15

Buntu juga Inspirasi (+2)

M. Rasyid Nur January 15, 2014

“KETIKA suatu hari tiba-tiba saja tidak ada ide yang timbul untuk ditulis, janganlah berputus asa.” Itu salah satu pesan yang disampaikan seorang penulis terkenal dalam memberikan motivasi agar terus menulis setiap hari. Saya setuju semangat motivasi itu. “Jangan berputus asa,” tegasnya. Saya kira memang tidak seharusnya berputus asa.

Jika sudah membuat tekad bahwa setiap hari ‘wajib’ menulis maka menulislah sesuai tekad itu. Jangan berubah perinsip dari tekad untuk terus menulis menjadi berhenti menulis. Teruslah menulis. Menulis, menulis dan menulis. Tulislah apa saja. Sekali lagi, tekad dan semangat seperti itu harus terus dipertahankan.

Persoalannya, (jika ini dianggap persoalan) seumpama tidak ada ide, apakah juga harus menulis? Mungkinkah orang bisa menulis sementara ide yang mau ditulis tidak ada? Saya berperinsp, tetap harus menulis. Tekad menulis setiap periode waktu yang sudah ditentukan, ya menulislah. Tidak ada ide tidak perlu juga disesali untuk menyebabkan tidak menulis. Tetap saja berusaha untuk menulis dalam keadaan perasaan tidak ada ide alias otak lagi buntu itu.

Justeru tidak munculnya inspirasi untuk melahirkan sebuah gagasan yang akan ditulis, dijadikan sebagai sebuah inspirasi dan ide baru. Akan ada pertanyaan, mengapa hari itu, misalnya tidak ada gagasan yang mau ditulis. Adakah karena kewajiban membaca belum dilaksanakan? Apakah kaena kesibukan pekerjaan rutin lain yang membuat tidak sempat memikirkan masalah lain? Dari pertanyaan-pertanyaan itu akan ada jawaban-jawaban yang boleh jadi merupakan ide baru yang layak dibaca orang. Singkatnya, buntunya pikiran atau kosongnya ide baru di pikiran, sesungguhnya merupakan satu ide juga untuk dijelaskan kepada pembaca.

Kita bisa ceritakan bagaimana tekad untuk menulis setiap hari sudah menjadi tekad yang tidak bisa ditawar-tawar. Dan kita sudah buktikan selama ini bahwa setiap periode itu memang selalu lahir minimal satu tulisan yang layak dibaca orang lain. Hanya pada hari itulah kebetulan tidak ada gagasan yang mau disampaikan. Nah, justeru tidak ada gagasan dengan penjelasan dari berbagai sudut itulah yang akan menjadi gagasan baru. Jadi, buntu ide sesungguhnya juga bisa menjadi inspirasi baru untuk ditulis. Sehingga tradisi menulis setiap hari (periode tertentu yang sudah ditetapkan) itu terus mampu dibuktikan.

Bagi seorang guru yang setiap waktu harus selalu beraktivitas di sekolah atau di luar sekolah, betapa sebenarnya tidak akan pernah kering dari ide untuk ditulis. Guru bahkan karena profesinya juga harus membuat berbagai tulisan yang berkaitan dengan tugas dan fungsi keguruannya. Itu juga sudah merupakan bagian dari pelaksanaan tekad untuk menulis itu sendiri. Tidak tepat kalau ada anggapan bahwa gagasan dan inspirasi untuk menulis biss habis atau kosong pada waktu-waktu tertentu. Semua dapat menjadi bahan tulisan jika kemauan menulis sudah terpatri kuat di hati dan tindakan. ***

About Author

M. Rasyid Nur

Menjadi guru (honorer) sejak tahun 1980, ketika masih mahasiswa. Selanjutnya menjadi PNS (aktif) sejak 1985 dengan SK TMT 01.03.1984 dan terus menjadi guru hingga sekarang. Insyaallah akan purna bakti pada 11.04.2017. Obsesi, "Berharap kehebatan murid melebihi kehebatan gurunya."

View all posts by M. Rasyid Nur →

Comments (15)

  1. Betul pa Rasyid. Suatu ketika omjay menjawab tentang pertanyaan seorang peserta seminarnya, “saya tidak bisa menulis selalu saja tidak tahu bagaimana awalnya menulis”.
    Panjang lebar dia bercerita kesusahannya menulis. Akhirnya kata Omjay,.. “coba tulis apa yang ibu sampaikan barusan”.
    Hehe.. jadi deh sebuah cerita dengan judul penuh kebuntuan “Saya ga Bisa Nulis”.

  2. Pernah ndak mencoba merangkai tulisan diri dari status facebook yang ndak nyambung? Coba saja bikin sambungannya pasti jadi juga. Coba saja. Kalau ada pernyataan coba tulis yang ibu sampaikan itu ndak bener juga. Lah orangnya mau nulis apa kalau dirinya ndak ingin nulis, Yang serperti itu pasti bikin tambah bingung yg tanya.
    Kalau ketemu teman terus ngobrol pernah ndak kita rencanakan obrolan kita yng ngalor ngidul? ndak kan, nah ikuti gaya begitu saja, toh nulis tadi bukan buat karya ilmiah, cuma pingin narsis, katarsis atau yang serba isis. kecuali memamng bertujuan lain.
    Tapi ndak usah dipikirkan komentar seperti ini, nanti dianggap berteori.
    Asyik nambah3point oui

  3. Sesungguhnya dari beberapa status yang tidak/ belum nyambung bisa juga dirangkai menjadi sebuah tulisan. Saya kira itu bisa saja, Pak Urip Kalteng. Walaupun saya belum pernah melakukannya. Tapi sebuah status ternyata juga bisa dikembangkan menjadi sebuah tulisan. Yang ini bisa saya berikan contohnya. Silakan menuju ke: http://www.mrasyidnur.blogspot.com/2014/01/hati-hati-maulid-nabi.html Catatan itupun saya buat karena merasa sedikit buntu juga ide-ide baru. Akhirnya gagasan dalam status itu saja saya tulis. Jadilah seperti itu.

  4. Benar sekali, Pak Namin. Ternyata lamunan yang kata orang tidak berguna, bagi seorang blogger malah bermanfaat sekali. Itu bisa menjadi bahan tulisan berhalaman-halaman. Dia bisa menjadi laporan pandangan (perjalanan) kita dan bisa juga menjadi cerita yang dibuat dalam bentuk karya fiksi. heha, Pak Namin memang jagonya, kan? Salam sukses selalu, Pak.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar