0

Cerpen : Aku Mengenang Nenekku (0)

AfanZulkarnain May 8, 2021

Penulis : Slamet Utomo

Aku tidak tahu siapa ayah dan ibuku. Menurut cerita nenek, ayahku meninggal katika ada wabah cacar menyerang desa ini. Ayah dan Ibu baru empat bulan menikah ketika itu, dan lima bulan setelah itu ibuku menyusul ayah beberapa menit setelah aku dilahirkan.

Bertahun-tahun aku hidup bersama nenek. Nenekku mempunyai perwatakan yang kukagumi. Ia keras hati, tabah, dan mempunyai kepercayaan yang besar pada dirinya untuk sanggup hidup tanpa bantuan orang lain. Kami hidup dari berjualan keliling ke tempat-tempat yang jauh dari pasar, di mana aku mendampingi nenek dengan menyunggi keranjang di atas kepala berisi bawang, kunyit, merica dan sebagainya.

Pada suatu kali aku menyunggi keranjang sambil berlari-lari. Aku tergelincir jatuh dan tiga puluh butir telur pecah. Heran, ketika itu pun nenek tidak marah. Dengan tergesa ia membangunkan aku, “Hati-hati nak. Apa ada yang luka?”. Diusapnya bajuku yang kotor. Aku terenyuh sekali bila ingat peristiwa itu.

Pamanku pernah minta pada nenek agar diperbolehkan merawat, sekalian menyekolahkanku. Pamanku tinggal di kota, sudah menikah dan bekerja pada dinas pemerintah. Tapi nenek bersikeras. “Aku masih kuat. Biarlah aku merawat dia!”

Keanehan nenek yang membuatku selalu tak mengerti adalah, ia selalu menolak bila ada orang mau memberi apa-apa kepadanya. Sekaligus pamanku sendiri, anaknya. Sering paman marah-marah karena penolakan itu.

Nenek sudah uzur sehingga ada gejala kembali pada sifat kanak-kanak waktu aku sudah duduk di kelas III sekolah dasar, namun beliau masih saja berkeliling menjajakan dagangannya. Padahal kami juga punya sebidang kebun yang menghasilkan kelapa, manga, manggis, duku dan durian, sehingga hasil-hasil itu memadailah untuk kelanjutan hidup kami berdua. Apalagi kami juga sedikit beternak ayam dan beberapa ekor kambing.

Pada suatu hari nenekku jatuh sakit. Kakinya membengkak. Suasana jadi hiruk pikuk, tetangga memnuhi rumah. Nenek pingsan berkali-kali, paman dari kota datang bersama istrinya. Bagiku setiap detik adalah do’a. Nafas nenek tampak begitu lambat dan berat. Namun lambat laun nenek kembali normal. Timbul tanya diantara kami : Apakah yang diberatinya untuk meninggalkan dunia ini?

Hanya sekarang beliau patuh pada saran paman untuk tidak berjaja lagi. Maka hari-hari nenekpun dihabiskan di rumah. Kian lama, menurut pandanganku nenek semakin tua. Aku merasa takut kehilangan beliau. Terasa satu tuntutan padaku untuk berbenah diri. Keterenyuhanku hari demi hari  merambati usia kanak-kanakku.

Apalagi sering beliau terdengar omong-omong sendiri. Tanpa sebab marah-marah, tapi sasaran kemarahannya bukan kepadaku. Aku takut sekali. Banyak kali beliau menyebut-nyebut nama Misran. Belakangan kutahu bahwa Misran adalah nama almarhum Kakekku.

“Hei,Misran. Kenapa sih kau memaksa-maksa orang?”

Bulu kudukku berdiri rasanya.

“Kupikir ada baiknya juga mengikutimu, tapi tidak sekarang!”

Lalu umpatan-umpatan yang meremangkan bulu romaku. Pernah aku bermaksud memberi tahu paman, tapi bibi Siti, tetangga kami yang ikut menjaga nenek melarang. “Tidak apa-apa, jangan mengganggu ketenangan orang karena hal-hal yang tak seberapa,” katanya.

Ketakutanku menyiksa tiap aku mendengar tarikan nafasnya yang berat dan tak teratur bila beliau tidur. Sering beliau kubangunkan, tapi nyatanya tidak apa-apa.

Sampai tibalah saat puncaknya. Pada tengah malam yang ngelangut, sepi, kudengar nenkku mendesah-desah, kembali menyebut nama Misran. Nafasnya makin berat, dan aku tercekam. Sejurus lamanya kudengar nafas nenek tak terdengar sama sekali. Kubangunkan beliau. Namun diam. Kupanggil keras-keras sambil mengguncang-guncang tubuhnya. Dia diam. Kupanggil keras-keras sambil mengguncang-guncang tubuhnya. Dia diam. Aku menjerit sekuat mungkin. Ia diam. Kemudian aku tak ingat apa-apa. Ketika aku terbangun, di rumah kami banyak orang sedang sibuk.

Ah, nenekku telah mengabulkan ajakan Misran.


Slamet Utomo (Alm) adalah mantan wartawan dan penulis dari Banyuwangi yang wafat tahun 1999. Cerpen ini pernah dimuat di Rubrik Seni dan Hiburan Surat Kabar Surabaya Post pada 24 Januari 1979 . Saya, Moch Afan, adalah putra bungsu dari almarhum yang ingin membagikan karya-karya beliau di komunitas ini.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar