0

Cerpen : Mak Ripah (0)

AfanZulkarnain May 6, 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Ini tentang Mak Ripah. Wanita paruh baya itu adalah tetanggaku, kawan. Beliau seorang janda yang sehari-hari menghidupi anak semata wayangnya dengan menjadi buruh cuci. Keluargaku selalu menggunakan jasa beliau. Setiap dua hari sekali, beliau datang ke rumah untuk mengambil dua ember berisi penuh pakaian kotor. Dua hari kemudian, beliau datang dengan tumpukan pakaian yang telah disetrika secara rapi dan wangi. Ibu sangat suka dengan hasil pekerjaan Mak Ripah. Tak heran , Ibu selalu memberi beliau “bonus” sebagai bentuk apresiasi.

Aku pernah tanya kepada Ibu, mengapa selalu menggunakan jasa Mak Ripah? Mengapa tidak menggunakan jasa laundry saja? Aku ingat Ibu menjawab dengan bijak, bahwa dengan meminta tolong Mak Ripah berarti sama saja kita membantu perekonomian keluarganya. Menurut Ibu, Mak Ripah bukan pribadi yang suka meminta-minta. Bahkan harga dirinya sangat tinggi. Prinsip hidupnya sangat teguh, beliau tak mau diberi uang dengan cuma-cuma. Boleh orang lain memberi uang tapi dengan syarat Mak Ripah harus mengerjakan sesuatu dulu kepada sang pemberi. Alasan lainnya adalah hasil pekerjaan Mak Ripah sangat memuaskan. Beliau juga amat jujur. Pernah beliau mengembalikan uang sebesar seratus ribu rupiah yang terselip dalam kantung seragam sekolahku.

Masakan Mak Ripah juga sangat enak. Saat kedua orang tuaku dinas keluar kota, Ibu meminta tolong Mak Ripah untuk membuatkanku makanan setiap hari. Meski menunya sangat sederhana, tapi rasanya luar biasa. Beberapa kali Ibu juga meminta bantuan Mak Ripah memasak berbagai makanan lezat saat keluargaku mengadakan pengajian atau arisan.

Demikian pula saat lebaran. Orang tuaku yang disibukkan dengan pekerjaan tidak memiliki waktu yang banyak untuk mempersiapkan segala masakan khas lebaran. Setiap tahun, Mak Ripah selalu menjadi andalan. Opor ayam buatannya sangat menggugah selera. Kuah santannya sangat lezat, apalagi jika disantap dengan lontong dan sambal goreng hati. Hmmmmmm….rasanya juara. Opor ayam Mak Ripah selalu menjadi hidangan utama saat lebaran di keluarga kami.

Aku sempat mengintip bagaimana proses pembuatan opor ayam itu. Aku sangat dekat dengan putra Mak Ripah. Kami seumuran. Aku mengintip dari balik pintu dapur rumahnya yang sederhana. Dengan tenang beliau meracik satu persatu bumbu. Ketenangan itu terpancar dari senyum hangatnya.Mak Ripah pernah bilang memasak itu harus dengan senyum dan cinta, agar yang makan nanti juga merasakan getaran cinta itu. Saat itu aku sangat percaya, bahwa rahasia resep opor ayam Mak Ripah adalah senyum dan cinta. Hehehehe

Selain itu, saat memasak, Mak Ripah juga sambil bersenandung lagu-lagunhya Roma Irama. Entahlah, Mak Ripah sangat mengidolakan raja dangdut itu. Tak satupun pekerjaan yang beliau lewatkan tanpa bersenandung. Beliau pernah bilang, dengan menyanyi hatinya jadi senang, jadi ia semakin senang dalam bekerja.

Bagiku, sosok Mak Ripah sangat berkesan. Apalagi saat aku dimarahi Ayah dan Ibu, aku selalu melarikan diri ke rumah Mak Ripah. Aku menangis rumahnya. Mak Ripah dengan sabar menenangkanku dan membuatkanku teh manis hangat. Beliau menghiburku dengan senandung lagunya. Meski jauh dari kata merdu, tapi hangat.

Kehangatan Mak Ripah itulah yang selalu aku rindukan ketika aku kuliah di luar kota. Bahkan setiap kali aku pulang saat liburan aku selalu request kepada Ibu agar Mak Ripah membuatkan opor ayam kesukaanku, meski kala itu bukan dalam nuansa lebaran. Opor ayam dan kepribadian Mak Ripah selalu menenangkan.

Namun, lebaran kali ini berbeda. Beberapa hari lalu tersiar kabar duka. Mak Ripah menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelah merampungkan sholah subuh berjamaah di musholla. Seluruh kampung amat merasa kehilangan sosok yang sederhana itu. Demikian pula dengan aku. Saat ditelephone Ibu dan menyampaikan berita duka itu, aku langsung menangis sejadi-jadinya. Padahal momen yang aku selalu aku rindukan sudah di depan mata, menyantap lezatnya opor ayam buatan Mak Ripah. Segala memori tentang Mak Ripah terputar dengan begitu cepatnya. Beliau sangat baik, dan meninggal dengan cara yang sangat baik.

Aku belajar satu hal dari Mak Ripah, bahwa segala sesuatu harus dikerjakan dengan hati senang. Teringat kembali saat aku mengintip beliau memasak opor ayam kesukaanku, beliau melakukannya dengan senyuman. Tak lupa sambil menyenandungkan lagu-lagu Rhoma Irama.

“Memasak itu harus dengan senyum dan cinta, agar yang makan nanti juga merasakan getaran cinta itu.”

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar