4

CINTAI DULU PEKERJAANNYA, MAKA KAU AKAN BAHAGIA MELAKONKANNYA (+6)

Alwi Alfatihah May 20, 2015

CINTAI DULU PEKERJAANNYA, MAKA KAU AKAN BAHAGIA MELAKONKANNYA
Oleh: Muh. Alwi, S.Pd.I

Snapshot_20131216_4

Snapshot_20131216_6

Snapshot_20131216_11

(Gambar: Proses belajar mengajar di SMK Muhammadiyah Sinjai. Merekalah yang kadang membuat saya merasa terharu, sadar, betapa pentingnya menjadi pendengar bagi siswa-siswa kita)

Bismillah…

Awalnya, saya pikir tak ada yang istimewa dari menjadi seorang guru. Buktinya, guru hanyalah sebatas pengajar yang tak bisa memahami keinginan siswanya. Apa maunya guru, itulah yang harus diikuti. Pun kadang banyak siswa yang menjadikan gurunya sebagai bahan cerita yang mesti dicandakan di kelas.

“Coba lihat guru kita, Pak Budi, sisiran rambutnya itu culun, pakai motor buntut pula ke sekolah. Para guru itu tak tahu mode jaman sekarang. Guru itu kolot.”

“Aku paling jengkel dengan guru mata pelajaran ini. Membosankan!”

Atau, saat guru masih berada di dalam kelas, siswa sopannya minta ampun, sampai-sampai setan sepertinya tertawa terbahak-bahak karena berhasil menangkap pemikiran siswa. Dan, begitu guru sudah membelakang, maka sifat asli siswa sudah semakin semrawut jadinya. Bosan dengan gurunyalah, mau inilah, mau itulah. Bahkan, kadang ada yang sudah berani bilang, “Itu guru, bagus juga kalau dikerjain. Lihat saja, ntar, PR-ku tak kuselesaikan. Aku suka kalau guru marah!”

Itulah sedikit gambaran para siswa kita di jaman edan ini. Tugas guru mesti mendidik. Bukan hanya memberikan penjelasan, latihan, PR, porto folio, dan lembaran tugas kepada siswa. Bukan itu toh saja yang mesti dituntaskan. Banyak, buanyaak (pake’ banget).

Salah satu yang perlu diberikan kepada siswa adalah pembentukan kepribadian. Walau kadang banyak orang yang sering nyindir, “Lho? Membentuk kepribadian? Bukankah kepribadian seseorang itu sudah ada? Apanya yang mau dibentuk?”
Mendengar yang demikian itu, disitulah kadang saya merasa sedih! Saya paham, orang-orang yang berkata demikian adalah golongan orang-orang yang tak paham keadaan. Okelah, betul, kepribadian seseorang, dalam hal ini siswa, memang sudah ada. Tapi, apakah kepribadiannya itu sudah berada pada jalur yang sesungguhnya? Jalur yang diridoi Tuhan? Ini akan menjadi PR bagi para guru.

Manusia memang dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci) dan memiliki potensi yang perlu dikembangkan agar tak salah arah. Manusia diberi potensi untuk berbuat baik (takwa) dan potensi berbuat buruk (fujur), sebagaimana dilansir dalam al-Qur’an surah Asy-Syams ayat 8:

“Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,”

Nah, inilah yang mesti kita pahami. Sebagai seorang guru, kita mengarahkan siswa kita menuju jalan kebenaran, terutama kepribadian yang diinginkan agama. Ketika siswa itu berada di jalur fujur, maka seorang guru punya tanggungjawab besar untuk membelokkan arahnya ke jalur takwa. Dengan demikian, siswa akan memiliki nilai positif di mata semua orang.

Yang paling tidak saya sepakati dalam dunia pendidikan adalah, ketika ada siswa bermasalah yang dikeluarkan. Dia dikeluarkan hanya karena alasan nakal, malas, tak ada perubahan, ini, dan itu. Itu tandanya, sekolah, dalam hal ini guru sebagai pendidik, tidak berhasil mengubah siswa, tidak berhasil mendidik siswa agar bisa lebih terarah, tidak berhasil menanamkan nilai kepada siswanya.

Padahal, seyogyanya, sekolah (baca: guru) adalah tempat untuk menimba ilmu, dan ilmu itu adalah bahan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik ketika dipahamkan oleh guru. Guru adalah sumber ilmu. Itulah hebatnya guru. Dia adalah contoh dan panutan kepada siswanya. Pahlawan tanpa tanda jasa.

Menjadi guru itu menyenangkan. Kita dituntut untuk memberikan yang terbaik kepada siswa. Salah satu yang membuat saya terharu menjadi guru adalah, saat ada seorang siswa pindahan, tergolong siswa nakal, yang bersekolah di tempat saya mengajar. Saya betul-betul merasa sangat bahagia saat itu. Dan, inilah yang membuat saya bersemangat dan menyadari, betapa menjadi seorang guru adalah luar biasa.

Sebutlah nama siswa itu Irwan Arsyad (nama yang sebenarnya). Coba bayangkan teman-teman guru sekalian, disaat Ujian Akhir Sekolah 2014, Ujian Praktik Bahasa Indonesia, salah satu poinnya adalah mengarang, tema: Tiga Pilar Pembangunan Sinjai (Agama, Pendidikan, dan Kesehatan).

Apa yang dia tulis? Mungkin alangkah lebih baiknya ketika coretannya pada lembar jawaban itu saya tuliskan di sini. Berikut tulisannya:

***

Dikala senja telah berada diufuk barat dan sang rembulan telah menampakkan sinarnya, disitulah aku telah beranjak dewasa. Itu menurutku, itu adalah saat-saat untuk memulai lembaran baru. Lembaran yang penuh suka dan duka mengisi kertas kosong menjadi ribuan coretan kecil hingga coretan yang amat besar.

Memang iya masa sekolah menengah pertama aku sudah lalui, sudah selesai. Tapi itu bukan berarti perjuanganku dalam menimba ilmu sudah berakhir. Belum. Setelah lulus SMP, aku dan beberapa teman mendaftarkan diri di salah satu SMK. menurutku, itu adalah sekolah yang luas, guru-guru yang sangat ramah, dan lokasi sekolah yang sejuk. Suasana itu membuatku bertambah gairah untuk bersekolah.

Pada suatu hari, tepatnya hari Selasa tanggal 26 Oktober 2011, aku masih berstatus siswa kelas satu Akuntansi 4 di SMK itu. Pada jam pertama pelajaran Penjaskes, aku telat ke sekolah karena terlambat bangun. Pintu gerbang sekolah sudah tertutup. Dengan sigapnya aku menuju tembok belakang, aku melewati pagar dengan keadaan terpaksa, aku ingin belajar. Tapi ternyata, butir-butir kegelapan sepertinya menghampiriku. Satpam sekolah memergokiku yang sedang memanjat tembok, dan pada akhirnya aku dibawa ke ruang BP untuk diproses. Aku mengaku salah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan yang melanggar kode etik siswa di SMK itu.

Setelah ujian semester pertama, aku sudah terancam untuk tidak naik kelas dengan alasan kehadiranku tidak memungkinkan, apalagi ditambah pengulangan beberapa mata pelajaran tertentu. Yah, kusadari adanya, bahwa aku adalah siswa yang malas. Kata wali kelasku, aku cerdas, hanya saja malas. Aku menyadari semua itu. Aku mengontrol semua mata pelajaran yang tertunda tersebut. Diantara guru, ada yang menganggapku belum berubah, perubahanku mereka katakan hanya sebagai akal-akalanku saja. Tapi, tak apalah, itu adalah kata mereka. Bukan kataku. Yang jelas, aku sudah meniatkan untuk berubah.

Pada semester dua berjalan, aku diterpa banyak masalah. Dimulai dari kedapatan bolos, membawa hp ke sekolah, dan tidak mengerjakan tugas. Karena takut dihukum, kuputuskan untuk tidak masuk sekolah. Ini berlangsung selama seminggu. Selama waktu itu, aku banyak bergaul sampai-sampai aku lupa dengan tugasku sebagai seorang siswa.
Tibalah masa penaikan kelas. Dan aku dinyatakan tidak naik kelas. Mustahil bagiku menolak keputusan itu, aku bersama empat siswa lainnya diberi kesempatan untuk mengulang di kelas yang sama selama setahun. Mendengar berita ketidaknaikanku, beberapa teman sekelasku menangis. Mungkin mereka menangis karena tak ingin berpisah denganku. Aku juga demikian, aku tak ingin berpisah dengan mereka. Namun, aku menyadari bahwa tindakanku selama ini memang salah.

Aku telah putus harapan, aku menyesal. Aku tenggelam ke dalam perasaan bersalah yang paling dalam. Mengapa aku bertindak tak baik selama ini? Mengapa aku terjebak pada pergaulan yang membuatku terkadang lupa akan sekolahku? Aku meyesal. Sangat menyesal. Aku berpikir, tak mungkin aku bersekolah lagi. Tapi, itu membuatku tak patah semangat. Aku terus melangkah, aku pindah sekolah. Aku mendaftarkan diri ke SMK Muhammadiyah. Aku diterima.

Menurutku, sungguh sangat jauh berbeda sekolahku yang dulu dengan sekolah yang baru. Maklumlah, SMK Muhammadiyah adalah sekolah swasta. Walau demikian adanya, aku tetap semangat untuk terus menuntut ilmu.
Hingga pada suatu ketika, aku berangkat ke sekolah. Di perjalanan aku memandangi seragam Satpol PP yang menurutku sungguh berwibawa. Namun, mungkin mereka tersinggung sehingga mereka marah dan membentakku. Karena tak terima, akhirnya aku membalas ucapan mereka bahwa aku hanya melihat pakaiannya yang sungguh luar biasa. Apatah lagi ketika mereka bersama secara kompak. Itu saja.

Mereka mendekatiku, mengancungkan tinju kepadaku. Karena takut, akhirnya aku berlari. Mereka mengejarku. Memang dulu aku sering dikejar Satpol PP karena ketahuan bolos. Tapi kali ini aku sungguh tak habis pikir, disaat aku mulai menyadari arti sekolah, malah aku diperhadapkan kondisi diluar nalarku. Aku terus berlari dan akhirnya berhasil masuk ke lokasi sekolah. Edan. Mereka mengikutiku hingga ke dalam kelas. Mereka naik pitam. Mereka hendak melayangkan tinjunya di wajahku, tapi spontan guru yang lain menahannya. Siswa dan guru-guru membelaku.

Masalah ini akhirnya masuk ke media surat kabar, bahkan di stasiun televisi lokal. Setelah didiamkan oleh para guru, akhirnya Satpol PP yang jumlahnya empat orang itu meninggalkan sekolah. Aku dituntun ke ruang guru. Di sana, aku meneteskan air mata. Bukan karena takut, bukan. Sekali lagi bukan. Justru aku meneteskan air mata oleh karena ini adalah kali pertama aku dibela oleh guru. Aku tersentuh. Selama di sekolahku yang dulu, aku tak pernah sekalipun dibela sama mereka. Justru mereka bersedia memberikan hukuman tambahan atas tindakanku. Hukuman, dan hukuman. Namun, tidak di sekolah ini. Di SMK Muhammadiyah, aku tidak menemukan hukuman itu. Yang kutemukan justru mereka memperlakukanku secara lemah lembut. Memperingatiku untuk tidak mengulagi lagi perbuatanku. Aku terharu. Seolah ada palu godam memukul tenggorokanku, sakit.

Kejadian ini membawaku berani bersumpah. Telah kusumpahkan dalam diriku untuk meninggalkan semua kebiasaan lamaku. Semua itu hanya akan berdampak negatif. Saat itu juga, di ruangan itu, di ruangan guru, di depan para guru yang membelaku, aku ingin memulai kehidupan yang lebih baik lagi ke depannya. Memang jalan hidup seseorang tak selamanya lurus. Dari peristiwa itu, aku bisa memetik banyak pelajaran. Oleh karena aku dapat menyadari siapa diriku sebenarnya. Yah, mungkin setelah gelap, terbitlah terang.

Bapak dan ibu guru Yth,
Aku tak akan pernah melupakan pembelaan kalian.
Terima kasih yang tak terhingga.

***

Siapa coba yang tidak menetes air matanya ketika membaca karangan siswa yang demikian itu? Minimal merasa terharu sebagai seorang guru yang tugasnya menjadi wali siswa di sekolah, sahabat siswa, tempat curhat siswa.

Teman-teman guru sekalian, kisah di atas hanya satu yang saya tuliskan. Kebanyakan siswa menuliskan curahan hatinya yang membuat saya sesak tapi bahagia. Dan, curahan-curahan hati mereka pada lembar jawaban, saya simpan sebagai kenangan. Sungguh, saya senang menjadi seorang guru.

Memang, sekolah tempat saya mengajar adalah sekolah penampungan, begitulah masyarakat sekitar menamainya. Ditambah lagi dengan kondisi bangunan sekolah yang masih jauh dari kesempurnaan. Sarana dan prasarana belum memadai pula. Tapi, sebagai seorang guru, perlu menyadari, kapan dan di manapun kita mengajar, bukan keelitan sekolahnya yang membuat kita berhasil menjadi seorang guru. Melainkan sudah berapa siswa yang menjadi perhatian kita, sudah berapa siswa yang percaya pada kita, sudah berapa siswa yang sudah kita rubah tingkah lakunya? Salah satu rekan saya mengajar, bernama Bu Siti Nurhaerati, S.Pd, mengatakan, “Cintai dulu pekerjaannya, maka kau akan bahagia melakonkannya!”

Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua, amin. []

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10”

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar