1

CERPEN ” IN THE NIGHT “ (0)

Adit Tristian January 17, 2021

Terkadang tugas sekolah dapat membuat orang waras menjadi pesakitan dalam persekian detik. Dan hal ini di alami Joana sekarang. Gadis cantik mungil yang merupakan seorang siswi kelas 12 di salah satu SMA ternama.

 Masih dengan mood yang buruk ia tetap berjalan tanpa mempedulikan penampilanya yang nampak mengerikan dengan rambut yang lengket karena keringat dan seragam yang terlihat tidak begitu rapih. Lantaran gadis malang ini sudah duduk seharian di perpustakaan sekolah yang luasnya melebihi jagat raya, bagi Joana yang tidak terlalu suka membaca ini karena ia mesti mondar madir kesana kemari untuk mendapatkan buku referensi yang sesuai dengan tugas laporannya.

Langit sudah menunjukan bahwa sekarang malam hari. Sungguh sial bagi Joana demi mengerjakan tugas – tugas menyebalkan dari para gurunya itu ia harus rela pulang larut malam. DRRTTT… DDRTTTT… Ponsel Joana bergetar dengan nama Teressa tertera di layarnya. Dengan malas ia menggangkat panggilan itu sambil terus berjalan.“Ada apa?” ucap Joana to the point dengan nada ketus akibat moodnya yang masih buruk. Seseorang di seberang sana terdengar terkekeh pelan.“Hei dude, slow oke? Kau dimana eoh? Sudah lama kita tidak bertemu bukan?” Joana mendengus kesal.“Ck! Apa – apa itu? Aku harap kita tidak bertemu lagi. Kau tau aku menggila gara – gara harus mengerjakan tugas kelompok kita sendirian?” “Aku sedang sakit sayangku, kau tau kan. Lagi pula kurasa tugasnya tidak sesulit itu.” Balas Teressa teman seperjuangan Joana yang sekarang terkena cacar dan membuat semua penderitan Joana selama ini.

Terlalu berlebihan? Memang.“Itu menurutmu jenius. Nah aku? untung besok hari libur aku bisa tidur seharian” “Sudahlah darling, aku menelfon mu untuk menghibur teman tercintaku ini. Kau masih di jalan kan cobalah lihat ke atas. Indahnya langit malam ini bintangnya cantik sekali.” Ucap Teressa di sebrang sana.“Biasa saja. Titik doang gitu, semacem upil bercahaya.” Celetuk Joana. Efek samping kebanyakan tugas memang berbahaya ternyata. “APA?”“He he. Aku hanya bercanda.

Ngomong – ngomong bagaimana keadaanmu sudah agak baikan?”“yahh begitulah”. Dan sepanjang perjalanan pulangnya Joana ditemani Teressa melalui ponsel. mereka membicarakan banyak hal.

Setelah lima menit panggilan itu terputus Joana sudah sampai di depan rumah. ia membuka pintu rumah besarnya itu. Ia menghela nafas sudah terbiasa akan keadaan rumah yang selalu sepi. Orang tuanya adalah seorang workaholic. So, untuk apa perlu terkejut dan sepertinya malam ini ia di rumah sendirian lagi. Ia melangkah gontai menaiki tangga menuju kamarnya. Joana akan langsung  menghempaskan tubuhnya ke ranjang jika saja ia tidak melihat sebuah kotak di atas kasurnya dengan kartu yang bertuliskan <Happy Birhtday Joana  Dari Ayah dan Ibu Semoga panjang umur sayang>Joana hanya mendengus membacanya. Karena penasaran ia membuka kotak itu dan ekspresinya menatap tak percaya isi dari kotak tersebut.“Ini gila. Mereka kira aku anak kecil apa diberi mainan seperti ini.” Joana melempar boneka Barbie yang berpakaian dress summer itu ke sudut kamarnya dan menimbulkan bunyi buk yang cukup keras. Tapi, Joana tak mempedulikannya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri lalu tidur.

Tanpa ia sadari sebuah bayangan hitam misterius berdiri di sudut ruangan dan menyeringai mengerikan mengamati tubuh mungil Joana yang meringkuk di dalam selimut. Joana tidak tau kenapa ia terbangun tepat pukul satu malam. Ia hendak menarik selimutnya yang terlempar berantakan jauh dari jangkauannya. Yahh, Joana memang tidak tidur dengan anggun seperti wajahnya yang cantik. Tapi, tubuhnya tersentak ketika ia melihat boneka Barbie yang sebelum ia tidur ia lempar ke sudut kamar tiba – tiba berada di sampingnya sekarang.

Melihat itu Joana secara refleks bangkit dari ranjang kemudian menendang boneka itu jauh – jauh darinya hingga membentur pintu. “AAAA…!!” Teriaknya. Kini gadis cantik itu sepenuhnya terjaga. Ia menatap boneka itu dengan tatapan horror. Sejujurnya, Joana sangat membenci suatu hal yang berhubungan dengan hantu. Ia pernah bermain petak umpet dengan hantu ketika ia masih kecil dan membuatnya tidak sadarkan diri selama tiga hari.“S-sejak kapan dia …” Joana mengamati boneka itu dari kejauhan, ia kemudian meraba- raba meja di  samping tempat tidurnya untuk mengambil raket nyamuk. Joana memeluk raket nyamuk itu dengan erat. Jika ia melihat gerakan sekecil apapun dari boneka mengerikan itu, dia akan menyetrum boneka itu detik itu juga.

“K-kau jangan bergerak! Atau aku akan membunuhmu!” Joana mendekati boneka itu sambil menyodorkan raket nyamuk  yang dia bawa sebagai pertahanan diri. Dengan hati- hati dia menempelkan raket nyamuk pada boneka itu. “H-hei!” tidak ada gerakan sama sekali Joana menepuk boneka itu beberapa kali. Puas dengan apa yang dia lihat Joana akhirnya memberanikan diri untuk menyentuh boneka itu dengan tangannya sendiri. Dia menyejajarkan boneka Barbie itu dengan kepalanya. Melihat mata boneka itu dengan tatapan tajam. “Mungkinkah aku sedang bermimpi? Dia terlihat seperti boneka biasa bagiku…” Joana menggigit bibir bawahnya sendiri. “Bagaimana caranya kau ada di-“ Joana menghentikan kata- katanya. Ia bisa merasakan bulu kuduknya merinding sekarang.

“Aku pasti sudah gila. Ini pasti hanya karena kelelahan.” Joana mentertawakan dirinya sendiri. Tidak ada orang lain di rumah selain dia dan sudah pasti boneka itu tidak mungkin bergerak sendiri. Dengan kata lain pasti Joana yang mengambil boneka Barbie itu tanpa sadar. Joana berpikir seperti itu saja sekarang. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Lalu meletakkan boneka itu di atas ranjangnya kemudian ia turun ke bawah untuk mengambil air ke dapur. Ketika membuka pintu kulkas Joana merasakan ada seseorang yang tengah mengamatinya di sudut ruangan sebelah lemari piring tapi Joana berusaha mengalihkannya mungkin kali ini dia sedang berhalusinasi lagi atau sesuatu.

Sesosok bayangan hitam itu menyeringai ketika melihat Joana sedikit melamun ketika meminum airnya.“Kau bisa kerasukan kalau melamun sepeti itu .”Joana menoleh ke belakang mencari sumber suara. Tapi, ketika Joana menoleh ke arah meja makan Joana begitu terkejut ketika mendapati boneka barbie itu duduk manis atasnya. Tubuh gadis cantik itu membeku. Ia menatap  boneka itu dengan tatapan horror. Ia bahkan tidak bisa mengatakan apapun yang dia lakukan hanya berdiri disana dengan posisi pintu kulkas yang masih terbuka.

“A-astaga…” akhirnya suara itu lolos dari mulut mungil Joana. Kini yang ada dalam pikirannya hanya muncul beberapa nama film horror terkenal dengan tokoh boneka pembunuh seperti Child’s Play, Anabelle, atau bahkan Night of The Living Dummy. Joana menutup pintu kulkas, kemudian berjalan ke arah boneka itu.

Tidak ada pilihan lain. Dia akan membuktikan boneka itu kesurupan atau tidak dengan cara bermain petak umpet. Ia rasa orang tuanya pasti sudah tidak waras memberikan boneka yang kerasukan sebagai hadiah ulang tahun.  Ia  kemudian mengambil boneka itu dan memasukannya ke dalam sebuah wadah tanpa berisi air, karena yang ia tau boneka ini sudah kesurupan. Jadi tidak ada gunanya menuruti seluruh peraturan dasarnya. Ia mengambil segenggam garam dan sebuah pisau untuk jaga – jaga. “Nama… benar, kau harus memiliki nama.”“DEBBY?” Joana berbicara pada dirinya sendiri. “Okeyy, mulai sekarang namamu adalah Debby.” Katanya sambil menujuk boneka itu dengan ujung mata pisau.

Sebelum memulai ia menelan ludah dengan susah payah. “Joana yang jaga pertama. Joana yang jaga pertama. Joana yang jaga pertama.” Ia kemudian masuk ke kamar tamu yang berada tepat di sebelah dapur. “Satu… dua… tiga … empat… lima… enam… tujuh… delapan… sembilan… sepuluh…” setelah itu ia kembali ke dapur. “Aku menemukan mu.” Dia berseru sambil mengangkat boneka itu. “Sekarang Debby yang jaga. Sekarang Debby yang jaga. Sekarang Debby yang jaga.” Ia meletakkan boneka itu kembali, kemudian mencari tempat untuk bersembunyi. Joana masuk ke dalam lemari pakaian yang ada di kamarnya di lantai atas. “Semoga itu hanya perkiraan ku saja.” Bisiknya di dalam hati dengan tangan gemetar.

Satu menit…Dua menit…Semuanya berjalan seperti normal. Gadis cantik itu bahkan nyaris keluar dari persembunyiannya, hingga semuanya berubah ketika berada pada menit ke empat. Secara mengejutkan Joana tiba – tiba mendengar suara langkah kaki yang yang naik ke lantai atas. Suaranya cukup pelan, seolah dia tidak ingin Joana mendengarnya. Dan yang terjadi selanjutnya membuat Joana ketakutan setengah mati.

“Come out, come out, where ever you are…” suara bisikan lembut itu terdengar dari kejauhan. Suaranya seperti sapuan angin yang berhembus lembut tapi sedikit mencekam. Sosok itu menyeringai geli ketika memikirkan bagaimana caranya balas dendam kepada Joana karena telah melemparnya. Dia begitu bersemangat untuk memainkan permainan ini. Tap tap tap Ia menyentuh permukaan dingin ketika ia berjalan membuat suara gesekan yang panjang. Sengaja untuk membuat Joana semakin ketakutan ketika mendengarnya.

”Joana…” ia berbisik dengan suara rendah ketika memasuki kamar mandi. “Oh, bukan di sini ya…” erangnya kesal“Joana…” air mata Joana menetes. Ia mengeggam erat garam di tangannya sambil memeluk pisau dapur di tangannya yang lain. Dia begitu ketakutan. “Joana sayang… ayo keluarlah…”

Joana berusaha mengumpulkan kekuatannya. Ia mendorong pintu lemari tempatnya bersembunyi. Mencari keberadaan suara menyebalkan itu. Bermaksud menusuk boneka itu dengan pisau atau mungkin melempar garam itu untuk mengusir roh jahatnya.“D-dimana kau!?” dengan kaki gemetaran. Joana berdiri di lorong rumahnya. Dia menghapus air mata di pipinya.  Angin misterius berhembus, secara mengejutkan piyama yang di pakai Joana robek seketika. Tapi anehnya tubuh Joana tidak terluka. Hanya permukaan baju tidurnya saja yang robek seperti bekas cakaran sesuatu.
Melihat itu tentu saja membuatnya terkejut. “A-apa yang kau laku-“ belum sempat Joana menyelesaikan kata – katanya. Sosok itu muncul menyeringai ia menggerakkan tangannya dengan gerakan yang aneh.

“Hai Joana, lama tidak bertemu?” suara itu terdengar jelas di telinga Joana. Joana bangun dengan merasakan kepalanya yang terasa sakit karena menangis berjam – jam. “Ternyata Cuma mimpi.” Gumamnya lalu menarik selimut ke seluruh tubuhnya karena sinar matahari yang mengucapkan selamat pagi. ia memilih tidur seharian dari pada menangisi orang tuanya yang gila kerja itu ataupun merayakan hari ulang tahunnya.

TAMAT

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar