6

Cara Menjadi Guru yang Disukai Siswa Versi Saya (0)

Wahid Priyono, S.Pd. December 1, 2020

Menjadi guru memang harus totalitas dalam bekerja, termasuk seorang guru adalah pelayan bagi “siswa” dan “orang tua” mereka.

Seperti halnya petugas satpam di bank yang bekerja untuk melayani tamu yang hendak berkunjung, maka si satpam tersebut harus menunjukkan sikap peduli, senyum dan sapa, serta haru aktif untuk memberikan solusi dari permasalah para nasabah yang berkunjung.

Sama halnya dengan profesi guru, maka seorang guru harus “menjadi pelayan” bagi siswanya. Maka sebagai petugas pelayanan, maka guru harus murah senyum, penyayang dengan siswanya, ikatan emosional harus terbangun dengan baik bersama siswanya, tidak menjadi guru yang keras tapi harus lembut saat bertutur kata dan bertingkah laku.

Namun, satu hal yang menurut saya berat adalah menjaga prilaku agar terlihat baik oleh banyak orang. Maka, sebagai guru sudah sepantasnya harus menjaga prilaku agar terlihat baik di depan siswa-siswinya.

Jangan sampai, prilaku jelek muncul dan terlihat di depan siswa. Guru harus menjadi teladan yang baik, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas.

Tidak hanya itu, ternyata siswa akan menyukai guru yang secara akhlak baik, dan mampu menolong jika ada keluhan atau kesulitan siswa baik saat belajar di kelas maupun saat kegiatn-kegiatan ekskul.

Siswa juga akan semakin dekat dengan guru yang supel, peduli, dan tanggungjawab dengan tugas-tugas mengajar. Selain guru yang bisa menjadi “pendengar yang baik” dan mau menerima kekurangan dan mengapresiasi kelebihan mereka maka siswa akan suka dengan tipe guru yang seperti ini.

Apalagi guru-guru yang melek terhadap literasi dan IT, tentu saja para siswa akan sangat senang dengan guru semacam ini, karena biasanya banyak sekali inovasi pembelajaran yang akan didapatkan oleh siswa.

Bahkan saya punya pengalaman bahwa, guru yang disiplin saat masuk pembelajaran di kelas maka akan dianggap sebagai guru yang rajin dan konsisten dengan jam pembelajaran.

Bahkan, saya pernah dicap oleh siswa sebagai guru yang rajin dan disiplin. Karena setiap kali ada jam pembelajaran, saya selalu masuk tepat waktu dan tidak ada materi pelajaran yang tertinggal.

Memang ketika saya mendedikasikan diri sebagai seorang guru, maka saya berupaya untuk selalau konsisten dengan waktu. Saat waktunya mengajar, maka saya akan langsung masuk ke kelas untuk menyampaikan materi dari awal pembelajaran hingga akhir. Tentu saja, saya tidak ingin waktu anak-anak dirugikan oleh guru yang mungkin malas untuk masuk ke kelas.

Di dalam kelas, biasanya ada saja masalah anak baik yang mungkin bandel atau pendiam dan lain-lain.’

Saya ketika mengajar di kelas tidak pernah membedakan siswa berdasarkan kategori malas, pintar, nakal dan seterusnya. Semua siswa saya anggap sama, punya potensi dan peluang yang sama untuk menjadi orang yang sukses ke depannya.

Bahkan, anak-anak yang nakal selalu saya rangkul agar mereka semangat dan mau belajar. Karena sebenarnya anak-anak nakal itu butuh perhatian dan bukannya malah kita marah-marah. Mereka juga butuh kasih sayang dan mungkin bisa kita “support” untuk terus berbenah menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Sementara dalam hal pemberian nilai kepada siswa, tentu saja saya seobyektif mungkin. Anak-anak/siswa yang mungkin nilainya masih kurang mungkin bisa kita tanyakan secara persona, mengapa nilai mereka saat ujian bisa kurang memuaskan, lalu saya sebagai guru mencari cara agar ke depan si siswa ini bisa lebih prestasi lagi.

Jadi, menjadi guru yang disukai siswa itu harus peduli, tanggungjawab dengan tugasnya ketika mengajar, serta bisa menjadi sosok yang kasih sayang dan lemah lembut dalam bersikap.

Yuk, sama-sama kita sebagai guru harus mulai dan mau untuk membiasakan diri menjadi sosok guru yang disukai siswa-siswanya karena hal-hal yang disebutkan di atas.

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar