti October 9, 2012

"Anak-anak, perlu kalian tahu bahwa pada dasarnya sebuah karya itu mencerminkan penulisnya. Puisi yang akan kalian buat menunjukkan siapa dirimu sebenarnya!", begitu pengantar saya kepada anak-anak pagi itu.

"Hah…cius? Miapah?", terdengar suara dari pojok.

Saya agak kaget. Ah, bercanda saja  ini aka, batin saya.

"Enelan!", seru saya.

Gerrr…….., seisi kelas tertawa.

"Memang Bapak tahu?",tanya seorang anak.

"Tahu, lah!"

"Wih, Bapak gaul!"

Saya tersenyum.

Sebagai guru yang mengajar anak-anak remaja, saya merasa harus tahu juga dunia mereka. Tidak lain tidak bukan hal itu saya maksudkan agar saya mengerti yang mereka butuhkan dan apa yang sedang berkembang di benak anak-anak itu. Tujuannya tentu agar saya bisa mendekati mereka dengan cara yang tepat.

Pengajaran bahasa Indonesia untuk anak-anak remaja itu memang bukanlah hal mudah. Gelontoran bahasa yang tidak jelas terjadi hampir setiap waktu. Entah itu wujud kreativitas mereka atau apa, yang jelas bahasa tidak baku lebih banyak beredar di antara mereka.

Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri. Yang terpenting adalah tidak memaksa mereka dengan kungkungan peraturan bahwa mereka harus, harus, dan harus, melainkan memberikan pengertian dan kesadaran kepada mereka tentang kapan bahasa-bahasa tertentu bisa dipergunakan. Dengan kata lain, guru tidak boleh alergi dengan munculnya bahasa-bahasa 'alay' sekalipun melainkan justru harus bisa menggunakannya untuk pendekatan terhdap siswanya.

@Mohon maaf, mungkin tulisan ini agak kurang enak dirasakan karena ini saya tulis langsung di jendela penulisan artikel. Sampai saat ini saya belum bisa mengalihkan tulisan dari word ke jendela posting dengan copas. Bila itu dilakukan maka yang muncul hanya paragraf pertama. Ada yang bisa membantu?

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar