0

Workshop BRIDGE Bagian-1: Menjadi Pendidik yang Sehat dan Profesional di Era Digital (0)

Yusmini April 11, 2021

Hai sahabat Guraru-ers. Semoga tetap semangat dan selalu dalam keadaan sehat walafiat. Kali ini pembahasan artikel kita mengenai bagaimana menjadi pendidik yang sehat dan profesional di Era Digital.

BRIDGE EDUCATOR WORKSHOP

Judul tulisan artikel kali ini diambil dari materi BRIDGE Educator Worskhop yang penulis ikuti mulai tanggal 8 s.d 9 April 2021. Kegiatan ini digelar oleh Australia-Indonesia BRIDGE School Partnerships Program melalui aplikasi konferensi video Zoom Meeting.

Kegiatan BRIDGE Educator Workshop yang berlangsung selama dua hari ini diperuntukkan bagi perwakilan dari sekolah dan madrasah yang telah bergabung dalam program BRIDGE. Setiap sekolah maksimal diwakili 3 orang peserta (1 orang dari Kepala Sekolah/Wakil Kepala Sekolah dan 2 orang guru yang telah bergabung dengan program BRIDGE).

Selama dua hari kegiatan, para peserta diberikan materi-materi yang sangat menarik yang berhubungan dengan bagaimana menjadi pendidik yang sehat dan profesional di era digital. Pemateri pada hari pertama adalah Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd. yang merupakan Guru Besar Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Universitas Pendidikan Indonesia.

Hari kedua kegiatan dilanjutkan dengan pembagian para peserta ke dalam 3 room Zoom Meeting. Adapun pemateri pada hari kedua selain Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd. adalah Dr. Tina Hayati Dahlan, S.Psi., M.Pd., Psikolog; Dr. Mubiar Agustin, M.Pd., dan Dr. Mamat Supriatna, M.Pd. yang juga merupakan staf dosen Universitas Pendidikan Indonesia.

Intelligent, Love, Care

Dalam sesi tanya jawab sambil melakukan semi konseling kepada para peserta Prof. Juntika memaparkan jika ingin sukses, jika ingin sukses membantu orang lain, jika ingin sehat maka kita harus mempunyai rumus ILC. Apa itu ILC? Intelligent, Love, Care.

“Intelligent (cerdas), artinya kita harus cerdas menghadapi berbagai permasalahan hidup. Love (cinta), dengan mengandalkan kecerdasan saja tanpa cinta maka hidup ini tidak akan bermakna. Cintailah anak setulus hati, cintailah profesi setulus hati, dan yang tidak kalah pentingnya adalah cinta itu memerlukan pengorbanan. Kita tidak bisa mengatakan bahwa cinta tanpa ada pengorbanan. Kita juga tidak bisa mengatakan bahwa cinta itu tanpa ada kepedulian, atau Care (kepedulian). Contohnya adalah suatu sekolah bisa maju karena adanya saling kepedulian semua pihak yang ada di dalamnya,” ujar Prof. Juntika.

BRIDGE Educator Workshop pada hari kedua membahas materi tentang Aplikasi dan Implementasi Physical and Mental Wellness dalam profesi sebagai pendidik.

Kesimpulan dari Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd.

Pada bagian akhir kegiatan, Prof. Dr. Juntika Nurihsan, M.Pd. memberikan empat kesimpulan, yaitu: (1) Hendaknya guru dan kepala sekolah harus terus belajar, belajar, dan belajar, (2) Guru dan kepala sekolah harus menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman dengan era digital dengan berupaya terus untuk mengembangkan kepribadiannya menjadi kepribadian yang efektif, (3) Diperlukan guru dan kepala sekolah yang sehat secara utuh yang mampu membantu peserta didik memberdayakan dirinya dan mampu menggunakan lingkungan di sekitarnya sehingga memperoleh kebahagiaan juga bagi anak didik kita, dan (4) Dalam menghadapi era digital dan era pandemi, guru dan kepala sekolah dituntut mempunyai kepribadian yang sehat yaitu kepribadian yang tangguh dan mampu menyesuaikan diri dengan luwes, fleksibel.

*Semoga bermanfaat*

Sumber:

BRIDGE Educator Workshop via Zoom Meeting (8 s.d 9 April 2021)

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar