7

Cermin Retak bernama Ujian Nasional (UN) (+2)

Mustafa Kamal April 18, 2012

Setiap Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) selalu menghabiskan anggaran yang tidak sedikit baik ditingkat pusat, daerah maupun sekolah. Untuk UN tahun 2012 ini pemerintah pusat mengganggarkan Ujian Nasional yang diambil dari APBN sebesar 600 Milyar yang digunakan untuk pembuatan soal, percetakan, penggandaan, dan pendistribusian soal-soal UN (sedikit catatan lembar LJUN ditahun 2012 ini kualitasnya sangat buruk mudah sobek jika dihapus, begitu juga naskah soalnya tidak jelas, buram seperti hasil fotocopy kebanyakan) . Masing-masing pemerintah daerah juga mengeluarkan anggaran dari APBD nya sekitar 10 Milyar yang katanya digunakan untuk persiapan UN, biaya operasional pengawasan dan pengawalan UN baik untuk guru-guru maupun aparat kepolisian dan sekolahpun juga mengeluarkan anggaran yang nilainya juga sampai jutaan untuk konsumsi, transportasi dan uang saku guru yang awasi ujian dan juga polisi.

Karena banyak dana yang domobilisasi di pelaksanaan UN ini , tujuan UN yang seharusnya adalah alat penilaian untuk mengevaluasi secara komprehensif apakah rakyat sudah mendapatkan pelayanan pendidikan yang berkualitas yang bisa membuat mereka menjadi masyarakat terdidik, beralih fungsi menjadi alat untuk pemuas kebutuhan popularitas dan finansial lembaga dan orang-orang yang terkait dengannya.

Kepentingan-kepentingan tersebut antara lain dimulai dari Bupati/walikota yang ingin dianggap berhasil dalam membangun pendidikan, lembaga yang terlibat dalam pengadaan soal memiliki kepentingan, yang mencetak memiliki kepentingan, sekolah yang dana bantuannya ditentukan dari nilai UN memiliki kepentingan, guru yang mendapat penghasilan tambahan dari terobosan, bimbingan belajar untuk persiapan UN memiliki kepentingan, bisnis bimbel memiliki kepentingan, penerbit buku soal-soal UN memiliki kepentingan dan masih banyak lagi pihak-pihak yang berkepentingan lainnya.

Akhirnya polemik dan hiruk pikuk UN seperti kecurangan-kecurangan, ketidakjujuran, demo agar UN dihentikan atau tidak lagi penentu kelulusan, masalah sosial, generasi muda yang frustasi hingga bunuh diri, semuanya hanya menjadi selingan dan angin lalu. UN terus dilaksanakan dari tahun ke tahun dengan gagahnya, walaupun ada sedikit perubahan hanya seperti berganti baju saja. Slogan Ujian Nasional "Prestasi Yes, Jujur Harus" cuma sekedar isapan jempol saja. Keberadaan Polisi di sekolah dan CCTV diruang ujian dibeberapa daerah semakin memperburuk citra bangsa, anak-anak dan pendidik Indonesia diberlakukan seperti penipu yang tidak bisa lagi dipercaya.

Mau dibawa kemana pendidikan negri ini? Kejujuran dibenturkan dengan berbagai kepentingan dan uang, akibatnya kejujuran rapuh dan mati suri. Jika terus begini lambat laun bangsa ini akan kehilangan karakter sebagai bangsa bermartabat, jujur dan punya harga diri. Generasi masa depan akan menjadi generasi rapuh, pembenar kecurangan untuk mencapai segala keinginan.

Solusi satu-satunya adalah hapus Ujian Nasional! Ciptakan sistem Evaluasi baru untuk melihat efektivitas pendidikan kita. Mata rantai yang sudah kronis ini harus diputus, dan babat habis! Buka logika kita manamungkin sekolah yang tidak punya fasilitas memadai, tidak ada listrik, komputer, ruang laboratorium, dan kekurangan guru bisa disamakan dengan sekolah yang bagus lengkap dengan segala failitas. Pendataan sekolah-sekolah mulai dari fasilitas, guru dan sebagainya sudah cukup untuk memetakan seperti apa pendidikan Indonesia.

Serahkan pendidikan kepada ahlinya! Siapa mereka : Guru mereka disekolah. Guru yang berhak menilai anak ini layak naik kelas, atau lulus dari sekolah itu. Saat ini yang masih dipercaya dan tidak dikritisi oleh masyarakat adalah sistem kenaikan kelas, perketat sistem ini! Anak yang tidak layak jangan dinaikan ke jenjang lebih tinggi. Begitu juga dengan masalah kelulusan. Untuk melihat pencapaian pembelajaran, lihat saja dari hasil Tes masuk Ujian Perguruan Tinggi Negri yang Terakreditasi, berkualitas dan dipercaya.

Sudahlah tidak perlu lagi kita bercermin kepada angka-angka hasil UN yang tidak bermakna tersebut!

Percayakan saja kepada pendataan dan penilaian sekolah berkualitas mulai dari fasilitas, guru dan tenaga kependidikannya. Ukuran keberhasilan sekolah bisa dilihat dari banyaknya lulusan mereka yang melanjutkan ke perguruan tinggi atau langsung bekerja di perusahaan. Berarti sekolah tersebut berhasil merubah motif berfikir masyarakat sekitarnya bahwa pendidikan itu penting! atau sekolah tersebut berhasil menciptakan tenaga yang diperlukan perusahaan yang membutuhkan.

Sekali lagi. Sudahlah tidak perlu lagi kita bercermin kepada angka-angka hasil UN yang tidak bermakna tersebut!

Comments (7)

  1. @ pak Isna: Benar, pak! Entah sampai kapan kita dipaksa menerima hal yang bertentangan dengan hati nurani ini, dengan dalih demi masa depan anak didik kita, kita dipaksa melihat saja apa yg terjadi…..saya yakin 99% guru di indonesia ini tidak sepakat dengan “kondisi UN” yg sarat kepentingan ini….

    kejujuran sudah mati di negri ini…..salam 😀

  2. ya, saya pun melakukan angket kecil kecilan di alah satu jejaring sosia, mengenai pelaksanaan UN sebagai standar kelulusan, meski hasilnya belum selesai saya olah, namun hasil sementara menunjukan bahwa sebagian besar pendidik tidak setuju denganpelaksanaan UN ini.

  3. Agaknya lebih banyak yg tidak setuju UN, daripada yang setuju ya pak… Padahal rasanya dari dulu sudah ada yang namanya ujian akhir, tetapi mengapa UN ini seperti sosok yang menakutkan? Sehingga demi mendapatkan nilai tertentu akhirnya tidak ada lagi kejujuran…

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar