3

CERPEN “TANDA PERPISAHAN (2)” (0)

Adit Tristian January 14, 2021

Oleh : Adit “Kantashura” Tristiana

Pagi itu cuaca Kota Bandung sudah diselimuti awan mendung, matahari terlihat enggan menampakkan keperkasaannya. Di hari tersebut Aku, Remi, Hafiz, Tedi, Ervan, Kevin, serta Jibo bermaksud menunaikan janji kami berkemah ke Rancaupas dalam rangka mengisi hari libur.

Aku, Remi, Hafiz, Tedi,dan Ervan sudah siap dengan segala perbekalan dan logistik yang diperlukan, berarti tinggal menunggu  kedatangan Kevin dan Jibo. Sesuai kesepakatan, titik kumpul keberangkatan kami adalah di terminal Leuwipanjang.

Remi : “Kevin dan Jibo kemana ya?”Tedi : “Iya,, kemana mereka? Sudah hampir sejam kita nunggu. Dikira kita pakaian apa dijemur begini!”

Beberapa rekanku sudah mulai mengeluh dengan keterlambatan Kevin dan Jibo. Memang sedianya kami akan berangkat ke “TKP” pkl.09.00, namun hingga jarum jam di tangan menunjukkan pkl. 09.55 belum ada tanda-tanda keduanya akan segera tiba.

Aku : “Sabar cuy,,mungkin Kevin and Jibo kejebak macet.. kan tahu sendiri jarak rumah mereka lebih jauh daripada kita-kita. Lagian apanya yang dijemur Ted? Orang cuaca lagi adem gini. Lebai ahh dikau mah” jawabku berusaha menenangkan kedua rekanku tersebut.

Sekitar 10 menitan setelah pernyataanku tersebut, akhirnya datanglah kedua sosok yang dinanti-natikan kehadirannya oleh kami semua. Ya, Kevin dan Jibo kini telah hadir di tengah-tengah kami dengan menumpang angkutan umum alias angkot.

“Hadeuhh,,juragan pake odong-odong ya kesininya? Lambat nian kalian tuh” sindir Tedi dengan logat sedikit kebatak-batakan.Mendengar gumaman Tedi Jibo pun menjawabnya “sorri ya mas bro-mas bro,, tadi ada sedikit trouble di jalan”.

“Iya maaf kawan-kawan sudah membuat kalian lama menunggu. Sekarang yang penting kami sudah hadir di sini membuktikan janji kami untuk ikut kemping” lanjut Kevin.

Pertemanan kami memanglah tak selalu mulus, pasti ada saja gesekan-gesekan dan ketegangan yang terjadi. Namun hal tersebut tidak melunturkan semangat persahabatan yang telah kami jalin cukup lama. Tanpa menunggu lama lagi kami langsung menuju mobil elf yang menuju ke tempat kami akan berkemah. Di dalam mobil tersebut suasana yang sempat tegang, akhirnya dapat tercairkan kembali dengan obrolan-obrolan yang seringkali disisipi guyonan-guyonan khas laki-laki muda seperti kami ini, tak jarang pula terselip ejekan-ejekan yang dialamatkan kepada masing-masing individu dengan tujuan agar suasana lebih akrab.

Mobil melaju cukup kencang,, hingga lampu merah perempatan kopo tiba-tiba laju elf tersendat. Penasaran dengan apa yang terjadi aku berusaha melihat ke arah depan jalan untuk memastikan hal tersebut tak akan berlangsung lama. Namun seketika aku terkaget dengan apa yang aku saksikan, sebuah mobil angkot dengan keadaan yang memprihatinkan, kondisi mobil angkot terlihat begitu abstrak tak berbentuk lagi, samar-samar terlihat pula darah yang menempel pada angkot yang telah hancur tersebut. Nalarku mengatakan telah terjadi kecelakaan pada angkot tersebut belum lama ini.

Rekan-rekanku melontarkan opini-opininya terkait peristiwa yang kami saksikan, terlihat raut wajah yang penuh dengan rasa penasaran,, apa yang sebenarnya telah terjadi pada angkot naas itu, namun di samping itu rasa ngeri yang teramat sangat tak dapat kami sembunyikan.Selidik punya selidik diketahui bahwa angkot naas tersebut tengah berusaha menghindar dari pengendara motor yang tiba-tiba muncul di hadapannya, namun sayang angkot tersebut justru menabrak pohon besar yang ada di samping trotoar, seketika angkot remuk dan hancur. Diketahui pula bahwasannya terdapat 5 orang di dalamnya termasuk supir, dan semuanya langsung meninggal di lokasi kejadian,

“Kasihan banget ya..gimana perasaan keluarganya tiba-tiba mendapat kabar tragis kaya gini” celetuk Hafiz. “Iya,,pasti sedih sekali” Remi menimpali.Tatapanku teralihkan kepada Jibo yang terlihat begitu sedih dan seakan menahan isak tangis, pemandangan serupa terlihat juga di raut wajah Kevin. Sontak aku bertanya kepada keduanya “Vin, Bo kalian kenapa segitu sedihnya melihat angkot tadi? ” keduanya kompak menggelengkan kepala pertanda tidak ada apa-apa, seketika aku menyimpulkan bahwa Kevin dan Jibo lebih perasa daripada kami, aku mencoba memahami kalau mereka sedang berempati atas peristiwa yang secara langsung disaksikannya.Singkat cerita kami pun tiba di Bumi Perkemahan Rancaupas, tepatnya di daerah Ciwidey Kabupaten Bandung. Begitu turun dari elf hawa dingin seketika menyelimuti tubuh kami, “huuufttt,, dingiiin bingit cuy..padahal udah siang nihh” gumam Tedi.Memang saat kami tiba di lokasi kemah, waktu telah menunjukkan pkl.11.47.

“Aaaahh,, baru segini Ted. Gimana kalau nanti malem? Bisa-bisa membekulah kau menjadi boneka salju” celetuk Ervan yang mampu memancing tawa gemuruh kami semua.Remi: “Ayo,,kita lapor dulu ke pos sekalian membeli tiket masuk”.Aku : “Yuk..lets go!”Sesuai prosedur, kami terlebih dahulu melapor ke pos penjagaan yang tepat berada di pintu gerbang masuk ke tempat perkemahan Rancaupas. Biasanya di pos ditanyai tujuan datang ke sana, sekaligus dimintai tanda pengenal sebagai jaminan. Karena belum memiliki KTP, akhirnya kami menyerahkan kartu pelajar guna memenuhi syarat tersebut.Setelah semua syarat-syarat administrasi terpenuhi kamipun dipersilahkan untuk masuk ke lokasi. Namun sebelum kami ber-tujuh masuk, para bapak-bapak penjaga pos mewanti-wanti agar kami menjaga ucapan dan tingkah laku selama berkemah. Dengan kompak kami menganggukkan kepala tanda mengerti dan menyetujui.Di dalam lokasi perkemahan kami dibuat bingung untuk menentukan spot yang cocok untuk mendirikan tenda, saking luasnya area perkemahan. Setelah berkeliling menjelajah segala tempat yang kami anggap bagus untuk mendirikan tenda, akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda di sebelah barat, selain terdapat wc di area yang kami pilih tersebut pun dekat dengan masjid, sehingga memudahkan jika kami hendak melaksanakan sholat. Setelah semuanya sepakat, bersama-sama kami mendirikan tenda, jumlahnya 2 unit tenda yang masing masing mampu menampung 4 orang. Dalam waktu lebih kurang 45 menit tenda pun berdiri tegak, dan kami sudah siap memulai kegiatan kemping @Rancaupas.Terpancar dengan jelas keceriaan dari kami semua walaupun keadaan langit kurang lebih masih sama dengan keadaan 5 jam yang lalu, yakni mendung karena sang raja siang masih malu-malu untuk keluar.S

elayaknya orang yang sedang berkemping, kami melaluinya dengan aktifitas-aktifitas yang menyenangkan, seperti bernyanyi-nyanyi, bermain kartu remi dengan konsekuensi yang kalah harus merelakan wajahnya dilumuri dengan bedak yang memang sengaja kami persiapkan, sampai berfoto-foto di spot-spot yang kami anggap indah dan unik.Di antara kami ber-tujuh hanya Kevin dan Jibo yang terlihat kurang menikmati saat-saat tersebut. Entah apa yang ada di benak kedua sahabatku tersebut, selain memperlihatkan ekspresi datar cenderung sedih keduanyapun sangat irit bicara, tidak seperti ketika di kelas.Waktupun berganti malam, seketika udara yang tadinya dingin sekarang berubah menjadi lebih dingin, sampai-sampai pakaian 3 lapispun tidak mampu menangkis kondisi tersebut. Aku dan Jibo memutuskan untuk keluar dari tenda dan membuat api unggun mini sekadar untuk menghangatkan badan. Tak berapa lama api unggun pun tercipta, serentak teman-teman yang lain keluar dari tenda dan duduk mengerubungi perapian yang aku buat bersama Jibo.“Ahh,,dasar lu lu pade ya..apinya udah jadi aja langsung pada keluar. Tadi mah boro-boro” celetukku pada teman-teman,, seketika semuanya tertawa dengan pernyataanku itu. Keadaan saat itu seperti malam keakraban (makrab) dimana kami semua bercengkrama dengan begitu santai dan bebasnya seakan tanpa beban di pikiran kami masing-masing.“Malem-malem gini enaknya kita cerita hantu yuu!!!” celetuk Tedi.“Husss…jangan Ted! Kita sedang berada di alam terbuka“pamali” tau ngobrolin tentang hal-hal begituan” jawabku atas ide konyol Tedi.“Ahh,, kaya anak SD aja kau To, takut sama hantu” ujar Tedi mematahkan argumen penolakkanku. Akhirnya aku tak mampu mencegah ide Tedi untuk menghabiskan malam kemah kami dengan bercerita tentang hantu, satu persatu dari kami menceritakan pengalaman pribadi maupun temannya yang pernah mengalami kejadian mistis kecuali aku yang memang sedari awal menolak gagasan tersebut. Entah sugesti atau apa ketika teman-teman bercerita tentang kejadian-kejadian yang berkaitan dengan hal ghaib seketika suasana di tempat kami berkemah berubah menjadi sangat mencekam.Di pertengahan cerita Ervan, tiba-tiba aku merasakan perutku mulas pertanda ingin buang air besar alias BAB. Terlanjur menyimak cerita-cerita yang menyeramkan akhirnya nyaliku ciut untuk pergi ke kamar kecil sendirian. Dengan tidak menghiraukan rasa malu dan gengsi aku memohon kepada Remi untuk mengantarku, dengan sedikit mengolok-olokku akhirnya Remi pun bersedia mengantar. Kami berdua berjalan menuju kamar kecil yang tepat berada di samping masjid, aku masuk ke dalam toilet sedang Remi menunggu sambil duduk-duduk di teras depan masjid. Jujur saja selama di dalam toilet bulu kudukku terus berdiri pertanda rasa takut mengalahkan keberanianku, cukup lama aku BAB tiba-tiba terdengar Remi mengetuk-ngetuk pintu toilet dan berbicara “buruan To buruan!!! Lama amat sih kau”. “Iya bentar Mi ini lagi cebok” jawabku. Setelah selesai buang hajat aku langsung keluar dan menghampiri Remi yang sudah berada dekat pintu toilet. Tanpa banyak berbincang kami berdua langsung bergegas kembali ke tenda, namun baru 7 langkah dari kamar kecil kami berdua tertegun melihat sesosok wanita yang sangat asing bagi kami berada tepat di hadapan kami dengan muka pucat tanpa ekspresi, tubuh wanita tersebut dibalut dengan gaun berwarna putih. Rupanya feeling aku dan feeling Remi sama, dengan melantunkankan ayat-ayat Quran yang kami bisa sembari berlari sekuat tenaga menuju tenda, tentunya dengan menghindari wanita tadi yang kami anggap bukanlah sosok manusia melainkan hantu. Sesampai di lokasi teman-teman kami berada, aku dan Remi memutuskan untuk langsung masuk ke tenda. Hampir semua teman-teman bertanya mengenai apa yang terjadi pada kami, namun aku dan Remi memutuskan untuk tidak menceritakannya saat itu, dan lebih menunggu pagi hari untuk menceritakannya.Pagi pun tiba, aku dan Remi menyarankan kepada Tedi, Hafiz, Ervan, Jibo serta Kevin untuk beres-beres dan segera pulang, pada awalnya mereka tidak setuju dengan saran kami karena merasa masih betah berada di sana, namun setelah kami menceritakan tentang kejadian semalam akhirnya mereka menyetujui untuk pulang pada saat itu juga.Singkat cerita kami telah menaiki mobil elf untuk kembali ke rumah masing-masing, tak ada perbincangan yang kami lakukan, justru kami semua tertidur di dalam elf, mungkin saking capeknya. Setelah cukup lama tertidur, tiba-tiba Ervan membangunkanku disusul dengan membangunkan Remi, Hafiz, dan Tedi, terlihat Ervan begitu cemas dan diwarnai dengan wajah pucat ketakutan. Setelah ditanya oleh Hafiz perihal penyebab sikap Ervan saat itu, Ervanpun menjawab dengan terengah-engah “coba lihat grup BM!” serentak kamipun membuka android masing-masing dan langsung menuju ke aplikasi BM sesuai instruksi Ervan. Dan alangkah kagetnya kami membaca isi di grup kelas kami. Betapa tidak, disitu dikabarkan perihal kecelakaan angkot kemarin yang kami lewati ketika menuju ke Rancaupas, dan ternyata selain si supir, dua teman kami Kevin dan Jibo turut menjadi korban yang tewas pada peristiwa tersebut. Rasa kaget, sedih dan ngeri bercampur aduk di dalam benak kami semua, bagaimana mungkin itu terjadi mengingat Kevin dan Jibo ikut dalam rombongan kami saat berkemah, bahkan hingga kami semua masuk mobil elf untuk pulang.


Mungkinkah ini “Tanda Perpisahan” dari kedua sahabat kami tersebut sekaligus pembuktian janji sebelum keduanya benar-benar meninggalkan dunia yang fana ini???


TAMAT

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar