4

CERPEN “KADO AMANAH CINTA DARI TUHAN” (0)

Adit Tristian January 14, 2021

Oleh: Adhit “Kantashura” Tristiana

Layaknya seorang pria normal, pastilah Aku mendamba sosok wanita yang sempurna dari segi fisik, akhlak, serta materi. Alhamdulillah kini Aku telah mendapatkannya. Seorang  pasangan yang mampu membuat pria di manapun iri.

Bagaimana tidak? Sosok pendamping yang setiap saat menemani hari-hariku ini berwajah mirip dengan artis idola para kaum lelaki, yakni Raisa mungkin bisa dikatakan keduanya adalah kembar dari segala segi, hanya saja yang membedakannya, Raisa yang menjadi pasanganku ini berhijab.

Hari-hariku begitu indah, mentari seakan senantiasa merekahkan senyumnya terkhusus untukku, serdadu para burung pagi turut menyemarakkan dengan lantunan senandung-senandung cinta milik pujangga mahsyur Kahlil Gibran. Saking perfect-nya balada kehidupanku kini, setiap hari yang seyogyanya berjumlah 24 Jam seakan tersingkat menjadi 24 menit saja.

Pagi berganti malam, dan malam berganti pagi tak menunjukan perubahan yang berarti, lakonku tetap sama, sebagai khalifah bernasib mujur dengan situasi dan kondisi serba menyenangkan. Hingga tiba pada suatu masa, di kala Aku dan pasanganku tengah menikmati pagi yang merona, sebuah meteor dengan diameter yang super besar menghujam tepat di atas kepalaku. Duaarrrrrr!!!!!!

Aku terperanjat sembari melontarkan istighfar,, “Astagfirullohal’adzim” Saat  kedua mata kutingkap perlahan,,begitu buram pandanganku, sesekali ku rasakan kepala nyut-nyutan, jika digambarkan seolah ada burung perkutut yang hilir mudik tepat di atas embun-embunan. Cukup lama menyadari bahwasannya Aku tertidur di bawah pohon mangga, dan tersadar akan segala kesenangan serta kemujuran yang menghinggapiku tadi hanyalah bunga tidur semata yang Allah selipkan di antara sela-sela dzikirku tatkala Aku cukup lelah menggembalakan kambing-kambing milik Tuan Haji Umar, dan ketika ku putuskan menyandarkan sejenak ragaku pada sebatang pohon mangga yang berada di tengah padang rumput wilayah kekuasaan Haji Mochtar.

Walau hanya bunga tidur, Aku cukup senang dan menikmati anugerah indah yang diberikan oleh Allah Swt tersebut, terlebih Aku mengalaminya ketika lelah menyelimuti sekujur badan.  Tak ku ketahui pasti, berapa lama Aku terlelap, di saat terjaga karena sebuah mangga jatuh menimpaku, disitu Aku sadar sedang menunaikan sebuah amanah yang diberikan Tuan Haji Umar. Begitu baik Allah, mengistirahatkanku sejenak dengan bonus mimpi yang indah, yang mungkin saja takkan pernah terwujud di kehidupan nyata, begitupun saat membangunkanku untuk segera menunaikan kewajiban sebagai muslim, yakni sholat ashar, Allah memberi bonus membangunkanku dengan sebuah mangga yang besar dan ranum, sangat cocok untuk melepas rasa lapar dan dahaga ketika itu, walaupun cukup membuat kepala benjol, dan pusing, serta mata berkunang-kunang sejenak.

Singkat cerita, setelah ku tunaikan kewajibanku kepada Allah Swt, kini saatnya kutunaikan kewajibanku terhadap Tuan Haji Umar, yakni mengembalikan kambing-kambingnya setelah seharian Aku gembalakan. Ya, pekerjaanku sehari-hari adalah menggembalakan hewan-hewan milik tuan-tuan Bandar ternak sekitaran tempat tinggalku, di antaranya adalah Tuan Haji Umar. Di tengah perjalanan menuju rumah Tuan Haji, Aku dihadang oleh dua orang pemuda berperawakan kekar, dan jika dilihat dari gelagatnya mereka bukanlah orang baik-baik. Benar saja, salah seorang dari mereka menghunuskan sebilah pisau seraya berkata “ Hey pemuda gembala, berikanlah lima ekor kambingmu itu kepada kami, engkau pasti tak ingin merasakan isi perutmu terburai oleh pisau ini”.

Sontak, sebagai manusia biasa nyaliku menciut karena dihinggapi rasa ketakutan yang teramat sangat akan kematian. Namun di saat Aku mengingat ceramah-ceramah para pemuka agama yang isinya “Tanda orang munafik itu ada tiga: yang pertama> apabila berkata maka ia mendustakan, kedua>apabila berjanji , maka ia mengingkari, dan ketiga> apabila dipercaya, maka ia senantiasa berkhianat”, nahh,, pada point ketiga itulah penekanan secara berulang-ulang otomatis terngiang di benakku. Bagaimana Aku bisa berjumpa dengan Rasul dan juga Tuhanku, jika Aku termasuk pada golongan orang-orang munafik. Sungguh cintaku terhadap Nabi Muhammad SAW dan Allah Swt sanggup mengonversi ketakutanku terhadap kematian menjadi kekuatan yang begitu masiv,, dengan nada tinggi Aku menjawab “Ambillah jika kalian mampu! Takkan ku serahkan seekorpun amanah ini pada siapapun, meski nyawaku tercabut dari raga.”“Cukup besar juga nyalimu pemuda. Bagaimana bisa kamu mempertahankan kambing-kambing gembalaanmu sementara tubuhmu tak bernyawa lagi?” timpal pemuda tadi membalas ucapanku.

Aku : “biarlah, tak mengapa jika pada akhirnya kambing-kambing ini dapat kalian ambil. Setidaknya Aku telah berusaha menjaga amanah yang telah dipasrahkan Tuan Haji Umar kepadaku. Hingga tak ada cela yang membuatku tercegah untuk bertemu dengan Rasul dan Tuhanku.”

Mendengar perkataanku tersebut Si Pemuda yang satunya berusaha menenangkan Si Pemuda yang mengancamku tadi, “Tenanglah saudaraku! biar Aku yang berbicara padanya.” Sembari menunjuk ke arahku.

“Baiklah,,,jika kamu tak mau menyerahkan kambing-kambing  itu kepada kami secara sukarela. Biarlah kami membelinya.”

Ternyata pemuda yang satu ini lebih lemah lembut daripada pemuda yang pertama tadi, namun meski demikian tetaplah penolakan yang Aku lontarkan. Aku tak berani menjual suatu apapun tanpa persetujuan dari pemiliknya, si pemuda itu pun terus berusaha membujuk dan merayu agar Aku mau mengikuti kemauannya.

“Jika kau takut oleh majikanmu, kau cukup katakan bahwasannya lima kambing telah dimakan oleh kawanan serigala. Aman bukan? Selain kamu akan mendapatkan uang, tuanmu pun tidak akan marah karena memakluminya”.

Mendengar penawaran pemuda tersebut, Akupun langsung menjawabnya “Tuanku mungkin tidak tahu, tetapi Tuhannya Tuanku takkan luput dari ketidaktahuan.” Akhirnya setelah menerima terus menerus penolakanku kedua pemuda tadi pun menyerah dan meninggalkanku dengan sukarela.

Sesampai di rumah Tuan Haji Umar, Aku bergegas mengembalikan kambing-kambingnya ke dalam kandang, pastinya dihitung terlebih dahulu hingga genaplah 100 ekor. Senyum sumringah jelas terpancar dari wajah beliau. Tak segan beliau memuji hasil pekerjaanku. “Alhamdulillah, Aku tak salah mengamanahkan pekerjaan ini kepadamu. Ini terimalah upahmu sesuai kesepakatan.” Sembari menyerahkan sejumlah uang yang berada di dalam amplop berwarna coklat. Namun ketika Aku hendak permisi pulang, tiba-tiba Tuan Haji kembali memanggilku, sambil menarik seorang gadis yang begitu cantik dan menawan. Tuan Haji berkata “Ini Putriku,,Aku harap kamu dapat mencintainya sebagaimana kamu mencintai Rasul dan Tuhanmu.

Selidik punya selidik, ternyata kedua pemuda yang mencegatku sewaktu perjalanan pulang ternyata keponakan dari Tuan Haji Umar yang diberi perintah untuk menguji keteguhan imanku dalam menjalankan amanah dari beliau.

” Dalam hatiku berkata “Subhanallah Walhamdulillah Walaailaha Ilallah Huwallahu Akbar”!!!
Sungguh sebuah kado yang indah yang pernah Aku terima sepanjang hayatku.

Comments (4)

  1. Lolos ujian hidup ya pak 😁

    Amanah ini terkesan mudah dilakukan namun sulit ketika dijalani. Banyak godaan hidup yang berusaha mengoyaknya bahkan ingin menghncurkannya. Namun dengan niat akan amanah yang diemban, inshaAllah semuanya mudah dilalui hingga benar² bisa membuat bangga oranglain akan sikap amanah ini.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar