0

Cerpen Anak : Azam Vs Tikus (0)

AfanZulkarnain May 16, 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Pagi itu Azam dibuat berang. Gambar yang ia buat semalaman sebagai tugas seni budaya rusak. Pada ujung kertas gambar itu terdapat bekas gigitan tikus. Padahal tugas itu harus dikumpulkan hari itu juga. Siswa kelas empat itu tak kuasa menahan emosi dan ia menangis sejadi-jadinya.

“Bagaimana kalau aku nanti dimarahi bu guru, ma…” rajuk Azam. Mamanya membelai lembut rambut putra semata wayangnya itu. “Mama ada ide. Tolong kamu ambilkan gunting!”

Azam mengikuti instruksi mamanya. Ia mengambil gunting yang terletak di atas meja belajar lalu menyerahkan benda tersebut kepada mamanya. Dengan cekatan sang mama menggunting setiap ujung kertas gambar itu sehingga tak terlihat lagi bekas gigitan tikus. Azam dapat bernafas lega. Ia mengucapkan terima kasih kepada mamanya. Namun ia masih menaruh dendam pada tikus-tikus yang telah merusak tugasnya.

Ini bukan kali pertama ia dibuat geram oleh tikus-tikus itu. Kemarin, binatang pengerat tersebut mencuri satu-satunya ayam goreng yang tersisa di atas meja. Bukan hanya makanan, sabun di kamar mandi pun disikat. Tikus-tikus itu menghabisi sabun batang yang baru dibeli mama dari minimarket. Tiga hari lalu, saat Azam mengundang teman-temannya mengerjakan tugas kelompok, tikus-tikus itu tampak berkejar-kejaran di lantai. Kejadian tersebut membuat teman-temannya panik, terutama temannya yang perempuan, mereka menjerit ketakutan. Azam jadi malu.

Ia pun bertekad untuk mengusir tikus-tikus itu dari rumahnya.

Sebenarnya orang tuanya sudah beberapa kali mencoba menangkap tikus-tikus itu dengan berbagai perangkap. Namun gagal. Pernah pula menggunakan racun tikus, tapi juga tak berhasil. Bukannya berkurang, tikus-tikus itu malah beranak pinak. Rumah Azam seperti istana bagi hewan tak diundang itu.

Azam sendiri heran mengapa rumahnya jadi sarang tikus. Padahal keluarganya telah rutin membersihkan rumah. Namun tikus-tikus itu semakin betah di rumahnya.

Hari itu, Azam memutar otak untuk mencari cara membasmi tikus-tikus tersebut. Saat jam istirahat ia bertanya kepada teman-temannya. Tak ada solusi berarti. Solusi yang mereka tawarkan sudah pernah dicoba namun gagal. Ia pun bergegas ke ruang guru untuk menanyakan hal itu kepada Pak Zul. Beliau pembina ekstra public speaking Azam. Beliau juga pandai dalam hal ilmu alam. Pak Zul guru yang sangat baik. Beliau selalu mendengarkan curhatan siswa-siswinya dan memberikan mereka solusi yang bijak.

“Pak Zul…” Azam mencium tangan Pak Zul sebagai tanda hormat. Nada suaranya seperti manusia yang paling menderita di dunia.

“Ada apa, Zam?” tanya Pak Zul ramah.

“Pak, saya ada masalah nih…”

Pak Zul mengernyitkan dahi. “Wah…masalah apa, Zam?”

Azam menceritakan masalahnya. Pak Zul menyilangkan kedua tangannya. Beliau beberapa kali memejamkan mata. Itu adalah sikap khas beliau saat berpikir. Sejurus kemudian beliau membuka mata dan menyampaikan ide briliannya. Azam mengangguk pelan dan ia bertekad mencoba saran Pak Zul sepulang sekolah.

***

Sepulang sekolah, Azam langsung menghampiri laptopnya. Ia membuka youtube. Pada kolom pencarian ia mengetik “Sound of cat to scare” . Beberapa detik kemudian mucnul beberapa video pilihan. Azam memilih salah satu. Tak lupa ia menghubungkan laptopnya dengan sound yang volumenya ia maksimalkan. Suara kucing pun terdengar hingga ke penjuru rumahnya.

Tikus-tikus yang biasanya berlarian di lantai tak nampak batang hidungnya. Tak ada lagi suara gaduh di atap rumah yang biasanya muncul akibat para tikus itu berkejaran. Mungkin mereka ketakutan mendengar suara kucing yang bersahutan. Bagi mereka, suara itu mungkin sangat menyeramkan. Sepintas, Azam melihat seekor tikus mengintip dari balik lemari. Tikus itu seperti melihat situasi namun karena suara kucing maish terdengar, binatang itu kembali bersembunyi.

Sepanjang hari Azam mengumandangkan suara kucing itu. Alhasil, sejak saat itu, tikus-tikus itu tak terlihat lagi berkeliaran di rumahnya. Mungkin mereka sudah bermigrasi ke tempat lain karena dianggap rumah Azam sudah tak lagi aman bagi keberadaan mereka.

Azam sangat puas dengan ide Pak Zul itu. Rumahnya pun bebas dari tikus-tikus nakal tersebut. Orang tuanya pun senang. Mereka mengingatkan Azam untuk mengucapkan terima kasih kepada Pak Zul. Azam mengangguk pelan sambil melengkungkan senyuman.

Senyuman kemenangan.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar