2

CERPEN “MANTRA CINTA PEMILIK KELEMBUTAN” (0)

Adit Tristian January 19, 2021

Jika menurut Mamah Laurent kiamat itu tahun 2012. Berbeda dengan Nadia, gadis tokoh utama dalam kisah ini.

Kiamat baginya adalah hari ini, hari di mana ia dengan terpaksa pindah dari sekolah formal ke sekolah berbasis agama yang menyediakan kamar asrama. Orang-orang biasa menyebutnya “Pondok Pesantren”. Demi poster Charlie Puth yang tertempel rapih di dinding kamarnya. Tak pernah terpikir di benak Nadia si gadis pecinta kebebasan ini untuk hidup bersekolah di tempat yang isinya aturan – aturan ketat di sana-sini.

Semua ini bermula karena sikap dan prilaku Nadia yang semakin berantakan di mata Ayahnya. Ia sering membolos sekolah, membuat kegaduhan di kelas, nilai-nilainya semakin memburuk. Dan puncaknya ialah ketika ayahnya dipanggil ke sekolah atas keterlibatan putri semata wayangnya dalam tawuran antar sekolah. Tak ada jalan lain demi masa depan putrinya yang cerah.

Lelaki paruh baya yang baru memasuki usia kepala empat yang telah menyandang status sebagai ayah tunggal sejak kelahiran putri mungilnya ini akhirnya mengirim Nadia ke pondok pesantren di sebuah desa terpencil atas rekomendasi temannya dengan harapan sikap dan perilaku putri kesayangannya ini akan membaik.             

Dan di sinilah Nadia sekarang, di sebuah kamar dengan dua buah ranjang bertingkat. Ia berada di pojok kamar sedang membereskan pakaian dan barang bawaannya pada sebuah lemari yang disediakan untuknya, disertai isakan kecil yang keluar dari bibirnya. Nadia memiliki tiga teman sekamar yang sedari tadi memperhatikan acara menangis dan beres – beresnya itu.”Aku rasa apa yang di katakan orang – orang tentang kita yang mendapat teman pindahan yang bandelnya tidak tertolong itu adalah sebuah kabar yang salah.” Ucap salah satu teman baru Nadia yang sekarang mengalihkan acara memperhatikan Nadia dan memilih duduk di meja belajarnya membaca sesuatu entah apa itu. “Maksudnya?” Sahut Putri temannya yang lain yang masih betah memperhatikan Nadia. “Ayolaaah. Apa ada berandalan sekolah yang menangis sesenggukan seperti bocah TK setelah ditinggal ayahnya.” Balas gadis yang diketahui Nadia bernama Bella saat perkenalan tadi. Nadia yang mendengar itu sudah tidak tahan lagi. Dari awal ia tiba di sini mereka mengoceh tentangnya tanpa henti. Dan si pendek Bella itu mengatakan ia seperti bocah Taman Kanak-Kanak.

Ohh,,Nadia tidak bisa membiarkan ini lagi. Ia menutup lemarinya dan berjalan ke arah teman – teman barunya yang ada di dekat ranjang. Ia menatap tajam ke arah Bella, menunjukkan tidak suka.”Lalu apa yang kau harapkan? Aku yang datang secara bar-bar dan mengacau di sana-sini begitu? Ahh,, baiklah akan aku tunjukan padamu seperti apa The Baddest Girl itu.” Ucap Nadia menambahkan senyum mengejek di akhir kalimatnya dan keluar dari kamar itu entah ke mana.”Kamu itu apa-apaan sih Bell, kenapa membuatnya marah?” tanya teman baru Nadia yang sedari tadi tidak melontarkan komentar apa pun.”Aku hanya penasaran okeyy.. ” balas Bella acuh.”Kau dan semua rasa penasaran bodohmu.” Tia menghela napas dan menarik Putri ke luar kamar untuk mencari Nadia.  

Singkat cerita, dua minggu sudah Nadia sekolah di pondok pesantren tersebut. Dua minggu pula tempat tersebut tidak pernah lagi tentram seperti sebelumnya. Berterimakasih lah pada Bella, berkat kata-katanya terakhir kali itu. Nadia semakin menjadi. Ia benar – benar menujukan bagaimana sifat pembuat onar itu. ia tidak pernah berpakaian sebagaimana mestinya murid pesantren-an, memang ia memakai kerudung tapi apa ada seorang gadis pesantren memakai jeans ripped? itu benar – benar tidak ada . Ia juga selalu sengaja tidur di jam pelajaran, tidak pernah mengerjakan piket kebersihan di asrama, serta melanggar peraturan-peraturan lainnya.  Akan tetapi di minggu ketiga, sesuatu terjadi, semua kekacauan yg disebabkan Nadia perlahan sedikit berkurang. Ia jadi lebih jinak. Itu bermula di hari Selasa di jam pelajaran Matematika. Ketika itu seperti biasa Nadia tidur pada jam belajar .

Ketika asyik-asyiknya bermimpi, Nadia merasakan ada yang menepuk dan mengusap pipinya dengan begitu lembut sembari mengucapkan kalimat-kalimat agar ia bangun dengan nada pelan. Seumur-umur ia hidup di dunia, lebih tepatnya kurun 18 tahun ini, tak pernah mengalami yang namanya dibagunkan selembut ini apalagi ketika ia dengan segaja tidur di tengah-tengah jam pelajaran. Dengan perlahan Nadia membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah seorang wanita berkerung soft pink tersenyum hangat padanya “Apa dia guru baru?” Tanya Nadia dalam hati .           

Nadia menegakkan tubuhnya, matanya mengerjap dua kali, lalu menatap si ibu guru dengan tatapan lamat-lamat.”Sudah bangun? Nah Sekarang pergilah ke toilet dan basuh wajahmu hmm.. ” ucap guru tersebut. Bagaikan mantra sihir, Nadia menurut saja pada ucapan tersebut. Ohh ini sejarah baru akhirnya Nadia menuruti perkataan seseorang.Dan dimulai saat itu Nadia selalu mengamati Bu guru matematika yang namanya saja Nadia belum ketahui. entah karena apa Nadia tertarik saja pada guru yang memegang mata pelajaran yang paling dibencinya itu.Mungkin pertemuan mereka yang terkesan berbeda bagi Nadia. Yang biasanya guru- guru lain mengamuk ketika ia berulah guru ini berbeda ia hanya tersenyum lembut ke arahnya. Nadia juga menyukai bagaimana guru ini begitu ramah pada orang-orang di sekitarnya. Apalagi ketika sang guru sangat perhatian padanya.

Nadia menjadi ingat ocehan Tia tentang muslimah sejati ketika ia melanggar salah satu peraturan di asrama. Ia rasa semua cerminan muslimah ada pada guru yang genap berusia 34 tahun, beberapa waktu yang lalu ini. Dan point pentingnya, IBU GURU CANTIK INI BELUM MENIKAH,, dan Nadia rasa misi mendapatkan ibu baru yang baik hati dan penuh kelembutan akan segera terwujud.

TAMAT

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar